Tawaran Bisnis Internet

Dijamin elo nggak akan rugi. Duwit mengalir terus seperti punya tuyul.

Program Kamus Gratis

Download Gratis Program Kamus Indonesia-Inggis dan Inggris-Indo.

 

Ingin Punya Gaji Buta?

Penghasilan mengalir terus tanpa perlu bekerja keras.

 

Pemasang Iklan Disini

   
HOME
BULETIN
PERS PAMFLET
EDISI 1
EDISI 2
Pasoe ndan
DAFTAR ISI

EDITORIAL
LAPORAN UTAMA

ARTIKEL UTAMA
ARTIKEL BEBAS
CAKRAWALA ISLAM
RESENSI

SUARA PEMBACA

KOLOM
KULTUR
OTRETAN
WADAH
KAMPUSKU

[ BPPM HOME ]
[ LENGKONGBERSATU ]

Nyatakanlah Kebenaran Bukan Membenarkan Kenyataan.
RUBRIK KULTUR -
ANGKLUNG DI SAUNG MANG UDJO.
Oleh: Redaksi

"...BUMI DAN LANGIT BOLEH HILANG,
MANG UDJO MAH NGGAK BOLEH HILANG DENGAN ANGKLUNGNYA..."

Kalimat tersebut sempat terlontar ketika awak majalah PASoeNDAN mewancarai Mang Udjo disela-sela kesibukannya, ketika menghibur para wisatawan baik dalam maupun yang datang dari luar negeri. Menurut sejarahnya, keterlibatan Mang Udjo menggemari main angklung, itu dimulai sejak beliau kecil. "Senengnya kenapa, pak ?" ketika ditanya awak BPPM. Menurutnya angklung adalah alat permainan tradisional yang saat itu bisa ditukar dengan jagung, pisang, kalo mau main atau mendapatkan alat musik angklung." Ujar Mang Udjo yang memiliki 10 putra-putri ini.
Sebenarnya Mang Udjo pun memiliki keahlian memainkan alat musik tradisional lain seperti kecapi, keterlibatannya yang optimal dalam seni musik tradisional diwarisi oleh darah seni yang mengalir dari kedua orang tuanya. Kemampuannya memainkan alat musik angklung adalah karena ia belajar dari orang kampung di sekitar rumah Mang Udjo yang biasa menyatukannya dengan nuansa-nuansa sentuhan lagu-lagu sunda, sedangkan Mang Udjo mengakui bahwa ia juga belajar musik angklung dari Pak Daeng Sutisna untuk memainkan lagu-lagu Indonesia. Hingga sekarang Mang Udjo masih menggeluti kesenian angklung ini dan berencana untuk mewariskan keahlian memainkan alat musik angklung ini kepada anak-anaknya, ujarnya.
Saung Mang Udjo sebagai tempatnya mengeksplorasikan alat musik angklung dengan nuansa musik lain yang ada sekarang telah lama berdiri, 1967. Awalnya membuat alat-alat seperti angklung dari tahun 1958 dan tahun 1965 hingga 1966 membuat angklung Sunda untuk dimainkan dan di tahun 1967 membuat angklung Indonesia untuk turis.
Lelaki tua yang mempunyai janggut cukup panjang berwarna putih ini pun menegaskan bahwa di dalam pembuatan angklung hingga berdirinya saung, kendala yang datang cukup banyak, diantaranya keamanan. Di dalam proses pembuatan angklung Mang Udjo menyediakan lahan dibelakang rumahnya dan hasilnya dijual kepada wisatawan asing maupun wisatawan dalam negeri.
Kesibukan aktivitas yang dijalaninya, memmbuat awak BPPM sendiri sangat sulit untuk menemui Mang Udjo, ini dikarenakan kesehatan di usianya yang terbilang lanjut tersebut sering terganggu. Kata anaknya Nan Udjo ketika ditemui di saung Mang Udjo yang dipenuhi dengan bambu yang cukup rindang dan tumbuh disekitar halaman rumahnya membuat sejuk dan teduh bagi orang yang ingin menikmati keindahan suasana disekitar saung Mang Udjo ini. Tetapi, karena keinginan besar awak BPPM yang ingin mewawancarainya keesokan harinya dapat menemui pak udjo, sambil berbaring dikasurnya saat ditemui di rumahnya.
Kreativitas Mang Udjo dalam karya-karyanya yang eksploratif atas kemajuan dunia musik kontemporer terlihat ketika pada tanggal 6 agustus waktu lalu kesenian angklung Mang Udjo hadir secara bersama dengan Sherina, penyanyi cilik di sasana budaya ganesa, dimana musik yang ditonjolkan adalah perpaduan dari kesenian tradisional angklung Mang Udjo dan lagu-lagu Sherina yang bercirikan pop.
Harus diakui bahwasannya kesenian tradisional dengan pemakaian alat-alat musik daerah yang natural seperti halnya angklung ini jarang sekali diberikan perhatian khusus untuk pengembangannya. Dalam pengertian, orang yang ingin menggeluti atau menaruh simpati terhadap eksplorasi alat-alat musik tradisional ini terbilang sangat minim. Kecenderungannya adalah lebih senang menggeluti musik barat yang lebih m,engandalkan kemajuan teknologi. Seperti apa yang dipesankan oleh Mang Udjo kepada para generasi muda, yang olehnya cintailah budaya sendiri, kalo udah mencintai kan bisa dipakai apa saja, sherina yang sudah terkenal aja kesini, kata Mang Udjo sambil berbaring di kasur tempat tidurnya. (Heru-Tanti-Evi).

.
[ kembali keatas ]

1