Tawaran Bisnis Internet

Dijamin elo nggak akan rugi. Duwit mengalir terus seperti punya tuyul.

Program Kamus Gratis

Download Gratis Program Kamus Indonesia-Inggis dan Inggris-Indo.

 

Ingin Punya Gaji Buta?

Penghasilan mengalir terus tanpa perlu bekerja keras.

 

Pemasang Iklan Disini

   
BULETIN LENGKONG BESAR  Dari Mahasiswa Untuk Pembebasan
DAFTAR ISI

Editorial
Bongkar Tema
Bongkar Artikel
Catatan Bebas
Bongkar Tokoh

Renungan

Suara Grassroot
Serba-Serbi
Wawancara

[ BPPM HOME ]
[ MEDIA ]
[ PROFIL ]
[ LINK ]


[ LENGKONGBERSATU ]
[ HIBURAN ]

RUBRIK EDITORIAL EDISI 1 Th.1 1998 -
INTERUPSI
Oleh Redaksi

Siapa yang tidak ngeri melihat berlangsungnya praktek-praktek anti kemapanan, saling provokasi, saling menyalahkan, dendan dikampus biru. Siapa yang tidak kecewa tatkala mhasiswa cukup hanya dijadikan konsumen dan objek pihak-pihak tertentu.Sementara niat, itikad baik, dan simbolime keramahan hanya bingkisan semu dibalik jaket kepentingan dan kekuasaan . Kalau sudah demikian, apakah masih ada peluang untuk lolos dari kemelut keadaan sebagaimana sejarah masa lalu telah banyak mencoreng moreng romantisme kampus? Bagaimana nilai-nilai religius begitu begitu saja luput dari hati nurani kita, padahal gembar-gembor kita memproklamasikan bahwa kampus biru adalah berasaskan religius, meskipun itu terlihat retoris, klise dan bualan belaka.
Agaknya intropeksi adalah merupakan jalan keluar, kemudian kebesaran hati adalah utama dalam membangun kampus, sebab siapapun juga tak akan mengelak bahwa tanpa tanggung jawab semua pihak, keterlibatan semua elemen, tidak akan ada romantisme psikologis kampus.
Sebagai langkah awal barangkali pihak dekanat dan dosenlah yang mesti mengawali pengawalan kampus dengan menempatkan jagoan amanah dalam setiap lingkup tugasnya, kemudian diikuti seluruh civitas akademik lainnya. Tidaklah berlebih-lebihan rasanya jika banyak pihak menginginkan kampus biru laksana sebuah keluarga, yang semua persoalan, ketidak puasan bisa dibicarakan bersama, dan membutuhkan nuansa kampus yang menebarkan pesona keramahan yang tidak dbuat-buat, serta mendambakan sentuhan nurani persaudaraan, baik antara mahasiswa, antara dosen yang notabene memiliki sense of education-dengan kata lain lebih mengedepankan nilai-nilai sebagai pengajar dan pendidik bukan sebagi pemeran drama yang nurut sesuai pembuat skenario -, antara birokrat kampus, baik rektorat, deknat, jurusan dan -termasuk- pejabat lembaga kemahasiswaan, yang tentunya memprakarsai nilai-nilai budaya pasundan yang islami. Pejabat/birokra yang akan memberikan suri tauladan sebagai pemimpin bukan sebagai pmain sirkus yang menghibur orang lain hanya sementara atau bahkan politikus picisan yang nemplok mengeruk keuntungan pribadi atau golongannya. Yang berikutnya terjalin pertautan hati antara elemen yang ikut menghidupkan ruh kampus biru

.

[ kembali keatas ]

 

1