Kampus:
Sebuah Sandaran dan Harapan?
Kampus sebagai institusi harapan masyarakat dalam mencetak sumber daya
manusia yang mempunyai kapabilitas, kapasitas intelektual yang tinggi, aktif, kreatif dan
berwawasan luas, sehingga dapat menghasilkan output yang berkualitas, humanis dan
kompetitif. Atau paling tidak ikut memberikan kontribusi dalam pembangunan masyarakat
sesuai dengan bidang keilmuan yang digelutinya. Tapi ternyata harapan itu berbeda dengan
kondisi sesungguhnya. Mahasiswa sudah lesu, jenuh bahkan menutup mata dan telinga terhadap
permasalahan yang ada disekitarnya.
Fisip Unpas juga tidak luput dari kondisi seperti itu. Mhasiswa yang
seharusnya menjadi corong kebenran, kaku untuk berbicara kebenaran, apalagi melakukan
tindakan untuk suatu perubahan. Padahal di Fusisp Unpas terdapat masalah yang butuh
keterlibatan mahasiswa secara aktif dalam mencari solusinya. Masalah kedisiplinan tenaga
pengajar, pelayanan administarsi, kenaikan SPP setiap tahun yang tidak diimbagi dengan
fasilitas dan banyak lagi permasalahan lainnya, yang belum satupun menunjukan titik
terang.
Dalam perkuliahan misalnya, hampir semua mahasiswa tahu masih ada dosen
yang jarang masuk, yang hanya memberikan photo copy, atau metode pengajaran dengan
mendikte ( sistem pendidikan gaya bank yang kapitalistik, Paulo Freire ) yang menghambat
proses berfikir dan kreativitas mahasiswa . Atau pelayanan administarasi yang lambat dan
menghambat proses akademik. Namun jika mahasiswa yang tidak mampu membayar uang kuliah,
terancam tidak ikut ujian bahkan jika tidak mampu melunsinya sampai dengan waktu yng
ditetapkan, nilai semester dinyatakan gugur.
Untuk mahasiswa baru misalnya, dihadapkan dengan "perubahan"
kenaikan SPP yang yang diperkirakan mencapai dua setengah juta rupiah, menurut Dekan Fisip
Unpas Dr. Hj. Ummu Slamah Msi, kenaikan itu disebabkan karena dari pegawai dan dosen untuk
mengimbangi kenaikan gaji PNS yang mencapi 30 %. Namun hubungan kaulisatif (hubungan
timbal balik) antara SPP disatu pihak dengan penyediaan fasilitas dilain pihak adalah
situasi yang ideal yang diharapkan bersama oleh yang memberikan fasilitas dan yang
difatitasi. "Yang menyangkut masalah finasial tidak bisa dubah, karena sudah
ditetapkan dan sesuai dengan hasil musyawarah," ujar Dekan Fisip Unpas. Berbeda
dengan Pembantu Rektor II Ir. H. Edi yusuf SP Msi yang mengatakan bahwa SPP sebenarnya
tidak pernah naik, yang ada hanyalah perubahan kebijakan. Namun term "perubahan"
itupun harusdiberikan tanda kutip. Misalnya, SPP jurusan HI yang masuk tahun 1998 adalah
p. 1.600.000, seterusnya tetap membyar sejumlah itu, jadi tidak ada kenaikan. Untuk tahu
2000, kebijaknnya berbeda, SPP untuk HI Rp 2.500.000, karena disesuaikan dengan kebutuhan
di fakultas.
Menurut Ketua BPM Fisip Unpas , Darul Quthni, untk memenuhi kebutuhan
mahasiswa dan pegawai serta dosen di fakultas, maka persentase bagian fakultas seharusnya
diperbesar, bukan hanya menaikkan SPP. Selama ini pembagian SPP untuk Fakultas adalah 56%,
termasuk didalamnya gaji dosen, fasilitas dan dana kemahasiswaan, sedangkan sisanya 44%
untuk Universitas dan Yayasan. Jika menaikkan SPP, memang porsi fakultas akan bertambah,
tetapi bagian uUniversitas dan Yayasan juga akan membengkak, padahal mereka juga mendapat
bagian dari setiap fakultas yanga ada di Unpas. "Jadi jangan SPP yang dinaikkan, tapi
perkecil bagian Universitas dan paguyuban ", ujar Darul dalam wawancarnya dengan
redaksi Lengkong Besar.
Banyak pihak berasumsi, untuk mengatasi masalah-masalah tersebut perlu
kekompakan dan kerjasama antara mahasiswa, lembaga kemahasiswaan dan dekanat. Namun
kenyataannya, masing-masing elemen tersebut terkesan berjalan
sendiri-sendiri(eksklusivisme). Salah satu contoh, sewaktu pertemuan dosen beberapa waktu
yang lalu, lembaga kemahasiswaan dan mahasiswa tidak diikutsertakan. Padahal dalam
pertemuan itu juga membahas tentang mahasiswa dan lembaga kemahasiswaan. Disini jelas
pihak dekanat belum menganggap mahasiswa dan lembaga kemahasiswaan sebagai mitra kerja
yang simbiotik-mutualitatif untuk sama-sama membangun Fisip Unpas, sehingga setiap
kebijakan yang dikeluarkan selalu terkesan sepihak dan tidak jarang ,merugikan mahasiswa.
Mahasiswa dalam konteks person juga menganggap bahwasannya
lembaga kemahasiswaan kurang peka terhadap aspirasi dan keluhan mereka. Masih ada Lembaga
Kemahasiswaan yang eksklusif, hanya terpaku pada program kerja Lembaga Kemahasiswaan. Ini
diaku oleh Hamid, Ketua Himpunan admnistrasi Niaga. "Saya akui kalau mahasiswa dan
Lembaga Kemahasiswaan kurang kerjasama, "ujarnya. Tapi dia juga mengatakan bahwa
Lembaga sudah berupaya untuk mewujudkannya. Faktor optimalisasi ? Wallahu Allam.
Darul Quthni membatah pendapat yang mengatakan, " hubungan antara
mahasiswa dan Lembaga Kemahasiswaan belum selaras, keduanya masih cuek. Padahal kami (
Lembaga Kemahasiswaan. Red ) sudah berusaha untuk merespons mahasiswa." Dari
pernyataan itu dapat kita lihat sifat membuka diri dari Lembaga Kemahasiswaan untuk
berinteraksi dengan mahasiswa. Tapi yang terjadi selama ini, usaha Lembaga Kemahasiswaan
untuk merspon mahasiswa dianggap angin lalu oleh mahasiswa itu sendiri.
Akibatnya, Lembaga Kemahasiswaan tidak mendapat dukungan dalam
menanggapi kebijakan-kebijakan elit Fakultas dsan Universitas yang merugikan mahasiswa.
Sungguh dilematis.
Dimas, mahasiswa HI ’98 membenarkan pernyataan Darul. Menurutnya,
Lembaga Kemahasiswaan sudah berusaha melakukan dengan mahasiswa, cuma usaha itu belum
dilakukan sepenuhnya. Dia juga mengatakan perlu adanya inisiatif dari Lembaga
Kemahasiswaan untuk melakukan komunikasi dengan mahasiswa. Karena melihat kondisi
mahasiswa yang apatis, sangat sulit mengajak mereka untuk berkomunikasi, apalgi
mengharapkan inisiatif dari mereka.
Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Fisip Unpas, Ahmad Zakyuddin
mengatakan, "sebenarnya bukan ketidakharmonisan yang ada di Fisip Unpas ini,
melainkan tidak adanya komunikasi diantara mahasiswa, Lembaga kemahasiswaan maupun Dekanat
atau Rektorat." Tapi dilihat dari pernytaan-pernyataan diatas, semua pihak mengaku
sudah membuka dirinya masing-masing, begitu pula dengan pihak Dekanat yang srudah sering
mendapat keluhan-keluhan mengenai situasi dan kondisi di Fisip Unpas. Bahkan Dekanat dan
Rektorat siap megadakan "dialog" dengan mahasiswa untuk membahas permasalahan
yang ada. Lembaga Kemahasiswaan tampakny tanggap terhadap fenomena ini. Dipelopori oleh
BPM, mereka akan mengadakan "dialog terbuka" untuk mahasiswa. Dialog yang
rencananya dilaksankan pada tanggal 13 Mei 2000 ini aakan membahas setiap permasalahan di
Fisip Unpas. Bagaimana tanggapan mahasiswa terhadap dialog ini, Apakah bebar-benar ada
perubahan setelah dialog ini? Kita tunggu saja.
.