"...BUMI
DAN LANGIT BOLEH HILANG,
MANG UDJO MAH NGGAK BOLEH HILANG DENGAN ANGKLUNGNYA..."
Kalimat tersebut sempat terlontar ketika awak majalah PASoeNDAN mewancarai Mang Udjo
disela-sela kesibukannya, ketika menghibur para wisatawan baik dalam maupun yang datang
dari luar negeri. Menurut sejarahnya, keterlibatan Mang Udjo menggemari main angklung, itu
dimulai sejak beliau kecil. "Senengnya kenapa, pak ?" ketika ditanya awak BPPM.
Menurutnya angklung adalah alat permainan tradisional yang saat itu bisa ditukar dengan
jagung, pisang, kalo mau main atau mendapatkan alat musik angklung." Ujar Mang Udjo
yang memiliki 10 putra-putri ini.
Sebenarnya Mang Udjo pun memiliki keahlian memainkan alat musik tradisional lain seperti
kecapi, keterlibatannya yang optimal dalam seni musik tradisional diwarisi oleh darah seni
yang mengalir dari kedua orang tuanya. Kemampuannya memainkan alat musik angklung adalah
karena ia belajar dari orang kampung di sekitar rumah Mang Udjo yang biasa menyatukannya
dengan nuansa-nuansa sentuhan lagu-lagu sunda, sedangkan Mang Udjo mengakui bahwa ia juga
belajar musik angklung dari Pak Daeng Sutisna untuk memainkan lagu-lagu Indonesia. Hingga
sekarang Mang Udjo masih menggeluti kesenian angklung ini dan berencana untuk mewariskan
keahlian memainkan alat musik angklung ini kepada anak-anaknya, ujarnya.
Saung Mang Udjo sebagai tempatnya mengeksplorasikan alat musik angklung dengan nuansa
musik lain yang ada sekarang telah lama berdiri, 1967. Awalnya membuat alat-alat seperti
angklung dari tahun 1958 dan tahun 1965 hingga 1966 membuat angklung Sunda untuk dimainkan
dan di tahun 1967 membuat angklung Indonesia untuk turis.
Lelaki tua yang mempunyai janggut cukup panjang berwarna putih ini pun menegaskan bahwa di
dalam pembuatan angklung hingga berdirinya saung, kendala yang datang cukup banyak,
diantaranya keamanan. Di dalam proses pembuatan angklung Mang Udjo menyediakan lahan
dibelakang rumahnya dan hasilnya dijual kepada wisatawan asing maupun wisatawan dalam
negeri.
Kesibukan aktivitas yang dijalaninya, memmbuat awak BPPM sendiri sangat sulit untuk
menemui Mang Udjo, ini dikarenakan kesehatan di usianya yang terbilang lanjut tersebut
sering terganggu. Kata anaknya Nan Udjo ketika ditemui di saung Mang Udjo yang dipenuhi
dengan bambu yang cukup rindang dan tumbuh disekitar halaman rumahnya membuat sejuk dan
teduh bagi orang yang ingin menikmati keindahan suasana disekitar saung Mang Udjo ini.
Tetapi, karena keinginan besar awak BPPM yang ingin mewawancarainya keesokan harinya dapat
menemui pak udjo, sambil berbaring dikasurnya saat ditemui di rumahnya.
Kreativitas Mang Udjo dalam karya-karyanya yang eksploratif atas kemajuan dunia musik
kontemporer terlihat ketika pada tanggal 6 agustus waktu lalu kesenian angklung Mang Udjo
hadir secara bersama dengan Sherina, penyanyi cilik di sasana budaya ganesa, dimana musik
yang ditonjolkan adalah perpaduan dari kesenian tradisional angklung Mang Udjo dan
lagu-lagu Sherina yang bercirikan pop.
Harus diakui bahwasannya kesenian tradisional dengan pemakaian alat-alat musik daerah yang
natural seperti halnya angklung ini jarang sekali diberikan perhatian khusus untuk
pengembangannya. Dalam pengertian, orang yang ingin menggeluti atau menaruh simpati
terhadap eksplorasi alat-alat musik tradisional ini terbilang sangat minim.
Kecenderungannya adalah lebih senang menggeluti musik barat yang lebih m,engandalkan
kemajuan teknologi. Seperti apa yang dipesankan oleh Mang Udjo kepada para generasi muda,
yang olehnya cintailah budaya sendiri, kalo udah mencintai kan bisa dipakai apa saja,
sherina yang sudah terkenal aja kesini, kata Mang Udjo sambil berbaring di kasur tempat
tidurnya. (Heru-Tanti-Evi). |