Koleksi Cerita Pendek Indonesia

Tentang Cerita Kehidupan, Kisah Cinta & Cerita Remaja

Sunday, March 06, 2005

Rajam

Cerpen Muhidin M. Dahlan

DI SIANG garang, di atas paha terbuka istrimu yang membelaimu lembut, kau melihat dari alam jauhmu sebuah kematian yang paling indah dan mencekam. Kematian seorang perempuan jalang.

Ya, seorang perempuan jalang, di lapangan kota, diseret digelandang dalam sebuah iring-iringan riuh. Mirip upacara keagamaan. Beduk-beduk, gending-gending, memekik memekakkan telinga. Ini bukan pasar atau ritual sunatan atau riuh mauludan saban tahun. Tapi riuh gending dan beduk ini adalah tabuh kematian. Sebentar lagi, sejelang lagi, akan tercetus kematian seorang perempuan jalang yang merobek-robek kesadaran beragamamu kelak di kemudian hari.

Di lapangan itu neraka jahanam didandani. Di lapangan itu sebentar lagi ulama-ulama tahkim kota akan menjatuhkan palu takdir kematian yang barangkali paling mengerikan jika dilihat dari sudut pandang perempuan jalang itu. Sudut pandang korban yang teraniaya karena ketakberdayaan membela diri atau berdebat tentang mana yang benar mana yang salah mana yang boleh mana yang tidak. Sebuah upacara kafarat. Semacam denda yang harus dibayar karena melanggar aturan Tuhan. Dan denda itu adalah darah yang berujung pada kematian. Rajam.

Dan perempuan jalang malang itu, terbersitkah dalam alam sadarnya bahwa dalam tabuhan beduk dan gending serta sorak riuh memekak itu bersemayam hantu kekejian dan keberingasan yang berzirah rubah kegelapan. Dan semua zirah itu berebut tempat tersembunyi dan kelam dalam jiwa manusia yang kemudian menyeradak keluar dengan cara yang tak terduga. Dan barangkali dengan cara yang tak masuk akal.

Di tengah lapangan, telah tersedia liang yang digali sepagi tadi. Sepinggulan dalamnya. Dan di sana dipancangkan sebilah bambu setinggi tombak pemburu babi. Bambu-bambu belahan yang dipotong pendek-pendek dan sebentangan tambang memagari lubang itu dalam jarak 10 kaki. Dibuat melingkar. Terukur dengan baik untuk sebuah penyiksaan brutal atas perilaku jalang. Atas nama kafarat. Dan nantinya drama ini bisa menjadi semacam nubuat yang gemuruhnya bisa tersesap dalam pori-pori, dalam alam sadar, bahwa hidup harus baik-baik saja. Kalau tidak, neraka jahanam akan terlalu sering digelar di lapangan kota atau di mana pun. Dan yang kena tak terkecuali. Siapa pun yang berani hidup jalang dan lancung.

Dan kematian itu bukan lagi semacam gertakan bagi perempuan jalang itu. Sebab dalam liang itu separuh tubuhnya ditanam. Sementara tangannya akan diikat melipat ke belakang berdempet dengan sebatang bambu yang berdiri meneguh dengan permukaan yang bersayat tajam. Cukup untuk melukai kalau tangan bergerak atau berusaha meronta. Dan batu-batu akan beringas menghujaninya.

Kau tak tahu, apa persisnya salah perempuan itu hingga beduk hari ini bertalu dan gending dipukul-pukul hingga muntah tak beraturan di cuping-cuping kuping.

Yang kau tahu, ini pun samar-samar dan belum bisa dijadikan pegangan yang pasti dan meyakinkan, perempuan jalang itu datang dari wilayah antah berantah. Dan di sebuah pagi, dia muncul begitu saja. Tapi bukan ini yang menjadi masalah, melainkan ulahnya berkitar-kitar di tengah kota. Dia berjalan seenaknya dengan tak satu pun kain membungkusi tubuhnya. Kotor dan menjinjikkan. Menyebarkan bau amis dan membuat muntah biri-biri yang berpapasan. Serupa sampah yang sudah berbulan-bulan tak pernah dibakar atau ditanam. Pun begitu bagi lelaki dewasa yang melihatnya tentu masih tersisa asyiknya tubuh kotor itu. Bagi anak-anak tentu tubuh lancung itu bisa menjadi semacam hiburan. Dan bagi perempuan-perempuan mulia dan beradab tentu menahan malu yang tak kepalang. Beberapa orang perempuan mulia pernah berpapasan lalu menyiramnya dengan air dari radius beberapa meter. Atau pernah suatu kali langsung menceburkannya ke sungai dan melemparinya kain.

Tapi itu tak bertahan lama. Beberapa hari kemudian dia akan kedapatan di tengah kota berjalan tanpa balutan secarik pun kain. Dan tingkah lakunya makin lama makin tak senonoh. Dia tak segan-segan menari-nari di pasar dan kemaluannya digosok-gosokkan di tiang umbul-umbul. Atau berjingkrak-jingkrak di pintu depan masjid ketika orang-orang hendak mendirikan kewajiban sembahyang.

Dan bahkan pada malam hari beberapa kali menghadang para santri selepas pengajian di surau dan memintanya agar bersedia membuntinginya. Sebab, katanya, dengan punya anak dari cairan pelafaz-pelafaz nama Tuhan, dunianya tak lagi sesunyi seperti dijalaninya hingga hari ini. Perjalanan yang sungguh melelahkan dan tak tertanggungkan. Dia akan senang sekali jika kebuntingan itu datang dan melihat makhluk pembunuh sunyi itu menggelantung selama dua tahun di puting teteknya yang kelak tak segering saat ini.

Bahkan untuk mengejar kehendak itu, beberapa kali dia menggoda para guru ngaji yang barangkali saja mau bersedia bersamanya. Mengajarkannya ngaji dan dia akan membalasnya dengan imbalan menunjukkan bagaimana memijat bagian-bagian tubuh lelanang yang mendatangkan kenikmatan tak terkira.

Karena usahanya yang gigih itu, dia pun beroleh beberapa kali keberuntungan. Beberapa kali dia mampu mencucup cairan santri dan guru ngaji. Dan sejak itu dia menemukan resep bahwa untuk mendapatkan cairan itu, dia tak boleh lagi berjalan telanjang seperti dulu lagi. Tubuh harus bersih dan kalau perlu dibaluri melati pewangi yang bisa dipetiki dari dalam pagar-pagar warga di malam hari. Dan dia tak boleh lagi meminta cairan suci itu di tempat terbuka, tapi harus menghadangnya di tempat yang paling gelap. Di semak-semak yang jarang kena jamah orang banyak. Atau di bawah lincak di pasar yang gelap. Bahkan di belakang jamban yang jauh dari surau. Di situ biasanya dia mengintip lelaki santri atau ustad yang kencing berdiri. Dan bukannya dia tidak memilih. Dia terihik-ihik sendiri bila mendengar suara kencing di antara mereka. Yang suara kencingnya hanya seperti hujan kapas, pertanda zakarnya kecil. Lain jika kencingnya memercik deras dan menggelontor cresssssss. Itu pertanda zakarnya besar. Dan yang kedua ini yang dipastikan akan dimintainya berkuda bersama dalam kegelapan.

Dari satu dua pelafaz yang mencicipinya, dia jadi tahu bahwa mereka itu sesungguhnya mau. Tapi malu yang dalamlah yang membuat mereka memalingkan muka dan pura-pura berwajah pias dan menunjukkan kemuakan yang tiada banding. Sebab tak terbayangkan jika ketahuan secara terbuka sedang bertukar tangkap dengan ganasnya, tak terkiralah bagaimana martabat kesucian yang mereka pelihara sedemikian rupa akan jatuh berantakan.

Betapa tulusnya dia melakukan praktik-praktik sundal itu. Hanya untuk mendapatkan keturunan yang baik-baik dari cairan mereka yang jalan darahnya kerap tercampur dengan ruap nama Tuhan Yang Agung. Tapi ulama dan orang-orang berbudi punya pendapat lain. Senonoh ya senonoh. Sundal ya sundal. Tak peduli apa pun motifnya. Generasi muda, santri-santri yang masih labil, harus diselamatkan dari kebangkrutan moral. Apalagi, istri-istri yang dibakar cemburu karena suaminya ada main dengan perempuan jalang, bersatu padu menghadap ulama-ulama tahkim agar mengambil tindakan keras. Dan para ulama tahkim itu berkesimpulan bahwa perempuan jalang itulah penyebab pertama terjadinya perzinahan besar-besaran yang dilakukan dengan sembunyi di mana pun di tempat paling temaram yang disediakan kota suci ini. Dengan sigap dan antisipasi berkecambahnya kerusakan akhlak penduduk kota yang kian parah, ulama-ulama itu menyerukan penangkapan.

Dan di tepi teritis surau di pinggiran kota yang sepi, kala dia duduk terpekur entah meratapkan apa --mungkin bermunajat-- segerombol kadet kota menangkapnya, menggelandangnya, dan menyeretnya ke neraka bumi.

Dan di siang hari yang ganas, di tengah lapangan, lubang rajam separuh badan itu menunggunya. Lubang yang akan mengakhiri takdir buruk dan kutuk bumi jahanam.

KAU menyeruak di antara orang-orang yang berbaris rapat. Berlapis-lapis. Menyikut kiri kanan hanya untuk melihat wajahnya dengan jelas. Dari jarak pandang yang terdekat. Di pinggir lingkaran bambu.

Dan terang sudah. Kau lihat zirah yang menempel di tubuhnya sudah koyak. Dicabik-cabik para istri yang kalap dan marah karena cemburu di sepanjang jalan menuju tengah kota. Kain itu seperti tersampir begitu saja. Mungkin kain sebelumnya yang dikenakan perempuan ini sudah habis lumat di tengah jalan oleh luapan amarah dan diganti ala kadarnya untuk menutup malu bagi yang melihatnya. Hanya agar alim ulama yang menghadiri upacara kafarat tidak turut memikul dosa karena zina mata.

Kau memperhatikannya dalam-dalam. Dari ujung rambut yang menggerai berantakan hingga ujung kakinya yang terkelupas terpapas tanah batu keras sepanjang jalan penyeretan. Dan matamu berhenti di mulutnya. Kau melihat sesuatu di bibirnya. Seperti sepotong puding di bibir yang memerah darah. Dan di bibir yang mengunyah puding itu kaulihat sebarisan pawai kata-kata pilu dan lelah --juga terluka parah dari peperangan yang sedang dan masih berlangsung. Kaulihat kata-kata itu hendak melompat dari gerbang mulutnya yang luka. Tapi sederet pawai kata yang luka itu tercekat dan tertelan oleh riuh teriakan, sumpah serapah perempuan-perempuan mulia, istri-istri setia, dan gumaman ragu para lelaki pencicip di barisan paling belakang.

Walau batal melompat, kata-kata tak terkata itu bisa kaurasai getarannya dari tempatmu berdiri berdesak-desakan. Kata-kata itu mengembang dalam pori-pori bayangan, menyatu dengan riuh, mengambang bersama udara. Mungkin meledak gemuruh. Menjelma menjadi sebentuk irama-irama yang ganjil. Dan bisa jadi sebentuk derau kemabukan. Gumam aduh yang tercekat terpendam. Atau kesakitan yang genting.

Hingga kaulihat ketika separuh tubuhnya sudah tertanam sempurna, semua orang mengambil posisi melempar. Memungut batu-batu yang sudah disiapkan. Memilih-milih yang kalau bisa seukuran kepal supaya lontarannya tepat sasaran. Ini bukan upacara sunatan. Atau pasar reguler untuk jual beli. Atau pesta mauludan. Atau gerebek syawal. Ini adalah kerumunan perajam.

Tapi kau tak mengambil posisi yang sama. Bersama-sama mengepal batu. Kau takut. Kau merinding. Kau ingin seperti Isa, maju memeluknya yang sedang terpacak kuat di bambu dengan tubuh setengah tertanam. Melindunginya di balik lenganmu. Ingin menjadikan tubuhmu zirah untuknya, sebagaimana perlindungan Isa kepada perempuan pelacur Magdalena. Semacam baju perang Imam Ali di Perang Tabuk.

Tapi segera kausadar bahwa ini bukanlah permainan debus. Tubuhmu tak punya nyali dan kekebalan untuk menghalau derau batu yang datang seperti guyuran bandang.

Dan seonggok tubuh yang terikat dan tertanam separuh itu, seperti tak butuh pertolonganmu. Atau siapa pun yang bermimpi jadi pahlawan di tubir kematian. Sebab dibibirnya, kau lihat teraut seruas senyum. Sangat tipis senyum itu sehingga tak mungkin tertangkap mata siapa pun yang sedang marah. Mungkin itu karena puding yang terkunyah dan belum tertelan habis. Atau bisa jadi ekspresi yang paling genting berduel dengan kematian di hadapan warga dan kadet kota yang kalap. Ataukah puding di mulutnya itu yang membuatnya begitu kuat menghadapi dukacita. Dan dukacita yang paling menyesap di hatinya adalah bahwa hingga kematian menjelang, dia belum juga dikaruniai buah hati dari sumbangan cairan para lelaki pelafaz nama-nama indah Tuhan yang sudah dicucupnya.

Dan tubuh itu pun terkulai setelah dua pertiga jam berada dalam drama pelemparan yang mencekam. Darah berceceran di mana-mana. Di atas tumpukan batu-batu yang tajam mengoyak. Cabik-cabik daging yang meloncat dari raga berburai di atas tanah. Berbaur bersama peluh para perajam yang kelelahan menghujaninya dengan batu.

Dan kau hanya menyaksikan itu semua dengan tangan menutup muka. Seperti mata yang tak rela melihat darah mengucur. Tak lama berselang kau pun berlalu bersama berlalunya yang lain-lain. Tapi tidak kembali ke rumah, tapi menuju kuburan perempuan jalang itu. Ingin melihat apakah puding di mulutnya dibawanya serta.***