Soebadio
Sastroatomo
"Orde Baru dan Perubahan"
Menurut Bapak, apa penyebab jatuhnya
rezim Orde Baru?
Ya, karena kita sudah merdeka, kita menjadi dijajah lagi. Dia jual bangsa kita kepada
orang asing.
Dia Soeharto?
Ya, itulah seperti halnya dosomuko itu.
Tapi kita sekarang sudah terlepas dari soeharto ?
Tidak, belum terlepas. Kalau kita tidak hati-hati ia akan kembali berkuasa.
Jadi solusinya menurut bapak bagaimana ?
Pemuda dan mahasiswa membuat jangan sampai soeharto berkuasa lagi. Itu kewajiban
kita.Untuk itu kita harus membentengi diri. Seperti contah dalam penyaluran sembako harus
sampai ke desa-desa. Dan itu yang menggerakan mesti rakyat, bukan gerakannya penguasa.
Yang ada sekarang ini adalah penguasa bukan pemimpin. Maka dari itu penguasa mesti diganti
dan kulturnya dihilangkan,sebab kultur penguasa itu akunya nomor satu, bukan
rakyatnya.Tetapi bukan hanya itu saja tetapi sistemnya yang diganti. Semua diganti sampai
akar-akarnya.Saya ngomong kepada Amien Rais, Amien Rais , saya ada amanat dari Sudjatmoko,
apa yang dia belum selesaikan, kita yang masih hidup ini harus menyelesaikannya. Amien
Rais itu ingat, sebab Sudjatmoko itu meninggal dipangkuannya, makanya ....
Dia sadar ?
Ya, dia sudah lama menyadarinya, tetapi itu memerlukan kekuatan rakyat. Makanya dia tidak
mau dipermainkan oleh Soeharto dan antek-anteknya Soeharto.
Dan sekarang dia akan berjuang sendiri ?
Bukan berjuang sendiri, dengan rakyat dia akan berjuang
Kalau melihat cita-cita Founding father sendiri bagaimana ?
Itu jelas sekali, ketika terjadi kekosongan kekuasaan dulu, kita sudah mengantisifasi
kekosongan kekuasaan tersebut, Syahrir dan saya pada waktu itu. Jadi ketika suatu hari
perang fasifik berakhir, si Jepang yang kalah masih menduduki kita, si sekutu yang menang
belum sempat menduduki pada saat kekosongan. Kita isi kekosongan itu, cita-cita menjadi
kenyataan, yang tadinya kosong kita isi dengan kemerdekaan. Tetapi sekarang ini, dia
(soeharto ) tidak sadar, setelah merdeka, kemerdekaan yang kita capai malah disalahgunakan
untuk memperkaya diri. Jadi Founding Father itu adalah mengisi kekosongan dengan kemampuan
dirinya sendiri.
Jadi tidak minta bantuan orang lain ?
Ya, tidak mengemis kepada orang lain,apalagi sama IMF
Format Indonesia baru sendiri menurut bapak seperti apa ?
Indonesia yang tidak mengemis kepada bangsa lain. Kita adalah satu-satunya bangsa
diseluruh dunia yang tidak mengemis kemerdekaan cuma bangsa indonesia, kita rebut sendiri
kemerdekaan ini, kita ambil, Sahrir dan saya saat itu, meskipun dia masih sempat menunggu
kapan, jadi orang lain kerjasama dengan jepang, termasuk Hatta dan Soekarno, Syahrir
berpikir, nanti kalau terjadi kekosongan kekuasaan kita isi dengan kenyataan kemerdekaan,
meskipun pada saat itu banyak pihak yang menawarkan bantuan, seperti Hoching min. Tetapi
Syahrir bilang, tidak. Kita akan berjuang sendiri, tidak dengan bantuan orang lain. Kalau
Hoching min maunya sama-sama dia bikin negara komunis. Tetapi kita tidak mau. Bahkan kalau
perlu kita yang membantu negara-negara lain seperti Vietnam. Dan sekarang harus kita
buktikan bukan hanya omong kosong.
Bagaimana harapan bapak untuk Indonesia masa depan ?
Lho, bukan harapan, kita harus berjuang bersama-sama untuk mengisi kemerdekaan ini, bukan
dijual seperti yang dilakukan rezim orde baru.
Bapak sendiri bagaimana ?
Kalau saya gampang saja, saya akan berhenti berjuang kalau kedaulatan sudah ditangan
rakyat.
Barangkali bapak mempunyai pesan dan harapan untuk mahasiswa dan pemuda kita !
Isilah kemerdekaan dengan benar, karena itu adalah kewajiban kita. Seperti cita-cita
dahulu para Founding Father kita.Supaya tidak mengemis sama bangsa lain. Kemudian adakan
perubahan, sebab pemuda dan mahasiswalah yang hanya bisa mengadakan perubahan. Kalau
tidak, maka tidak akan pernah ada perubahan. Sebab dari dulu-pun pemuda dan mahasiswalah
yang mengawali perubahan seperti Hatta, Soekarno, Syahrir mereka semuanya pemuda.( Zek/
Dri )
Martin
" NU dan Pasca Orde Baru "
Menyikapi terbentuknya PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) oleh warga NU, menurut Anda apakah
NU sebagai ormas akan kembali menjadi parpol? Apakah hal itu tidak melanggar Khittah 1926?
Ini, saya belum clear dengan orang yang punya hak bicara atas nama NU.
Secara formal saya kira NU sebagai ormas tetap pada khittah1926, tapi ada orang-orang NU
yang dari dulu boleh di GOLKAR, PPP, mereka sekarang mendirikan parpol (namun itu pun
bukan partai NU). Soal melanggar atau tidak, saya kira itu maslah interpretasi. Kalau pun
ada orang-oarang NU yang ingin meyalurkan aspirasinya lewat wadah yang masih kental
ke-NU-annya, saya pikir itu wajar saja karena mereka merasa tidak bisa terwakili oleh
partai-partai lain.
Menurut Anda, kenapa orang NU senang sekali dengan politik? Apakah tidak mungkin dirinya
melepaskan diri dari politik?
Ya...Memang dari dulu kan keberadaan NU sebagai parpol yang penting
sekali. Dan justery langkah kembali ke Khittah (pada tahun 1883-1984) itu adalah suatu
tindakan politik. Pada saat itu sebetulnya mereka melepaskan diri dari struktur
kepolitikan ORBA. Dan itu memberi kebebasan lebih banyak untuk bergerak di bawah, untuk
mengembangkan aspek-aspek yang lain. Kita lihat, setelah mereka kembali ke Khittah, tumbuh
usaha untuk mengembangkan intelektualisme Islam, usaha pengembangan masyarakat, dsb. Dan
saya melihat itu sebagai langkah yang sangat positif. Tapi dalam situasi seperti ini,
ketika orang bertanya apakah suara saya akan terwakili (pada saat PEMILU), maka dapat
dimengerti kalau orang NU banyak yang ingin memiliki wadah untuk mereka sendiri bila
mereka merasa partai-partai yang lain tak sepenuhnya mewakili aspirasi mereka. Tapi, saya
lihat hanya sebagian orang NU yang akan masuk partai NU. Sebab saya melihat, ternyata
partai ini adalah partai yang primodial meski dirancang sebagai partai yerbyka seperti
yang mereka harapkan, agar orang non Islam pun bisa bergabung dengan partai itu. Saya
melihat banyak orang orang NU sekarang sudah tidak seperti orang NU dulu. Ada banyak orang
perkotaan berpendidikan modern, mereka mungkin akan lebih tertarik pada suatu partai yang
memiliki program politik yang jelas, memiliki ideologi yang politik, bukan ideologi yang
agama thok!
Anda melihat ada ambiguitas di partai ini (PKB, red.)?
Saya tidak berani menjawab, karena saya belum sempat bicara dengan
tokoh-tokohnya, hanya mengamati saja.
Kira-kira dengan berdirinya PKB ini apakah ini sebuah radikalisasi?
Nggak...Saya kira dalam proses keterbukaan seperti ini, ketika orang
mengharapkan perubahan pemikiran, itu jelas memunculkan harapan untuk mencari partai yang
paling cocok, yang menyitir perubahan sesuai dengan kehendak mereka.(DQ)
Goenawan
Muhammad
Perspektif tentang Pers era mendatang
Keberadaan pers sebagai yang paling signifikan barangkali adalah sebagai social control.
Namun semasa Orde Baru fungsi tersebut tak dapat berjalan secara optimal lantaran terlalu
hegemonik kekuasaan dalam melakukan intervensi terhadap kebebasan sosial-ekonomi-politik
rakyat. Hal ini diindikasikan dengan tumbangnya media pers yang kritis dan aspiratif
secara marak. Salah satunya adalah majalah Tempo yang dinahkodai Goenawan Mohammad. Nama
Goenawan Mohammad mencuat ketika terjadi pembredelan majalah Tempo yang dipimpinnya.
Sebagai salah satu maestro pers Indonesia Goenawan Mohammad bercerita banyak mengenai pers
dan persoalan bangsa lainnya kepada kru "JAM" di rumahnya :
Bagaimana kondisi budaya politik di Indonesia sekarang ? Adakah perubahan dari kondisi
Feodal-Paternalistik?
Saya kira belum ada. Sebab perubahan perilaku itu memerlukan waktu, dan
juga memerlukan perubahan institusi itu sendiri. Selain itu, perlu pula perubahan sistem.
Kemerdekaan dan keberanian pun perlu ditumbuhkan dan ditingkatkan di kalangan bawah.
Soal kebebasan pers pasca Soeharto, menurut Anda adakah perubahan yang berarti?
Ada yang berarti(meskipun belum dilembagakan). Misalnya, sekarang ada
aturan yang menyebutkan bahwa Menpen sekarang tidak bisa lagi mencabut SIUPP.
Soal keharusan pemberian lisensi bagi wartawan, bukankah itu secara tak langsung justeru
akan memudahkan pemerintah untuk kembali mengontrol lebebasan pers?
Persis! Itu akan memudahkan pemerintah untuk mengontrol kembali
kebebasan pers. Dan saya sangat tidak setuju dengan hal itu!
Bagaimana dengan usulan peniadaan Departemen Penerangan?
Saya kira Pak Yunus Yosfiah itu visinya bagus, namun tidak mengena.
Karena banyak orang yang akan menganggur. Tapi Departemen Penerangan itu mesti diperbaiki,
mesti menjadi juru penerang bagi masyarakat tentang program-program pokok pemerintah,
bukan menjadi alat propaganda. Misalnya tentang perpajakan, KB, perlunya Tatib Lalu
Lintas, penjarahan, permusuhan etnis, dsb. Itulah tugas Departemen Penerangan. Namun ini
tidak dikerjakan dengan baik. Sebab pada masa pemerintahan Soeharto hanya dijadikan
sebagai alat propaganda pemerintah. Maka sebetulnya tugas dan peran Departemen Penerangan
pun mati. Apalagi dibebani tugas sebagai tukang sensor.
Yang mengontrol pers itu nantinya siapa?
Dewan Pers, Dewan Kehormatan Wartawan, organisasi wartawan, dan
masyarakat pembaca.
Menurut Anda, Format Indonesia baru itu seperti apa?
Nggak tahu, ya...Saya belum berpikir ke arah sana.
Harapan-harapan Anda dengan kondisi pers Indonesia mendatang?
Pasti harapan-harapan yang baik. Pers merupakan bagian dari
lembaga-lembaga yang lain. Selama masih belum demokratis, tentunya masih berbahaya. Pers
pun harus direformasi. Pengadilan yang adil dan transparan harus ditegakkan, perlunya
keterbukaan, dan perlunya mengatur hubungan antar orang (ini berkaca dari kasus perkosaan
etnis). Hukum pun akhirnya tidak berjalan (misalnya, banyaknya kasus penyogokan).
Pesan-pesan Anda buat para demonstran?
Kalian pasti suka ikut demontrasi, kan? Sebenarnya demonstrasi itu
bagus untuk kemenangan revolusi kemarin. Tapi setelah revolusi itu kan harus memahami
proses politik . Penyelesaian soal-soal kemasyarakatan, kenegaraan, tidak hanya melalui
demonstrasi, tapi lewat kemenangan publik pula. (Ira/Qut
Muhammad
AS Hikam
" Legitimasi politik dari rezim Habibie belum solid "
Bagaimana anda menyikapi kondisi sekarang?
Pertama-tama, sebagai pengamat politik, saya melihat legitimasi politik dari rezim Habibie
belum solid. Artinya belum bisa menciptakan pulihnya kepercayaan publik, baik dari dalam
maupun dari luar negeri. Sehingga upaya penanganan krisis-pun (ekonomi-red) akhirnya
berlarut-larut. Dengan demikian kondisi seperti sekarang tidak akan terjadi kalau
self-confidence dan Public confidence dari rezim ini sudah muncul. Sementara realitas yang
terjadi justru sebaliknya. Menteri-menterinya saja sudah kacau. Lihat saja AM Saefudin
yang pernah ngomong 'penjarahan diperbolehkan'. Atau Tanri Abeng yang main pecat, iya toh?
Belum lagi Setnegnya yang tiba-tiba mau ngasih rumah pak Harto seharga 26 M. Dengan
perbuatan-perbuatan seperti itu, rakyat akan merasa dihina.
Lalu bagaimana agar dapat menemukan confidence tersebut ?
Kita perlu mempercepat Sidang Istimewa MPR yang kemudian memunculkan pemerintahan transisi
yang legitimate sebagai pemerintah alternatif yang baik. Untuk mencapainya, kita perlu
pressure terhadap MPR yang ada.
Class Actionnya siapa?
Ya dari kelompok reformis, dari mahasiswa yang dulu melakukan reformasi. Namun sayangnya
kedua kelompok ini sekarang sedang melemah yang kemudian mengakibatkan stagnasi. Mereka
kehilangan semacam kesatuan plattform reformasi mereka. Akhirnya mereka asyik dengan
permainanya masing-masing. Misalnya dengan cara membikin partai masing-masing dan kemudian
saling berebut jadi pemimpin. Akibatnya mereka tidak mampu menciptakan satu kolektivitas
yang dapat mempressure pemerintah dan MPR/DPR. Mahasiswa juga begitu. Setelah Soeharto
turun, split juga. Mahasiswa terjebak pada perbedaan esensi reformasi antara yang
mengartikan reformasi sampai suksesi dengan yang beranggapan bahwa reformasi belum
selesai. Kalau hal ini tidak segera diselesaikan, ya akan terus berlarut-larut.
Pemerintahnya 'nggak punya confidence pada masyarakatnya. Begitu pula sebaliknya,
masyarakatnya tidak punya confidence pada pemerintahnya. Kelompok yang seharusnya
melaksanakan reformasi ahirnya terpecah belah.
Jadi bagaimana format ideal dalam memunculkan Indonesia Baru ?
Kita harus berusaha sekuat tenaga supaya kelompok-kelompok yang melaksanakan reformasi
tadi bersatu lagi dan kemudian melakukan suatu tindakan yang betul-betul menyelamatkan
krisis ini. Hanya itu saja. Dan bila tidak bisa, maka kita akan melihat begitu berlarutnya
krissis ini.(El-bantany)
Maruli
Siregar
" saatnya kita ber-Revolusi Demokratik "
Bagaimana tanggapan anda akan kondisi yang terjadi di Indonesia sekarang?
Kondisi sekarang akan tetap begini selamanya jikalau kita tidak merubahnya, artinya
pemerintahan sekarang adalah pemerintahan yang "seharusnya tidak bisa
dipercaya", sebab merekapun sama halnya dengan antek soeharto.
Tetapi, bukankah sekarang sudah bergulir angin segar dalam beberapa kebijakan yang menuju
arah tuntutan Reformasi ?
Sebenarnya itu bukanlah Angin Segar yang dihembuskan oleh Pemerintah, tapi itu adalah
hasil perjuangan mahasiswa atau juga adanya tuntutan yang besar dari arus bawah. Dan
banyak diantara mahasiswa yang terlena oleh itu (colling down), karena Tanpa disadari oleh
kita kalau pemerintah sedang merekonsolidasi kekuatan di kondisi yang tenang akibat
kehabisan tuntutan. Mahasiswa merupakan lahan empuk permainan elit, karena terbukti ketika
Soeharto turun, kita sudah kehabisan isu. Padahal esensi perjuangan mahasiswa yang murni,
semakin terasa oleh seluruh elemen masyarakat. Contoh ketika banyaknya masyarakat yang
berdemonstrasi untuk keadilan, eh..mahasiswa malah meninggalkan mereka sendirian.
Bila demikian adanya, dimanakah peran mahasiswa dalam me-reformasi seluruh elemen
kebobrokan peninggalan Orde Baru ?
Sudah tidak lagi kita ber-reformasi, tapi saatnya kita ber-Revolusi Demokratik. Sebab
reformasi yang berawal dari top-down dari atas kebawah. Sama artinya rekonsilidasi sistem
yang sama dengan rezim. Tapi, saatnya Bottom-Up dari bawah keatas. Sehingga menyentuh
elemen terendah masyarakat dalam pen-demokratisasian.
Tidakkah hal tersebut bertentangan dengan nilai budaya timur ?
Budaya timur yang bagaimana ...dan bahkan kita ber-Budaya Darah. coba bayangkan, Indonesia
yang dilatar belakangi kerajaan, ditandai dengan penumpasan-penumpasan dalam merebut
kekuasaan. Contoh Ken Arok. Dan juga perjuangan menegakan perjuangan selalu ditandai
dengan darah ! sampai pada naiknya Soeharto-pun juga berdarah. Boleh ketika itu dibilang
satu yang mati (Arif Rahman). Tapi setelah itu, tiga juta orang yang tak berdosa mati
dibantai...belum lagi kasus Timot Timur, Aceh, dll. Jadi bagaimana tidak ber-darah..?
Lalu, bagaimana sikap yang seharusnya diambil oleh Mahasiswa dalam usaha menyelesaikan
sesegera mungkin krisis ini ?
Reformasi yang sudah ada ditandai dengan langkah counter attack oleh aparat pemerintahan
seperti istilah badut-badut politik dan sebagainya yang disengaja untuk mendiamkan
mahasiswa agar dapat mengkonsolidasikan kekuatan, yang nantinya dapat mematahkan kembali
aluran perbaikan tersebut. Namun, ketika nilai luhur perjuangan sudah merasuki grass root,
mahasiswa malah meninggalkannya. Karenanya, sudah saatnya kita tidak bermain kata lagi,
tapi berbuatlah pada usaha untuk Perlawanan, insure pemberontakan rakyat yang
mengembalikan Kedaulatan Rakyat. Benih-benih perlawanan itu terbukti ketika puncak
kekesalan akan tidak selesainya krisis moneter oleh pemerintah, dan itu diungkapkan ketika
14 mei.
Apa langkah yang dilakukan untuk terbentuknya kedaulatan ditangan rakyat ?
Untuk mewujudkan itu, kita perlu (1) merebut kekuasaan politik, (2) Nasionalisasi harta
konglomerat, (3) Sejahterakan Rakyat. Yang pertama adalah merebut kekuasaan politik yang
dikembalikan pada kedaulatan rakyat sepenuhnya. Dengan jalan membentuk Dewan Rakyat
Nasional, dimana beranggotakan perwakilan dari seluruh representasi propinsi. Misal Jabar
diwakili 1 orang yang asli dari daerah itu, sehingga paham betul akan kondisi daerah yang
bersangkutan. Disinilah nantinya akan tercipta kepercayaan. Tentunya ini adalah upaya
menuju arah Demokratisasi.
Bagaimana pandangan anda akan maraknya partai yang bercirikan demokrat ?
Pada dasarnya, maraknya partai merupakan jalan menuju demokratisasi. Jadi jangan lagi ada
pengekangan, sehingga nanti rakyat yang menilai. (Dhar)
|