Koleksi Cerita Pendek Indonesia

Tentang Cerita Kehidupan, Kisah Cinta & Cerita Remaja

Tuesday, April 05, 2005

Rimbi

Oleh: Gunawan Maryanto

LANG, PULANG. LENDHUT MATI. DIBAKAR ORANG. (PAPA)
Pesan singkat itu terlambat sampai padaku. Menyelinap di antara setumpuk pesan pekerjaan dan omong kosong. Entah dari mana Papa mendapatkan nomorku. Tak ada waktu untuk mempertanyakannya.

Oke. Aku pulang.
Hanya ada dua hal di kepalaku selama perjalanan. Papa dan Lendhut. Tapi dua hal itu sudah terlalu banyak untuk jarak tempuh yang rasanya sangat pendek ini. Mereka datang bergantian dan tak jarang saling tabrak seperti hendak merebutku dari gerbong kereta. Sementara Dixie Chicks di telingaku terus mengulang lagu tentang rumah yang jauh dan padang-padang rumput. Mereka semua pada akhirnya membuatku tak berada di mana-mana.

Aku meninggalkan rumah ketika ia sudah tak mendapat tempat lagi dalam kepalaku, demikian pula sebaliknya. Aku pergi beberapa hari sebelum ujian akhir di SMA-ku berlangsung. Beberapa hari sebelum pernikahan Papa dirayakan. Sepuluh tahun yang lalu.

Malam itu dengan sengaja aku merokok di depannya dengan harapan ia segera menamparku dan aku tak butuh lagi alasan buat pergi. Tapi ia cuma duduk diam di seberang meja. Ia bahkan tak menatapku. Mungkin aku hanya segulung asap tembakau.

Asap itu dengan cepat melesat dibawa angin ke tanah lapang. Mengental dan terpantul-pantul di rumputan yang tak rata dan sepasang kaki cokelat tua tanpa sepatu, entah datang dari mana, segera menyambutnya. Sepasang kaki itu dengan lincah memainkannya. Menggiring dan menjadikannya bola sepenuhnya.

Lendhut! Aku berteriak. Aku seperti mengenalnya. Sepasang kaki itu berhenti sebentar dan kemudian berlari mendekatiku. Hingga sepasang kaki itu berdiri tegak tepat di mukaku. Aku tahu itu Lendhut. Tapi bagaimana aku bisa memastikannya jika hanya sepasang kaki saja yang sanggup kulihat. Aku mendongak. Hanya langit.

Tak ada sms. Aku pesan kopi panas. Cirebon sudah lewat. Aku menggosok-gosok mataku yang pedih. Siapa yang membakarmu, Ndhut? Bagaimana mereka melakukannya? Aku berusaha mengingat seluruh hal tentang dirimu. Tapi hanya sanggup mengingat sepasang kakimu. Yang menggiring bola di tanah lapang. Dan yang mengayuh sepeda memboncengkanku pulang-pergi sekolah. Bagian dirimu yang lain, entah siapa yang telah merebutnya dariku? Atau aku memang telah meninggalkannya malam itu?

Kata Papa, Lendhut masih terhitung saudaraku. Bapak Lendhut adalah anak emas Yang Kung meski ia bukan anak kandungnya. Separuh tanah Yang Kung seluas seperempat kampung diberikan begitu saja pada Pakde Gito. Tapi tiga tahun kemudian tanah itu telah sama sekali bukan milik salah satu dari kami. Digadaikan Pakde di meja judi dan tak pernah tertebus lagi. Lalu mereka sekeluarga pindah sampai beberapa tahun kemudian Lendhut datang dan tidur di kamarku. Aku sudah lima tahun waktu itu. Dan ia tak pernah pergi-pergi lagi sampai aku pergi malam itu.

Jam enam pagi aku sampai di Jogja. Aku buru-buru masuk taksi dan taksi sudah serupa becak di kota ini -tawar-menawar harga, aku tak peduli. Aku pingin segera sampai rumah dan bertemu Lendhut.

Aku hampir-hampir tak mengenali lagi rumahku. Tiga buah tenda dipasang memanjang di jalan depan rumah. Kursi-kursi lipat dan orang-orang yang mesti kukenali lagi meski sebagian dari mereka langsung mengenalku begitu aku mendekat.

"Kapan datang, Lang?"
"Barusan. Mana Lendhut?"
"Masih di rumah sakit. Sebentar lagi paling sudah dibawa kemari. Aku juga belum lihat."

"Remuk, Lang," tambah Parlin. Atau Parmin. Aku tak yakin. "Aku tak bisa percaya bahwa tubuh hangus itu Lendhut."
"Persis lendhut tenan (lumpur beneran)!" celetuk seseorang di pojokan. Semua tertawa.

Jadi aku tak mendapat apa-apa. Selain kelakar dan Lendhut dibakar orang hingga mati di terminal. Sebagian bilang Lendhut maling. Sebagian bilang Lendhut berteman dengan maling. Tak penting. Yang penting Lendhut telah mati dengan cara maling.

Aku masuk ke dalam mencari Papa.
"Papamu ke rumah sakit," kata seseorang tanpa kutanya. Aku menuju bekas kamarku. Tak ada yang berubah. Seolah aku baru saja meninggalkannya tadi malam. Kuletakkan tas dan bergegas ke kamar mandi. Kamar mandi yang mengingatkanku pada kematian yang lain.

Kamar mandi menyembunyikanku dari kabar kematian. Memelukku dengan dingin seperti tengah berkeras menenangkanku. Dan seluruh peristiwa di hari itu, tepat di ulang tahunku yang keduabelas, seperti berlangsung dalam air. Lambat, tenang dan dingin. Aku tak sedikit pun ingin menangis.

Aku bangun kesiangan dan menemukan rumah sudah kosong. Selembar kertas di meja belajar: Papa dan Mama ke rumah sakit. Kalau lapar datang saja ke rumah Yang Ti. Papa.

Aku segera ke rumah Yang Ti, bukan karena lapar, tapi pingin tahu apa yang tengah terjadi sepanjang aku tidur. Tadi malam aku tak sempat ketemu Mama. Ketika Papa menjemputku dari sekolah, setelah seharian aku dan teman-teman sekelasku pergi ke Demak, Kudus dan Jepara, ia sudah tidur dalam kamarnya.

Yang Ti segera menyiapkan sarapan begitu tahu aku datang.
"Bapakmu ngantar Ibumu ke rumah sakit. Kau akan segera punya adik."

Aku jadi lapar dan segera ke meja makan. Brongkos dan telur rebus hangat. Di tengah-tengah aku makan Papa datang membawa tas pakaian Mama. Ia langsung mengajak Yang Ti ke belakang.

"Adik gimana, Pa?"
Papa tersenyum. Sedikit aneh. "Kamu maem yang banyak, ya," katanya. Aku sempat melihat ada bercak darah di tas itu. Aku melanjutkan makan tapi mulutku tak merasakan apa-apa. Aku mengambil nasi lagi.

Selesai aku makan rumah Yang Ti sudah penuh orang. Tetangga-tetanggaku. Aku tak tahu apa yang tengah mereka kerjakan. Tapi menurutku mereka tengah mempersiapkan sebuah perayaan. Papa mengecup keningku dan pergi lagi. Ke rumah sakit njemput Mama dan adik, katanya. Aku sedikit tak percaya.

Untung tak pernah ada yang rahasia bagi para tetangga. Dari mereka aku dengar adikku meninggal begitu dilahirkan. Dan Mama masih dirawat di rumah sakit. Aku pulang ke rumah sendirian. Mengunci diri di kamar mandi.

Sirene ambulan dan suara orang-orang. Suara kursi lipat dilipat dan disingkirkan. Suara orang mengaji. Aku masih bertahan di kamar mandi. Telanjang bulat sambil mengingat-ingat wajah Lendhut. Tapi wajah itu sudah terbakar jauh sebelum orang-orang di terminal itu membakarnya. Sekali lagi hanya sepasang kaki yang datang dan mengajakku berlari di tanah lapang.

"Lang. Lang!" suara Papa terdengar lebih tua dari yang seharusnya. Aku mengambil sebungkus rokok dari saku celana yang tergantung di pintu kamar mandi. Menyalakannya sebatang dan mengembalikan sisanya ke tempat semula.

"Sebentar, Pa. Aku belum bersiap menemui kalian."
Kamar mandi berkabut. Aku seperti berendam di Sipoholon. Sebuah tempat terjauh yang sanggup aku bayangkan sebagai pelarian.

"Lang, ikut sholat jenazah, nggak?" suara Papa memanggilku kembali.
Aku sholat bersama Lendhut. Di depan kami, tubuh Mama terbaring tenang diselimuti rapat-rapat kain batik Yang Ti. Ini adalah sholat jenazahku yang pertama. Tapi apa yang diajarkan Pak Budi, guru agama SD-ku, sama sekali tak berguna. Aku lupa seluruh bacaan dan tata caranya. Jadi aku hanya berdiri diam dan bersedekap sambil terus mengulang Al Fatihah. Kulirik Lendhut. Ia juga tak jauh berbeda.

Kami selesai ketika Papa berbisik di telingaku, "Lang, sholatnya sudah. Mamamu sudah mau berangkat."
"Lang, cepat. Lendhut sebentar lagi diberangkatkan." Aku memaksa diriku keluar. Ruangan tengah masih penuh pelayat. Aku menyelinap mendekati jenazah Lendhut. Papa tak ada di sana.

Lendhut terbujur di keranda, diselimuti kain hijau kusam dan huruf-huruf Arab yang tak terbaca lagi. Aku berdiri tepat di sebelah kepalanya. Berdoa setenang-tenangnya. Aku tak tahu telah berapa lama berdiri seperti ini. Juga berapa lama orang-orang itu telah bersabar menungguku selesai. Aku merasa baru saja selesai bermain bersama Lendhut. Berlarian di kebun belakang sambil memunguti rontokan melinjo di tanah dan membakarnya di tungku Yang Ti.

Seseorang menggamit tanganku dan menarikku ke belakang. Ia terus memegang tanganku. Beberapa lelaki muda segera bersiap di sisi-sisi keranda. Tanpa aba-aba mereka mengusung keranda itu keluar. Seluruhnya berlangsung dalam ketenangan yang luar biasa. Baru ketika keranda itu keluar aku menoleh pada seseorang yang masih memegang erat tanganku. Arimbi. Gusti Allah, kenapa demikian mudah aku melupakannya?

Arimbi adalah seorang raksesi, kata Mamaku. Raksasa putri. Maka ketika ada seorang gadis cilik memperkenalkan dirinya sebagai Arimbi aku langsung merasa diriku adalah Bima yang sedang dikejar-kejarnya. Bima yang seluruh tubuhnya merinding karena jijik dan takut. Tapi Lendhut sangat baik padanya. Mungkin ia adalah Kresna, si hitam, yang menjadi penghubung pertemanan kami.

Ia dan keluarganya tinggal di rumah seberang kebun belakang kami. Belum lama pindah dari kota. Ia tak punya saudara, katanya, tapi aku merasa ia punya banyak saudara. Paling tidak ia punya seorang kakak bernama Arimba. Dan ia menangis ketika pertama kali kubilang raksesi.

Tapi siang berikutnya ia sudah duduk di batu pagar melihat aku dan Lendhut bermain kelereng. Dua siang berikutnya ia sudah ikut bermain bersama kami. Lalu tanpa direncanakan kami menjadi tiga sekawan yang sepertinya tak akan terpisahkan. Bima-Arimbi-Kresna. Kebun belakang menjelma hutan Pringgandani. Semuanya harus tunduk pada perintah kami, kecuali tukang tebas melinjo. Selain membawa pisau, ia juga berani memanjat pohon melinjo. Kata Yang Ti, siapa pun yang jatuh dari pohon melinjo, serendah apa pun, ia tak akan selamat. Jadi mereka, sepasang suami istri yang selalu datang dengan sepeda dan karung plastik, adalah orang sakti, karena tak pernah jatuh dari pohon melinjo. Jadi kami hanya melihatnya dari bawah sambil mengumpulkan melinjo yang jatuh terlalu jauh dari pohonnya. Hanya merekalah, melinjo-melinjo yang kebanyakan masih hijau itu, hak kami selaku penguasa di sini.

"Mbi." Ia tertunduk. Aku hampir-hampir tak mengenalnya. Tangannya gemetar seperti menahan sesuatu. Sesuatu yang terus berjatuhan dari dalam tubuhnya. Sesuatu yang datang dari sebuah tempat bernama Pringgandani.

Kami, aku dan Rimbi pernah menikah suatu kali di kebun belakang. Lendhut merangkai mahkota dari daun nangka pertanda ia merestui pernikahan kami.

"Mbi, kenapa diam? Lendhut sebentar lagi berangkat. Kamu ikut mengantar, kan?"

Sesuatu terus berjatuhan dari dalam perutnya.
"Tidak, Lang. Kami tak akan ke mana-mana."
Jogjakarta, 2002/2004

Catatan:
Versi kedua dari Rimbi: Seperti Bunga Jatuh ke Tanah (Deep Space Blue and Testimony, AKYPress, 2002)