“ Wanita…… dijajah pria……… “sejak dulu…..
Begitulah kira–kira bunyi salah satu sya’ir lagu Sabda Alam yang pernah
populer di negeri ini. Sya’ir dan lagu itu mencerminkan keadaan kaum wanita yang
selalu berada di bawah bayang – bayang kaum pria diberbagai sektor kehidupan.
Termasuk didalamnya bidang pendidikan. Sampai akhirnya R.A. Kartini
" memecahkan “ tradisi tersebut lewat sejarah yang dapat kita baca dalam bukunya
“ Habis Gelap Terbitlah Terang “. Perjuangan R.A Kartini ternyata tidak sia – sia. Hampir di segala sektor peran
wanita tidak bisa diabaikan begitu saja. Mereka telah menjelma menjadi kekuatan
tersendiri yang memang sudah selayaknya mereka dapatkan. Bahkan dalam bidang
informasi dan perpustakaan, dominasi wanita sangat kentara.
Hal ini dapat
dilihat pada laporan hasil penelitian Ibu Siti Sumarningsih. M. Lib, ketua
Jurusan Ilmu Perpustakaan FSUI. Penelitian dengan judul “Dominasi Wanita dalam
Profesi Informasi “ itu disosialisasikan di lembaga Penelitian Universitas
Indonesia ( 19/6’01 ) Penelitian yang dilakukan dengan menyebarkan kuesioner sebanyak 110 lembar
pada karyawan PDII dan Perpustakaan Nasional itu menyimpulkan bahwa profesi
bidang ini masih didominasi wanita dengan jumlah terbanyak berpendidikan
sarjana diluar ilmu perpustakaan dan informasi. Hal ini menyebabkan tingginya
jumlah responden untuk mendapatkan pendidikan nion formal dn penambahan pengetahuan bidang teknologi informasi.
Banyaknya jumlah karyawan wanita dalam bidang ini ternyata berhubungan dengan
kurikulum pendidikan bidang ini.
Menurut Olson dan Samek ( 1995 ) perbandingan
mahasiswa wanita dan pria sangat bergantung pada kurikulum yang diberikan di
perguruan tinggi. Pengetahuan dalm bidang informasi sangat luas, yaitu perlumengetahui dan mengerti proses bagaimana informasi diperoleh, diatur, disimpan
untuk dapat digunakan dan ditemukan kembali. Hal ini dapat dicerminkan lewat
kurikulum pendididkan bidang informasi. Pendapat Olson dan Samek memang tidak meleset. Di jurusan ilmu perpustakaan
FSUI sekarang ini, para mahasiswanya mayoritas wanita, hanya angkatan 2000 saja
jumlah mahasiswa pria dan laki – lakinya sama. Tetapi apakah hal ini akibat
penerapan kurikulum yangs sangat “ kewanitaan “ ? masih dipertanyakan.
(IP/AP/26-06-2001)
|