Koleksi Cerita Pendek Indonesia

Tentang Cerita Kehidupan, Kisah Cinta & Cerita Remaja

Monday, May 31, 2004

Surat

Cerpen Dianing Widya Yudhistira

LANGIT senja Jakarta, tak pernah seindah langit Toboali. Tanah kelahiran yang selalu terkenang, sejauh aku melangkah keluar rumah. Biasanya setiap senja tiba aku senang berlama-lama di beranda rumah. Menyaksikan kemilau langit senja, juga burung-burung yang hendak pulang ke sarang.

Setiap senja langit Toboali tak pernah sepi. Tidak seperti langit senja Jakarta. Beribu senja aku lewati tanpa kesan, apalagi kenangan. Untuk menikmatinya sejenak pun tak pernah terpikirkan. Jakarta terlampau sibuk dengan urusan duniawi. Dan aku terseret hanyut di dalamnya.
***
Surat ayah tergeletak lesu di meja. Surat yang datang kesekian kali, setelah surat-surat yang lalu mendesakku untuk pulang. Aku masih malas membukanya karena aku menduga nada surat itu sama. Mendesakku pulang.

Aku takut menyentuh surat ayah. Aku tak punya nyali untuk membuka apalagi membacanya. Hingga malam larut, aku masih takut membukanya. Bukan pulang ke Toboali yang aku takutkan, sesungguhnya. Rindu datang memintalku berbilang-bilang. Akan sanak kadang di sana, terlebih pada kebeningan wajah ibu.

"Ibu."
Setiap kali memanggilnya, rindu pulang kampung kian mengental. Tetapi aku tetap saja tak berani membuka surat itu. Aku takut itu justru menambah rasa kangen dan bersalahku pada ibu, juga Toboali.
***
Aku pandangi surat itu. Bukalah dan bacalah bila kamu masih menganggap mereka bagian dari hidupmu. Hatiku bergolak. Bacalah agar dapat kau hirup udara, juga tanah basah Toboali karena guyuran hujan semalam. Bacalah agar dapat kau nikmati aroma lada sepanjang jalan menuju kampungmu.

Bacalah surat itu agar dapat kau nikmati kembali masa kecilmu. Bukankah Jakarta tak mampu memberimu kebahagiaan yang lebih, juga kehidupan sempurna. Jakarta memang memberimu materi berlimpah, tapi yang lebih banyak justru kesepian yang sangat. Ingat, kau hanya perantau di sini.
***
Darahku berdesir. Aku tak akan pernah bisa mengingkari tanah kelahiranku. Karena di sanalah tangis pertamaku terdengar. Tanah, air, udara, angin, langit desa yang jadi saksi kelahiranku. Aku tak akan pernah bisa mengingkarinya. Tak pernah bisa.
***
Pelan, aku sentuh surat yang tergeletak lesu di meja. Darahku berdesir ketika jemariku menyentuh ujung amplop. Bukalah. Aku himpun seribu kekuatan untuk bisa membaca surat itu. Aku berusaha berdamai dengan hatiku. Tetapi tiba-tiba aku menjadi menggigil.

Perasaan kangen dan kecintaan tumbuh merayap dalam benak. Aku merasakan cinta yang berbuncah-buncah. Tanah kelahiran yang terletak ribuan mil dari Jakarta seperti terang-benderang dalam pandangan. Kemilaunya melebihi kemilau bintang di langit. Aku akan membuka surat itu dengan suka cita, dengan sepenuh jiwa dan raga.

Ah, mengapa perasaan galau datang seperti hendak membunuhku? Aku senantiasa takut. Takut untuk membuka dan membacanya. Dan ini entah hari keberapa aku kembali termangu-mangu di depan surat yang tergeletak lesu. Nyaliku ciut, bahkan rontok habis di depannya. Aku tak pernah bisa membuka terlebih membacanya.

Hingga berhari-hari, bahkan sampai melewatkan minggu. Surat itu masih tetap tergeletak di atas meja. Sunyi dan berdebu. Aku makin tidak berani membukanya. Apalagi ketika mengingat berbagai persoalan hidup yang menjerat keluargaku. Melihat orang tuaku banting tulang untuk sekadar bisa makan.

Agar aku tidak seperti mereka, terperosok dalam kemiskinan, aku baru akan pulang setelah bisa membawa sesuatu buat mereka. Sekarang, belum!
***
Ah, kemiskinan. Siapa yang pernah mengundang kemiskinan dalam hidup. Tak seorang pun mengundangnya dengan ramah untuk singgah dan akrab dalam keseharian. Kemiskinan datang seperti kanker yang menggerogoti tubuh dan hidup. Kemiskinan seringkali membuat aku putus asa, bahkan enggan untuk membuka jendela kamar, meski hanya untuk menyambut matahari pagi.

Aku selalu malas membayangkan esok hari. Karena bagiku esok dan lusa hanya siluet buram yang datang berulang-ulang, tanpa aku tahu kapan siluet buram itu berganti warna. Warna biru misalnya, yang menawarkan kesejukan hati. Atau warna hijau yang menawarkan keselarasan alam. Atau siluet buram itu berubah warna merah jambu. Ah, kapan waktu dan kenyataan memberiku kesempatan untuk merasakan damai, tanpa berpikir besok apakah ada sesuap nasi yang bisa dimakan.

Aku seperti berada di tengah perang yang berkecamuk. Sengit. Ada hasrat ingin membunuh, ada ketakutan teramat dalam kalau-kalau dalam perang itu aku terbunuh. Aku selalu lunglai, takut dan enggan menghadapi hari esok.

Esok aku harus bergulat dengan pekerjaan yang tak pernah aku inginkan. Menjadi buruh tani pada seorang juragan yang tak lain adalah kakak ayahku sendiri. Aku menghela nafas panjang. Menghembuskannya dengan sangat kasar. Dalam hembusan nafasku itu angin pasti bisa membaca, betapa waktu dan keadaan tak pernah adil terhadapku.

Aku pernah membenci waktu, juga keadaan, hingga aku pun pernah tergelincir membenci Tuhan. Karena aku merasa betapa Tuhan telah membedakan hidupku dengan anak-anak lain. Bila anak-anak lain tak perlu susah payah mencari makan, aku harus membantu ibuku menjadi buruh tani agar hidup terus berlanjut.

Bila anak-anak lain lahir dari keluarga orang berkecukupan aku lahir dari rahim perempuan miskin. Ibu hanya bisa mengandalkan tenaga ayah untuk menjadi buruh tani. Sesungguhnya ayah memiliki sepetak tanah yang bisa ditanami lada. Tanah itu ayah miliki dari butiran-butiran keringat kakek. Kakek membagi-bagi tanah yang dimilikinya kepada kedua anaknya. Ayah dan kakak ayah.

Di sinilah aku merasa bahwa waktu tak berpihak padaku. Kakek tidak memberikan langsung tanah itu kepada ayah, agar ayah bisa menanami lada dan menunggunya dengan harapan. Kakek menitipkan tanah itu kepada kakak ayah. Hingga bertahun-tahun tanah milik ayah ditanami lada oleh kakak ayah. Kami hanya mendapat seperempat dari hasil panen lada. Sungguh aku tidak bisa menerima cara hitung kakak ayah itu.

Bertahun-tahun ayah diperlakukan kakak ayah dengan tidak adil. Hingga aku beranjak remaja, sepetak tanah itu masih dikuasai kakak ayah. Pernah ayah menanyakan pada kakaknya perihal kapan tanah milik ayah itu bisa ayah miliki sepenuhnya. Ayah juga ingin bertani lada. Ayah ingin menyekolahkan aku dari butiran-butiran keringatnya. Tetapi jawaban kakak ayah hanya membuat ayah geram. Kakak ayah selalu berkelit bila ayah ingin meminta haknya sendiri.

Lebih menyakitkan adalah pembelaan kakek terhadap kakak ayah. Kakek berpendapat, biarpun tanah itu memang diberikan kepada ayah, lebih baik dipakai kakak ayah dengan alasan anak kakak ayah enam orang. Kakak ayah jelas lebih banyak membutuhkan uang untuk sekolah dan kebutuhan sehari-hari.
***
Apakah waktu telah memberiku kesempatan sedikit saja untuk menikmati masa remaja? Hingga aku hendak memasuki sekolah menengah atas, sepetak tanah itu belum juga berada di tangan ayah. Seperempat penjualan lada dari tanah ayah dari waktu ke waktu menyusut, hingga akhirnya kakak ayah serupiah pun tak memberikan hasil panen lada pada ayah. Setiap kali ayah meminta haknya, selalu dijawab kebutuhan kakak ayah jauh lebih besar.

Berkali-kali ayah meminta hak kepemilikan tanah, kakak ayah selalu mengalihkan perhatian dan selalu melibatkan kakek. Lebih menyakitkan lagi kakek selalu membenarkan alasan kakak ayah. Aku jadi ragu apakah kakek bersungguh-sungguh akan memberikan sepetak tanah itu pada ayah.

Kakek selalu mengatakan, ia tidak pilih kasih. Kedua anaknya akan memiliki tanah dengan luas yang sama. Kenyataan bertahun-tahun, aku mengatakan bertahun-tahun, karena sejak aku duduk di kelas satu sekolah dasar hingga benar-benar sekolah di menengah atas, tanah itu belum juga bisa kami nikmati.
***
Ayah dan ibu menjadi buruh tani. Kenyataan yang tak aku senangi. Seringkali aku merasa bersalah dan tak sampai hati, juga kesal. Aku merasa bersalah karena aku seperti memeras keringat ayah dan ibu. Karena aku, mereka harus menjadi buruh tani.

Hatiku teriris-iris setiap kali melihat ayah dan ibu berpeluh di lahan lada milik orang lain. Semestinya orang tuaku mengerjakan lahan milik sendiri. Bukan menjadi buruh. Aku ingin berhenti sekolah setiap kali melihat ayah dan ibu bekerja menjadi buruh. Buruh tani di lahan orang lain.

Aku pernah menyampaikan keinginanku untuk berhenti sekolah. Ayah marah besar. Kalimat-kalimat ayah membuat darahku berdesir. Ayah tidak akan mewariskan kemiskinan itu kepadaku. Ayah dan ibu akan terus memeras keringat hingga aku bisa sekolah setinggi mungkin.

Tahukah ayah, betapa aku ingin menggapai cita-cita setinggi langit. Tetapi setiap kali aku berhadapan dengan angka-angka yang harus ayah dan ibu bayar, terbayang peluh ayah dan ibu. Aku tak sanggup menjalani pendidikan dengan keadaan ayah dan ibu menjadi buruh. Lain keadaannya bila ayah dan ibu mengerjakan lahan lada milik sendiri.
***
Petir itu menggelegar di siang bolong. Menamparku tepat di ulu hati. Ayah bertekad meminta hak sepetak tanah yang kakek berikan ketika aku selesai sekolah menengah atas. Harapan ayah dengan memiliki sepetak tanah yang bisa ditanami lada, ayah dan ibu bisa membiayai kuliahku.

Hanya sebatas mimpi. Kakak ayah menolak memberikan sepetak tanah milik ayah. Lebih menyakitkan lagi kakak ayah bersikeras bahwa tanah itu sudah menjadi miliknya. Alasan kakak ayah, ialah yang selama ini merawat tanah itu.

Kakak ayah benar-benar tidak memberikan hak ayah sebagai pemilik tanah. Kakek hanya diam tak berbuat apa pun. Ayah kecewa. Ibu kecewa, aku lebih-lebih sangat kecewa. Aku pun semakin enggan pulang ke kampung. Aku tidak ingin bertemu dengan kakek serta kakak ayah dan keluarganya.

Aku terpaksa mengubur seluruh kangen dan kerinduan yang amat sangat. Apa boleh buat. Bukankah lebih baik menghindari daripada mengungkapkan rasa benci? Aku tidak yakin bakal tega melihat ayah diperlakukan tidak adil oleh kakaknya, juga oleh kakek. Aku tidak akan sanggup kesemena-menaan itu berlangsung.

Selain itu, seperti pernah kujanjikan pada diriku sendiri: aku tak akan pernah pulang sebelum bisa membawa kebahagiaan pada mereka.
***
Tubuhku nyeri. Mataku menjadi berkunang-kungan membaca tulisan surat itu. Ibu sakit keras, tulis ayah. Sakit apa? Tak ada penjelasan lebih. Surat itu begitu pendek. Ayah juga tidak menyuruhku pulang. Tetapi tiga kata itu jelas membuatku terperangkap. Aku cinta ibu. Ibu melebihi tanah, air, langit dan udara.
Ibu adalah tanah airku. ***
Depok, Januari 2004

Sunday, May 30, 2004

Seorang Hujan

Cerpen: Afrizal Malna

AKU ingin hidup dalam tubuh seseorang, dalam kenyataan orang lain. Aku tahu itu tidak mungkin. Aku tahu itu sebuah dusta yang berusaha aku buat untuk diriku sendiri. Dusta murahan yang membuat manusia menjadi bahan olok-olok di dapur rumahnya sendiri. Suara panci, piring, gelas dan sendok yang menjadi gaduh.


Tapi aku terus memikirkannya. Berhari-hari. Aku merasa keinginan itu seharusnya bisa aku lakukan. Mustahil aku tak bisa melakukannya. Aku membayangkan perpindahan seperti itu sesuatu yang seharusnya bisa dimiliki siapapun. Aku membayangkan tubuh itu tidak beda jauh saat aku menyalakan lampu listrik. Cahaya tiba-tiba hidup di dalam tabung kaca. Ketika listrik aku matikan, cahaya itu juga ikut mati. Ia tidak berjalan keluar dari tabung kaca itu. Tapi mati. Padam. Darah bisa keluar dari tubuhku, keringat juga bisa menetes. Aku memikirkannya hingga musim hujan datang. Dan semua tentang pikiran itu berubah, saat hujan pertama betul-betul datang, turun di halaman rumah.

Aku menatapnya dari balik jendela kaca. Tiba-tiba hujan itu membuka pintu rumahku. Ia tidak masuk. Ia hanya berdiri di depan pintu. Tubuhnya seperti gumpalan awan berwarna hitam legam. Ada suara halus yang terdengar dari dalam gumpalan awan hitam itu, seperti suara pesawat yang berbunyi konstan. Sejak itu aku mulai bersahabat dengannya. Aku memanggilnya hujan di pagi hari.

***

PAGI itu aku sedang berjalan bergandengan bersama hujan. Udara dingin. Angin membuat tirai dari air hujan, tipis, seperti ciuman di leher menjelang bangun tidur di pagi hari.

"Sudah lama aku menunggumu di lembah itu," kataku. Hujan tak menjawab. Ia menggenggam tanganku seperti merasakan detak waktu yang bergerak. "Manusia tidak menarik karena ia bisa menghitung waktu," katanya. Aku memandangnya. Wajahnya bersih. Rambutnya tersisir rapi. Rapi, seperti rajutan yang terbuat dari air.

"Aku tahu waktu tidak pernah bisa menyentuh dirimu," kataku. "Kamu tidak pernah tua. Kamu selalu baru. Kamu tidak mengenal tubuh yang tumbuh menjadi dewasa, lalu tua, sakit dan mati. Kamu tidak pernah merasakan sakit, terluka, dan kesepian." Hujan lalu membelah dirinya dengan belahan-belahan yang berulang. Cahaya biru yang tipis memancar pada setiap terjadinya pertemuan antarbelahan itu.

"Ini hari yang istimewa untukmu juga untukku sendiri," katanya. "Aku datang 5 mil untuk menemuimu pagi ini, berlari menuruni lembah, menerjang hutan bambu dan mematahkan sebuah jembatan di sebuah sungai yang airnya deras dan berbatu-batu."

"Di musim bunga tahun lalu, ketika kupu-kupu hampir setiap pagi membuat tarian di lembah itu, dan cahaya matahari seperti sedang menciptakan tubuhku dari daun-daun kacang di lembah itu, aku sangat berharap kamu datang di lembah itu. Tapi kemudian aku sadar, kamu tidak mungkin menemuiku. Aku juga tidak mungkin menemuimu. Sudah kodratnya begitu. Kita saling berpapasan, tapi tidak pernah saling mengenali."

"Kenapa kamu terkunci dalam bahasa seperti itu, seakan-akan kamu percaya ada yang tidak bisa saling menyentuh, ada yang tak bisa saling mengenal di dunia ini?" tanyanya. "Kita tidak pernah bisa saling bertemu karena kamu punya kepercayaan seperti itu. Kepercayaan yang sia-sia."

Ketika kami menuruni batu-batu berkapur, hujan merembes ke dalam batu-batu berkapur itu, lalu mengucur kembali lewat batu-batu kerikil. Aku takjub melihat hujan yang bisa merembes. Aku takjub melihat hujan yang membuar arsitektur dari air. Dia yang telah membuat ruang menari. Dia yang telah memberi bentuk mati menjadi bentuk yang bergerak. Dia yang menghidupkan dan mengajak bermain kembali dengan memori-memori lama. Dia yang merajut kembali semua peristiwa dan lalu membiarkan kembali semua rajutan itu merembes ke dalam tanah sebagai air, melewati akar-akar rumput dan senyap. Dia yang memiliki keindahan yang tak tergantikan dan tak siapapun bisa memilikinya.

Aku tahu ia memang tak tersentuh. Aku tidak bisa menetes dan merembes. Aku terpisahkan oleh bahasa dan tubuhku sendiri yang telah menutup duniaku.

Hujan menatapku.

Matanya seperti ratusan jarum yang saling merajut.

"Aku ingin memberi warna pada dirimu," kataku.

"Sebentar lagi akan ada pelangi yang turun di lembah ini, membuat lingkaran tipis, seperti garis-garis tangan pada telapak bayi. Semua kupu-kupu menganggap pelangi itu adalah ibu mereka."

Aku memeluk bahu hujan. Air menetes di telapak tanganku. Terus menetes. Suara hujan yang jatuh di atas sebuah batu, menciptakan suara ketukan yang padat dan konstan. Hujan yang deras turun di kepalaku membuat mataku seperti dipenuhi oleh tangisan yang datang dari luar diriku. Mataku seperti berada di dunia yang lain, dunia dari tangisan yang datang dari luar. Aku tahu mataku tidak menangis. Tidak ada air mata. Aku yakin memang tidak ada air mata. Mataku meyakinkan diriku berkali-kali, ini bukan hujan, ini tangisan yang datang dari luar. Mataku seperti telah meninggalkan tubuhku di lembah itu, karena keyakinannya bahwa ini bukan hujan, melainkan tangisan dari luar. Tubuhku tidak bodoh, dan tidak perlu membuktikan lagi bahwa ini hujan.

Hujan lalu menepuk bahuku. Air mengucur deras di kepalaku yang botak. "Hei, tolong, jangan main-main seperti ini. Jangan mempermainkan kepalaku yang botak dengan hujanmu. Jangan memain-mainkan jantung dan ginjalku. Kamu tidak bisa merembes ke dalam pikiranku walau kepalaku botak. Aduh jangan kurang ajar, dong. Nanti aku lempar kamu dengan kepalaku."

Aku mengeluarkan payung dari tas punggungku. Aku juga mengeluarkan jas hujan dan memakainya. Suara hujan membuat bunyi ketukan lain di atas atap payungku. Bunyi ketukannya membuatku yakin tidak akan ada bahaya yang datang dari atas.

***

HUJAN turun semakin deras. Kini aku duduk di atas sebuah batu lengkap dengan payung dan jas hujanku. Daun-daun kacang di lembah itu terus bergetar tertimpa air hujan. Getarannya membuat jejak-jejak yang aneh lewat gelombang-gelombang yang bergerak halus ke arah jempol kakiku. Aku merasa seperti bisa keluar dari tubuhku sendiri.

Tubuhku tiba-tiba menjadi sibuk, berbenah membereskan banyak hal. Aku mulai tak percaya aku sedang duduk, mengenakan jas hujan dan memegang payung. Aku mulai tak yakin dengan mata dan telingaku. Tapi tubuhku ternyata tidak bisa keluar. Ada yang macet di dalam, mampet. Tubuhku tidak memiliki pintu untuk keluar. Aku berusaha menjebolnya. Hujan turun semakin deras, merembes lewat pori-pori tubuhku. Tubuhku mulai banjir. Aku merasakan seperti ada tanggul yang akan jebol dalam tubuhku karena banjir yang besar itu. Tubuhku tiba-tiba meledak, seperti rajutan karet yang meledak.

***

AKU membersihkan serpihan-serpihan daging di bantal tidurku. Sebagian serpihan itu menempel di kelambu. Sinar matahari menerobos lewat kaca jendela kamar tidurku. Hujan sudah menungguku di teras depan. Kami berjanji untuk pergi berjalan ke sebuah candi hari ini.

Lalu aku keluar dengan payung.

"Kenapa kamu memakai payung?'' tanyanya

"Kenapa aku tidak boleh memakai payung?'' aku balik bertanya.

"Karena aku merasa kamu seperti membawa peti mati di atas kepalamu," katanya.

"Peti mati apa?'' tanyaku.

"Peti mati untukku," jawabnya.

"Peti mati untuk hujan?" tanyaku.

"Hujan di dalam peti mati," tegasnya.

"Ini hanya payung," jawabku. "Kamu tidak mungkin bisa terkubur di dalam payung."

"Ah, duniamu tetap terkunci dalam bahasa," kilahnya.

"Tidak. Bahasa hanya kata-kata, lalu kalimat, lalu titik, atau koma."

"Tidak. Kalian telah mengunci dunia kalian di dalam bahasa."

"Siapa yang kamu maksud dengan kalian?"

Hujan lalu merebut payungku, seperti mematahkan kaki kursi yang tumbuh di kepalaku.

Lalu hujan bergelayut di telapak tanganku. Lalu menetes dan membuat kalung di leherku. Lalu bergelayut di daun-daun bambu dan membuat percikan di lantai terasku. Lalu kami tertidur dalam pelukan yang penuh oleh warna hijau. Lalu daun-daun kacang di lembah itu, yang membuat malam dari suara-suara serangga, saling bercerita tentang sekuntum bunga yang belum pernah tumbuh sebelumnya di lembah itu. (*)