|
|
|
| RUBRIK EDITORIAL EDISI
1 Th.1 1998 - |
| INTERUPSI |
| Oleh Redaksi |
Siapa yang tidak ngeri melihat berlangsungnya praktek-praktek anti kemapanan, saling
provokasi, saling menyalahkan, dendan dikampus biru. Siapa yang tidak kecewa tatkala
mhasiswa cukup hanya dijadikan konsumen dan objek pihak-pihak tertentu.Sementara niat,
itikad baik, dan simbolime keramahan hanya bingkisan semu dibalik jaket kepentingan dan
kekuasaan . Kalau sudah demikian, apakah masih ada peluang untuk lolos dari kemelut
keadaan sebagaimana sejarah masa lalu telah banyak mencoreng moreng romantisme kampus?
Bagaimana nilai-nilai religius begitu begitu saja luput dari hati nurani kita, padahal
gembar-gembor kita memproklamasikan bahwa kampus biru adalah berasaskan religius, meskipun
itu terlihat retoris, klise dan bualan belaka.
Agaknya intropeksi adalah merupakan jalan keluar, kemudian kebesaran hati adalah utama
dalam membangun kampus, sebab siapapun juga tak akan mengelak bahwa tanpa tanggung jawab
semua pihak, keterlibatan semua elemen, tidak akan ada romantisme psikologis kampus.
Sebagai langkah awal barangkali pihak dekanat dan dosenlah yang mesti mengawali pengawalan
kampus dengan menempatkan jagoan amanah dalam setiap lingkup tugasnya, kemudian diikuti
seluruh civitas akademik lainnya. Tidaklah berlebih-lebihan rasanya jika banyak pihak
menginginkan kampus biru laksana sebuah keluarga, yang semua persoalan, ketidak puasan
bisa dibicarakan bersama, dan membutuhkan nuansa kampus yang menebarkan pesona keramahan
yang tidak dbuat-buat, serta mendambakan sentuhan nurani persaudaraan, baik antara
mahasiswa, antara dosen yang notabene memiliki sense of education-dengan kata lain lebih
mengedepankan nilai-nilai sebagai pengajar dan pendidik bukan sebagi pemeran drama yang
nurut sesuai pembuat skenario -, antara birokrat kampus, baik rektorat, deknat, jurusan
dan -termasuk- pejabat lembaga kemahasiswaan, yang tentunya memprakarsai nilai-nilai
budaya pasundan yang islami. Pejabat/birokra yang akan memberikan suri tauladan sebagai
pemimpin bukan sebagai pmain sirkus yang menghibur orang lain hanya sementara atau bahkan
politikus picisan yang nemplok mengeruk keuntungan pribadi atau golongannya. Yang
berikutnya terjalin pertautan hati antara elemen yang ikut menghidupkan ruh kampus biru.
|
[ kembali keatas ]
|
|