Koleksi Cerita Pendek Indonesia

Tentang Cerita Kehidupan, Kisah Cinta & Cerita Remaja

Sunday, May 29, 2005

Ahmed

Cerpen Zoya Herawati

Bocah sebelas tahun itu megap-megap. Dialihkan pandangannya dari semangkuk air yang kubawakan untuk membasuh mukanya. "Jauhkan!! Ah...jauhkan! Aku tak mau..."

Aku memandangnya iba. Kasihan, bocah sekecil ini telah menerima vonis terpisah dari ayah-bundanya akibat bencana. Ia belum tahu bahwa pada hari ditemukan di atas sebuah dahan pohon setelah air mengering, ia harus membuang seluruh kerinduannya kepada kampung halaman dan semua yang dicintainya.

Membawanya keluar dari daerah bencana bukan perkara mudah. Tiga hari tiga malam aku harus bersitegang dengan Komite Penyelamat Anak-Anak Korban Bencana.

"Tidak ada yang boleh dibawa dari daerah ini, apa pun alasannya!" ketua komite berkata meledak-ledak. Di sampingnya sang sekretaris mengangguk-angguk lemah.
"Ini bukan persoalan politik! Kemanusiaan! Cuma kemanusiaan!" aku membalas tak kalah kerasnya.
Ketua komite, laki-laki tambun dengan kumis lebat itu makin memelototkan mata ke arahku. Sesekali dialihkannya pandangannya kepada sang sekretaris, laki-laki kerempeng dengan air muka yang nyaris naif, dua bola mata yang ketakutan dan yang selalu berdiri dengan kepala menunduk.
"Sebenarnya apa kemauan Anda?" Ia mulai melunak.
"Aku ingin memberinya kehidupan yang lebih baik, setelah tahu ia papa, sebatang kara. Itu saja!" aku menjawab datar, mencoba menahan emosi.
"Anda tak memperlakukannya sebagai aset bukan?!" aku menambahkan.
"Maksudnya, Anda mencurigai saya menyelewengkan bantuan untuk anak-anak malang itu?! Jaga kata-katamu, Bung!" Suaranya kembali meninggi.
"Aku tidak mengatakan demikian, Anda sendiri yang memaknai maksudku!"
"Aku peringatkan Anda. Jangan mentang-mentang reporter bisa seenaknya menuduh, mengancam, atau yang lainnya!"

Dalam transaksi kali ini, aku memilih untuk mengalah. Dengan beberapa lembar ratusan ribu akhirnya ia mengizinkan aku membawa bocah lelaki itu pergi dari kamp pengungsian. Pada mulanya, bocah itu merasa senang ikut denganku. Sepanjang perjalanan ia menghabiskan beberapa batang coklat, sebungkus biskuit, dan beberapa kaleng soft drink, yang memang kubawa khusus untuk bekal selama beberapa hari di daerah bencana. Masalah baru timbul setelah tiba di Polonia dan pesawat delay selama lebih dari tiga jam. Ia mulai rewel dan merengek minta pulang. "Pulang... Pulang... Ayah... Bunda... Pulang...."

"Baik, kita pulang. Tapi tidak sekarang. Kita tunggu pesawat, ok?!"
Setengah mati aku membujuknya. Sempat pula menyelinap sebersit keraguan, dapatkah aku mengasuh seorang anak dengan jadwal kerja yang amat padat? Tetapi niatku mengalahkan segalanya. Aku ingin mengatakan pada bocah itu bahwa dunia tidak ikut berhenti berputar ketika semua yang ada di sekitarnya porak poranda. Baginya hidup harus terus berjalan.

Aku sendiri tak begitu jelas mengapa aku memilihnya untuk tinggal bersamaku, membawanya pergi ke tempat yang jauhnya ratusan kilometer dari daerah asalnya, dan mengajarinya tentang harapan-harapan masa depan. Ia menarik perhatianku karena kekuatannya menghadapi murka alam dan itu sudah cukup bagiku untuk mengajaknya tinggal bersama. Sebaliknya, di sisi lain, ia mengajariku satu hal bahwa orang tak harus menyerah apa pun yang dihadapinya. Di sepanjang perjalanan bocah itu sedikit pun tak bercerita tentang pengalamannya tersangkut berhari-hari di atas pohon. Sesekali, ia hanya mengangguk atau menggeleng bila kutanya sesuatu.

"Ahmed, selama di pohon bisa tidur enggak?" Ia memandangku dan menggeleng, matanya bekerjap-kerjap seolah menahan perih dan mungkin saja ia merasa aneh dengan pertanyaan tolol macam itu. Sesudahnya aku merasa gagal untuk menyingkap pengalaman-pengalamannya, mengetahui seluk-beluk saat ia mengalami mimpi buruk mungkin sepanjang hidupnya.

Aku singkirkan baskom berisi air, dan menggantinya dengan waslap sekadar menyeka mukanya dari debu dan keringat biar ia merasa lebih nyaman. Ketika tanganku mulai mengelap, ia memejamkan mata rapat-rapat dan meringis kesakitan. "Ahmed, kamu baik-baik kan?" Tanpa membuka mata ia menggeleng keras-keras hingga waslap di tanganku hampir jatuh dan dengan susah payah aku berhasil menangkapnya. Aku mendekat dan memeriksa wajahnya barangkali ada luka atau pasir masuk pada pori-pori kulitnya. Beberapa goresan kecil menghiasi pipi dan dahinya, barangkali terkena benda-benda tajam saat ia terombang-ambing air tak tentu arah. Ah, betapa berharganya waktu bagi bocah ini dan tentu saja bagiku yang kadang tak sempat menangkapnya dengan baik. Sering aku mengabaikannya untuk hal-hal yang sia-sia tanpa menyadarinya.

Beberapa hari berlalu tanpa perubahan apa-apa dari Ahmed. Ia masih sering berteriak-teriak, memukul-mukul wajahnya dengan tangannya, dan menyembunyikan pandangannya dari air. Kulihat tubuhnya lusuh akibat berhari-hari tak tersentuh air kecuali hanya dengan waslap. Sementara Bibi yang kugaji untuk merawatnya sudah mulai merasa bosan. "Saya mundur saja Mas, ndak sanggup. Bocah itu selalu rewel dan ulahnya bikin kesal," katanya suatu kali. "Bayangkan, ia berteriak kuat-kuat ketika saya berniat memandikannya dengan membawanya ke kamar mandi...."

"Biarkan dia nggak mandi Bi. Saya nanti yang akan menyekanya. Tugas Bibi hanya masak dan mencuci pakaian kami saja," kataku mencoba menahannya supaya tetap tinggal di rumah kami.

Di suatu kesempatan, ketika sedang off, aku menemani Ahmed. Kami duduk berdampingan di kursi rotan di ruang tengah, menghadapi sebuah buku dongeng. Sejak kedatangannya di rumah ini, tak sekali pun aku menyalakan televisi. Ahmed akan berlari menjauh dan berteriak keras-keras ketika tahu aku hendak menyalakan televisi. Mungkin ia kesal, takut, gelisah, atau entah apa namanya, menyaksikan hampir semua stasiun televisi menayangkan bencana maha dahsyat tersebut saat ia pertama kali hadir di rumahku.

"Ahmed," aku berputar-putar agak lama sebelum memulai percakapan di antara kami, karena sebenarnyalah aku benar-benar tak paham latar belakang bocah itu. Mengungkap keluarganya dengan mungkin bertanya apa profesi ayah-bundanya, tampaknya masih riskan.

Sekarang, beberapa menit kemudian, aku mulai mendapat titik terang ketika ia mulai mendekatiku, membolak-balik buku dongeng di tanganku. "Mana gambar surau?" celetuknya tiba-tiba. Suaranya mengandung kepedihan, aku merasa kerinduannya pada kampung halaman sudah tidak bisa dibendung.
"Kau bisa menggambar? Kita cari kertas dan bersama-sama kita gambar surau yang paling bagus, bagaimana?"
"Tidak mau. Aku mau surau yang ada dekat rumahku, yang ada dua pohon besar di halamannya, yang di depannya ada warung Mamak Ipah dan aku suka membeli gula-gula." Kepala bocah itu menggeleng keras-keras seraya dicampakannya kertas dan pensil dari tanganku. Aku mahfum, kualihkan perhatiannya dengan menghidangkan sekantung permen dan sekotak coklat. Aku ingin menghidupkan angan-angannya tentang gula-gula di warung depan surau. Ia memandangku sejenak, tangannya kikuk mengaduk-aduk kantung permen. Aku pura-pura tak melihatnya. Kualihkan pandanganku ke luar jendela. Jika hidup adalah rangkaian lakon, maka boleh jadi bocah ini telah kehilangan sebagian besar dari skenario dan setting yang pernah ditemuinya. Mudah-mudahan ia cukup tangguh menghadapi peradaban baru yang benar-benar berbeda dengan kampung halamannya.

Kukatakan demikian karena di sekitar perumahan tempat tinggalku tak ada surau, tak ada warung gula-gula, tak ada anak-anak mengaji seperti di kampungnya. Jika ini yang dikatakan kesulitan, maka aku setuju dengan ketua Komite Penyelamat Korban Bencana, meski mungkin masih bisa diatasi.

Kubiarkan ia menghabiskan hampir separuh dari coklat dan permen dalam kantung. Aku tidak tahu apakah saat itu hidupku bermakna atau tidak ketika memutuskan mengabdikan diri pada kemanusiaan dengan mengasuh Ahmed.
Senja merambat menuju malam, Ahmed mengucak-ucak mata sepertinya kantuk telah menguasainya. Kali ini aku tidak membimbingnya ke kamar tidur seperti biasanya. Aku ingin ia tahu bahwa tanpa aku, tanpa siapa pun, segala sesuatu akan berlanjut apa pun keadaannya. Ada kemajuan luar biasa dalam diri Ahmed. Ia tidak lagi takut tidur dalam gelap meski tak ada teman di sampingnya. Aku lega.
***

Ahmed berdiri di pintu kamar dengan celana dan kemeja agak kebesaran, aku tidak tahu pasti berapa ukuran bajunya ketika membelinya. Aku menunggunya di meja makan. Ada dua porsi salad instan, dua potong ayam goreng, berpotong-potong bawal goreng, dengan sambal kecap. Aku tidak tahu apa kesukaannya, tetapi dengan memberinya menu pagi itu aku berharap ia dapat sedikit melupakan hari-hari kemarin yang dimilikinya.
"Aku suka bawal goreng dan kecap. Bunda sering memasaknya untuk sarapan kami." Di luar dugaan ia berkata enteng tentang kenangannya bersama sang bunda. Giliran aku yang terkejut dengan apa yang kuhadapi. Apakah ini salah satu dari sekian cara anak-anak mengatasi masalah, berkelit dari kenyataan dengan tetap membangun masa lalu? Mungkin aku terlalu berlebihan.

Lahap sekali Ahmed menandaskan piringnya, seolah ia ingin merebut kenangannya kembali. Aku tersenyum mengangguk-angguk ke arahnya. Kami menghabiskan pagi dengan riang. Ia membantuku memasukkan peralatan kerja, tape kecil, kamera digital, pulpen, notes kecil, dan yang lain. Sigap aku menyalaminya. "Terima kasih kawan kecilku. Seminggu lagi libur semester selesai, dan kau boleh sekolah lagi di sekolah baru, ok!"

Kembali di luar dugaan ia menggeleng keras-keras. "Aku tidak mau! Aku mau sekolah dekat surau!" Aku mengangkat bahu, tetap tersenyum kepadanya. Ok! Aku berlalu sekadar memberinya kesempatan untuk "kembali" ke surau, tempat yang rupanya paling berkesan baginya.

Tetapi di sisi lain aku harus berbuat sesuatu baginya dan bagi surau dalam pikirannya. Padahal aku ingin mengatakan sesuatu kepadanya, bahwa obat mujarab kemiskinan adalah sekolah, meskipun aku sendiri belakangan ini tidak yakin dengan kesimpulanku sendiri. Banyak orang pintar bertoga yang tak berdaya dicengkeram mesin kekuasaan dan membiarkan kemiskinan di sekitarnya tinggal abadi. Memberinya surau, tentu saja aku tak mampu, sebab aku sendiri baru belajar tentang bagaimana mencari surau, mengenali, sekaligus memahaminya. Harus kuputuskan sesuatu!

Seminggu selepas perbincangan kami tentang sekolah dan surau, aku memutuskan untuk mengantarnya kembali ke tanah kelahirannya. Ketua Komite Penyelamat Anak Korban Bencana menyambutku dengan senyum sinis. Aku menahan diri tak bereaksi. Tanpa banyak kata, ia menerima kembali Ahmed yang segera membaur dengan teman-temannya di kamp pengungsian.
Seminggu kemudian, di layar televisi, aku melihat Ahmed berdiri di antara ratusan pengungsi. Ia tampak makin kecil di antara orang-orang asing dan para elit berdasi. ***

Surabaya, Februari 2005