|
|
|
| RUBRIK RENUNGAN EDISI 1
Th.1 1998 - |
MACHIAVELI INDONESIA DAN
REVOLUSI KAMPUS |
| Oleh : Darulquthni |
Entah kenapa orang takut terhadap Revolusi, sampai-sampai orang ngomong
saja dianggapnya makar dan mengganggu stabilitas. Ya, itulah sisa-sisa Orde Baru (ORBA)
yang memang masih melekat dalam realitas politik kita.Padahal sejarah dunia tidak selalu
berbicara masalah revolusi itu anarkis, berdara, boleh jadi Revolusi itu adalah
"obat" mujarab bagi terbangunnya tatanan sosio-politik yang demokratis. Glorius
Revolusi misalnya, sebuah revolusi tak berdarah yang berlangsung di Inggris tahun 1688.
Revolusi ini tidak lain merupakan konflik perebutan kekuasaan antara raja dan parlemen.
Raja James II dipaksa untuk turun tahta dan parlemen mengundang Puteri Mery bersama
suaminya Prince Wiliam of Orange untuk menjadi raja dan ratu Inggris.
Berbeda dengan Indonesia, jika parlemen Inggris mampu menggulingkan raja, maka MPR/DPR
kita malah menggulingkan hati nurani rakyatnya dengan tetap "manut-manut" dalam
mempertahankan status Quo rezim Soeharto dimasa ORBA. Barangkali ada yang salah dalam
kefavoritan wakil rakyat kita dengan terlalu mendewakan Nocollo Machiavellia, sehingga tak
salah jika mereka bisa kita juluki Machiavellia-machiavellia Indonesia. Karena memang
penggunaan segala cara untuk mempertahankan kekuasaan/jabatan adalah hal yang biasa selama
ORBA. Lalu bagaimana dengan kampus biru, perlukah revlusi, jika memang kondisinya seperti
Indonesia, mengapa tidak ! Toh jargon revolusi hanya akan selalu dipergunakan dalam lintas
retorika, klise oleh para penganut Machiavelli, sementara kedepan tantangan perubahan
sangatlah kompleks, dan tentu tidak ada mahasiswa Indonesia yang ingin menyesal terhadap
sejarahnya, bahwa ia pernah kuliah tetapi tidak pernah mendapat mukzijat keilmuannya,
karena semua elemen kampus terlalu gandrung pada Machiavelli, atau mungkin juga penganut
Karl Marx yang segala aktivitasnya hanya diukur untuk memaksimalkan keuntungan (laba)
sebagaimana Marx mengungkapkan dasar kapitalisme. Jika demikian, jika bukan karena amanah,
tetapi kekuasaan, maka mengapa tidak ? . |
[ kembali keatas ]
|
|