Koleksi Cerita Pendek Indonesia

Tentang Cerita Kehidupan, Kisah Cinta & Cerita Remaja

Thursday, May 13, 2004

Mahasiswa Tio

Cerpen Arie MP Tamba

Di masa depan, Tio akan mengulang-ulang terus pengalaman masa lalu seperti pada tengah hari yang nahas itu. Setelah gagal mendapatkan angkutan umum yang akan membawanya pulang ke rumah, ia terdampar di sebuah mulut gang di pusat pertokoan dan perkantoran. Seorang anak lelaki dengan kaca mata hitam ditegakkan di kepala, menghampiri dengan tatapan curiga. Si anak mengenakan rompi kulit berwarna coklat longgar, membungkus belakang tubuhnya sampai ke pantat; kaus kuning melebihi ukuran badan sampai ke lutut; celana jins kepanjangan, hingga bagian kakinya digulung berkali-kali; dan sepatu kets putih yang juga kebesaran, hingga ia menyeret kedua kakinya agar sepatu itu tidak terlepas.

Anak itu, dengan dua arloji di tangan kanan dan dua arloji di tangan kiri, mengeluarkan sebungkus coklat besar dari kantung rompi, merobek bungkusnya, lalu mengunyah dengan lahap, seraya menoleh ke arah keramaian yang bergemuruh di jalan besar pertokoan dan perkantoran yang tak jauh dari mulut gang itu.

Huru-hara masih berlangsung. Orang-orang bergerombol berteriak-teriak riuh dan menyerbu kalap, membuka paksa pintu-pintu dorong dan jeruji toko-toko dengan tangan, linggis, dan berbagai peralatan yang terjangkau dan dipungut sekenanya di jalan atau sengaja dibawa dari rumah. Lalu, setelah toko-toko yang ditinggalkan para penghuninya dengan ketakutan itu terbuka menganga tanpa tuan, para penyerbu saling berebutan menjarah berbagai barang yang terhampar atau teronggok di hadapan, menyeretnya menjauh, mengangkatnya dengan kedua tangan, mengusungnya di pundak, langsung memasukkan ke dalam kantung plastik atau buntalan kain, membopongnya meninggalkan toko dengan tergesa, serabutan, namun bersiaga terhadap kemungkinan perampasan oleh yang lain; lalu berlari-lari, meliuk-liuk mengamankan barang-barang itu, di antara orang-orang berseliweran dengan keperluan serupa.

Maka, bergulung-gulung karpet, pakaian, benang; berkardus-kardus sepatu, rokok, kosmetik, minyak wangi, kalkulator, radio, taperecorder, kaset, CD, termos; berbuntal-buntal arloji, topi, buku, blangkon, tas; berbungkus-bungkus bumbu masak, keripik udang, permen, coklat, keju, kue bolu, beras, kopi, gula, mie instan, roti kaleng, kecap, sirup, panci; simpang-siur dalam bawaan orang-orang yang dengan sigap ingin cepat-cepat menyembunyikan di pangkalan sementara, atau langsung menuju rumah bila rumah mereka tak jauh dari areal pertokoan tersebut. Lalu, mereka akan kembali lagi ke toko-toko atau perkantoran untuk mengambil barang-barang apa saja yang masih ada dan tersisa, sebelum didahului atau dihabiskan orang lain. Toko-toko dan perkantoran di pinggir jalan besar itu semuanya kini menjadi milik siapa saja, bebas dimasuki, dijarah, dan juga dibakar!

Keributan suara-suara meneriakkan: "Hey, Min!", "Tigor!", "Asep!", "Gus!", "Jo!", "Bur!", "Ke sini!", "Bawa sekalian!", "Simpan di belakang kios!", "TV, TV!", "Kulkas", "Bir, bir!", "Wah, BH, celana dalam, sambal, kecap!", "Taruh, taruh langsung di kamar!", "Yang di plastik di dapur, yang di kardus di kamar!", "Jangan salah tempat!", "Hati-hati!", "Jangan diambil orang!", "Ingat, harus segera ke rumah!", "Langsung kasikan ibu!", dan lain-lain, tumpang-tindih di sekitar, berlomba menyerbu pendengaran dan penglihatan Tio. Sementara anak itu menghabiskan coklatnya dengan tergesa, mulutnya belepotan coklat, sementara sepasang matanya secara samar mengawasi Tio, seraya ia kini mengeluarkan permen dari saku celana. Sedangkan suara-suara masih membahana, saling tindih, dan kali ini lebih bergelombang ke sebelah kiri mulut gang dan di seberang jalan.

Suara-suara yang memekakkan Tio, di tengah kesendirian perasaan yang semakin menyesaki benaknya, di antara bayang-bayang pengalaman sebelumnya yang kembali membentang. Ia sedang dalam perjalanan menuju kampusnya di wilayah barat kota, ketika demonstrasi dan kekacauan semakin marak di jalan yang mereka lalui. Tio terpaksa turun dari bus kota yang ditumpanginya, karena sesuai permintaan sebagian besar penumpang yang umumnya orang kantoran, bus kota itu membatalkan perjalanan dan kembali ke terminal pemberangkatan mereka sejam yang lalu. Hidup sebagai penonton, yang sepatutnya tidak dirugikan, barangkali sangat penting bagi orang-orang kantoran itu. Mereka harus melindungi anak dan istri yang ditinggalkan di rumah, atau menyelamatkan hidup mapan mereka dengan menghindarkan kemungkinan bencana apa pun yang kelihatannya bisa menyerang, dari membesarnya huru-hara yang menimpa kota itu!

Sebenarnya, beberapa penumpang sebelumnya telah turun dan pindah ke bus-bus lain yang sudah memutar sejak awal, dan beberapa penumpang terbirit-birit menyewa ojek yang tiba-tiba ramai berkeliaran mengepung bus. Sementara Tio enggan menyelamatkan diri, karena merasa tidak layak setakut mereka. Sebab, ia "terlibat" sebagai pelaku atau bagian dari demonstrasi dan kerusuhan di luar bus kota itu. Mengikuti gelombang perlawanan mahasiswa kepada rezim pemerintahan korup selama berminggu-minggu, mereka telah melakukan demonstrasi gabungan dengan kampus-kampus lain yang lebih besar dan terkenal di seluruh negeri. Dan, puncaknya, dalam suasana perkabungan, kemarin mereka mengantarkan lima orang mahasiswa ke pemakaman karena tertembak bersama rekan-rekan lainnya di dekat kampus mereka sehari sebelumnya.

Tapi, pagi itu, rasa getir dan sinis kepada diri sendiri pun menggigit-gigit kesadaran Tio ketika ditinggalkan sendirian oleh orang-orang kantoran yang ketakutan meneruskan perjalanan. Tio tiba-tiba merasa memang tidak memiliki kehidupan berharga yang harus diselamatkan dari kekacauan itu. Ia hanyalah seorang mahasiswa yang tidak memiliki keperluan penting, datang ke pusat kota; kecuali berkumpul dengan teman-teman sekampus "mendengarkan" lanjutan rencana demonstrasi gabungan seluruh kampus kota mereka. Ia hanyalah seorang mahasiswa "pengikut" dengan kecerdasan terbatas, di sebuah perguruan tinggi swasta yang tidak terkenal.

"Jangan sembunyi di sini!" Anak itu akhirnya menegur bimbang, ketika menyadari Tio yang jangkung itu masih bertahan dan bengong.

Tio mengitarkan pandang. Mereka "ternyata" berada di belakang sebuah kios, dan ia melihat berbagai bungkusan dan buntalan-buntalan barang di samping kakinya. Tio membungkuk dan meraba sebuah buntalan. Tio menarik sebuah benda dingin dan keras dari mulut buntalan; sebuah walkman menyembul. Dengan wajah khawatir, anak itu merebut walkman dari pegangan Tio dan memasukkannya ke dalam buntalan.

Tio merunduk. Matahari siang menyorot tajam. Tak jauh dari kios itu, di jalan besar, menggunduk timbunan sampah yang kelihatannya dibiarkan menumpuk dari hari ke hari. Bau sengitnya menyebar tapi orang-orang tak perduli dan kelihatan tidak terganggu. Mereka terus berseliweran di jalan besar membawa barang-barang dengan buntalan-buntalan penuh, kardus-kardus rapi, tas plastik dijejali barang, keluar masuk gang di sini dan di sana, memanggil-manggil, berteriak-teriak, simpang-siur di antara suara-suara "tembakan" yang sesekali terdengar menyela gemuruh siang.

Lalu, seorang lelaki berusia empat puluhan, mengenakan berlapis-lapis baju baru dan sebuah jaket kulit hitam, memundak buntalan besar dengan wajah berkeringat menghampiri persembunyian Tio dan si anak di belakang kios itu. Lelaki itu terkejut menemukan Tio, dan tampak kurang senang karena anak itu membiarkan seorang asing berada di dekat barang-barang mereka. Lelaki itu menaruh buntalan di samping bungkusan lainnya. "Siapa kamu? Mau apa di sini?" tanyanya mengancam ke arah Tio.

Lelaki itu kemudian mengeluarkan rokok luar negeri dari saku jaket kulitnya yang tebal dan baru, mengeluarkan mancis keemasan dari saku celana jinsnya yang baru, dan seperti sengaja memamerkan arlojinya, kalung emasnya, sepatu kulitnya, berdiri tegak menyalakan rokok, mengisapnya, menghembuskan asapnya ke arah Tio.

"Saya...saya..."
"Takut terkena peluru nyasar, ya?"

"Saya mau pulang, kalau sudah aman."
"Tapi kenapa berhenti di sini?"

"Sepedanya mana, Yah?" anak itu menyela.
"Sepedanya mudah-mudahan ayah kebagian!" kata lelaki itu seraya matanya tetap ke arah Tio.

"Om dapat mempercayai saya. Saya akan menjaga barang-barang Om. Tadi saya mau ke kampus ketika bus yang saya tumpangi membatalkan perjalanan. Seandainya tadi malam saya tidak pulang ke rumah, tidur di kampus seperti yang lain, pasti sekarang saya tidak di sini, mungkin berdemonstrasi bersama teman-teman ke istana!"

"Oh, begitu?" Lelaki itu kembali menghembuskan asap rokok ke wajah Tio. Lalu seperti teringat sesuatu, ia mengeluarkan selampe baru dari saku celananya, kemudian melap keringat di keningnya, dan kembali memandang Tio yang mengenakan kaus, jins, dan sepatu kets yang sudah kucel.

"Percayalah, saya akan menjaga barang-barang Om bersama anak Om," ulang Tio
"Ya sudah. Kalian tunggu di sini!" Lelaki empat puluhan itu lagi-lagi menatap tajam ke arah Tio, mengantungi selampe, segera mengambil beberapa arloji mahal dari sebuah buntalan, beberapa bungkus rokok luar negeri dari sebuah kardus besar, menjejalkan semuanya ke saku celana, baju dan jaketnya dengan terburu-buru, lalu mengisyaratkan kedipan mata "hati-hati" ke arah anaknya, baru kemudian menghilang di antara orang ramai.

Sepeninggal lelaki itu, Tio sesaat tersinggung oleh kedipan mata itu, dan sempat dihinggapi keinginan culas untuk mengambil beberapa walkman dan arloji, lalu berlari meninggalkan tempat itu, menerobos keramaian, mencari-cari kendaraan umum yang rutenya ke arah rumahnya di pinggir kota. Tapi lamat-lamat telinganya masih mendengar suara tembakan demi tembakan di antara hiruk-pikuk itu. Membuatnya kembali merisaukan keselamatannya di antara tiang-tiang asap kebakaran yang menghitam, membubung, meliuk, di sini, di sana, di kejauhan --seakan mengabarkan bencana ke ketinggian awan putih di atas sana-- sekaligus mengotori cakrawala bening kota besar, yang dulu terkenal ramah itu.

Lalu, suara tembakan demi tembakan meletus nyaring, tak jauh dari mulut gang. Orang-orang buyar ke kiri dan ke kanan, berteriak-teriak panik menggondol erat buntalan dan bungkusan di tangan dan di pundak. Dan tembakan meletus lagi, meletus lagi, kali ini berturut-turut, semakin nyaring, semakin memekakkan pendengaran Tio. Orang-orang berteriak-teriak kalap, orang-orang simpang-siur menyelamatkan diri. Saling menabrak dan mendorong, ingin melarikan diri atau bersembunyi. Yang limbung terjepit, terseret, yang jatuh tertindih, terinjak. "Aduh, aduh, aduukhh!" jeritan anak itu mengoyak pendengaran Tio, dan ia menampak anak itu memuntahkan permen dari mulutnya dan kaca mata hitamnya terlontar dari kepala.

Sesaat anak itu seakan lunglai kehilangan tenaga, tapi secara aneh dan berkekuatan besar, terhempas ke tubuh Tio. Sebuah hentakan berat menghantam Tio. Kepala anak itu membentur perutnya. Keduanya kemudian terlontar ke atas tumpukan kardus, buntalan dan bungkusan. Beberapa buntalan dan bungkusan yang tidak terikat kencang, terbuka, dan isinya berupa walkman, arloji, gulungan kain, baterai, gunting, coklat, pisau cukur, minyak wangi, kecap, sambal, detergen, dan barang lainnya berserakan. Tio merasakan punggungnya sakit, menindih berbagai botol dan barang-barang keras terbungkus kardus, dengan tubuh anak itu membebaninya.

Dan untuk pertama kali dalam hidupnya, Tio pun melihat wajah seorang anak seusia adiknya, namun begitu asing baginya --sesaat begitu dekat-- lalu menjauh dan terkulai di samping tubuhnya. Lalu, ketika ia menarik tangannya dari tindihan tubuh anak itu, untuk pertama kalinya pula ia melihat darah manusia begitu kental, memerah hangat di telapak tangannya, membercak membasahi kausnya, dan membercak bundar merah tua, memenuhi bagian dada kaus anak itu.

Darah. Darah merah berceceran. Anak itu tertembak. Anak itu tergeletak. Peluru nyasar menjarahnya. Sementara ayah anak itu entah ke mana. Anak itu mendesis ketakutan dan mengerang kesakitan. Mulut anak itu kini penuh darah, darah. Tatapannya nanar ke arah Tio yang sedang bangkit, dan menoleh gelisah ke arah barang-barang jagaannya yang kini berserakan. Anak itu mengangkat tangan kanannya yang lunglai, diberati empat arloji; entah kapan ia menambahinya. Anak itu berusaha menggapai sebungkus coklat, tapi Tio tak dapat lagi menatap berlama-lama.

Tio sudah berdiri gelisah. Hiruk-pikuk manusia di sekitar semakin ramai dan sebagian kini berkerumun menghampiri. Wajah-wajah asing penuh keringat memandang kalap dan ingin tahu, berganti-ganti dengan bayang-bayang wajah ibunya, adik-adiknya, temannya sekampus, tetangganya, anak itu, ayah anak itu, orang-orang berebutan barang, rokok luar negeri, sepatu kulit, jaket hitam, mancis baru, walkman, arloji, gulungan kain, kaca mata hitam, permen, coklat, botol kecap, bir, sirup, bumbu masak, bus kota yang kabur menghindari penumpang, orang-orang berlarian, suara-suara tembakan --semuanya berdenyar dan mengabur di depan, di samping, di belakang-- berupa cahaya menyala-nyala, sinar menyambar-nyambar, dan suara hingar-bingar menggelapi dan menggedori kesadaran Tio.

Orang-orang masih berkelebat-kelebat, sementara Tio kemudian memaksakan diri untuk berlari, berlari, terus berlari ke arah tepi keriuhan dan keramaian di sekitar. Tapi tepi keramaian dan keriuhan itu tak juga tampak. Ia masih saja terhadang oleh keramaian dan keriuhan, orang-orang berseliweran, suara-suara tembakan, teriakan-teriakan kalap, dan bau asap, bau asap, bau daging terbakar, bau daging terbakar. Dan langkahnya kemudian semakin berat dan melambat, berat dan melambat, meskipun ia telah berlari menggunakan segenap kemauan dan tenaganya.

Tak tahan lagi, tubuhnya kini limbung dikuyupi keringat dan darah, wajahnya kotor disaput debu tengah hari, dan perasaannya rusuh dilanda cemas mengerikan, ketika rasa perih akibat luka menganga di bagian perutnya --semakin nyata dan menyakitkan. Di masa depan, bila ia masih dapat mengulang-ulang peristiwa nahas pada siang mengesalkan itu, sungguh tak ada tempat terjauh baginya saat itu, kecuali rumah!***

Di Bawah Bulan Separuh

Cerpen Maya Wulan

INI perjalanan pertamaku menjejakkan kaki ke kotamu, kampung kelahiranmu. Tak pernah terbayangkan sebelum ini, aku bisa sampai ke kotamu. Pulau Sumatera sungguh tak pernah masuk dalam peta anganku.

Tetapi, sebulan lalu, tiba-tiba --seperti mimpi-- aku bisa menyeberangi laut dan Selat Sunda. Mimpikah aku? Kau meyakinkan aku, kalau aku dalam dunia nyata. Kau cubit lenganku, kau sentuh pipiku. Terasa kan? Aku mengangguk. Berarti aku memang tidak bermimpi.

Kapal cepat yang menyeberangkan aku dari Dermaga Merak ke Pelabuhan Bakauhuni telah menjadikan nyata bagiku bisa sampai ke kota kelahiranmu. Di sini, pertama sekali yang kucicipi adalah buah durian. Menurutmu buah berkulit duri tajam ini adalah makanan yang nikmat, bisa dibuat apa saja. Bisa dimakan langsung, diawetkan hingga menjadi nama lain yaitu tempoyak, dodol durian. "Atau bisa kita campur sambal untuk lauk makan nasi. Makanmu bisa bergairah, tiga piring tanpa kau sadari bisa masuk ke mulutmu," katamu.

Wow! Aku pun ingin membuktikannya. Lalu kau ajak aku ke Kafe Yayang di Jalan Cut Nyak Dhien Kota Bandar Lampung. Aku menyantap banyak tempoyak yang telah dicampur sambal terasi (kau menyebut sambal khas kampung kelahiranmu ini adalah seruit). Rasanya pedas sekali. Tetapi aku suka. Keringat membasahi wajahku, terutama di bagian kening dan kedua bibirku.

"Kau makan sampai luah iting1," katamu. Aku tersenyum. Tak mengerti maksud bahasamu.

Aku hendak menghentikan makanku, tapi kau terus menyodorkan makanan lainnya. Kau bilang yang terhidang di meja ini semua makanan khas di sini. "Kau bisa mencicipi sekadar, kalau kau sudah kenyang. Kapan lagi kau bisa ke kota ini kalau kau tak mencicipinya sekarang?"

Kau benar. Aku mencicipi semua hidangan yang tersedia. Meski cuma secuil, sekadarnya. Aku jadi ingin berlama-lama tinggal di kotamu. Aku ingin memetik durian langsung dari pohonnya. Kau tahu, tiba-tiba aku mencintai kotamu, seperti aku mencintaimu. Ah, benarkah aku mencintaimu? Kupikir begitu. Meski tak sebesar cintamu padaku.

Cuma, sudah tiga hari di sini aku belum mendengar orang berbicara dengan bahasa ibunya. Tapi dengan bahasa nasional. Aku jadi heran. Kau pun menjelaskan, "Inilah demokratisnya orang Lampung, meski akhirnya bahasanya sendiri seperti tersingkir."

Dan, katamu lagi, "Kami tak pernah terusik. Malah banyak orang asli yang pandai berbahasa etnis lain. Inilah kekuatan kami, terbuka bagi pluralisme," katamu. Aku mengangguk. Tersenyum. Tiba-tiba aku merasa ingin kau gandeng saat menuruni Kafe Diggers, malam ini.

Aku akan menetap di sini selama 3 bulan. Sebagai mahasiswa semester akhir, aku mengambil tugas PKL (Praktik Kerja Lapangan). Aku sengaja memilih PKL di daerahmu agar aku bisa selalu bersama-sama denganmu. Selain itu, katamu sebelum aku mengambil pilihan lokasi PKL, aku bisa mengenal lebih dekat keluargamu secara langsung. Itu kau katakan di suratmu sebelum aku berangkat ke kotamu.

Kalau saja kau melihatku waktu itu, aku hanya mengerutkan keningku seraya berkata dalam hati: Benarkah itu? Benarkah aku telah memilihmu sebagai calon pendamping hidupku? Setahuku aku hanya ingin bisa berduaan denganmu. Itu saja.

"Aku ingin mengenalkanmu pada keluargaku. Terutama orang tuaku dan adik-adikku. Mereka pasti senang menerimamu. Kau gadis Jawa, ayu dan cantik!" pujimu. Aku tersipu. Kurapatkan bibirmu dengan telapak tanganku. Supaya kau tak mengumbar pujian (mungkin rayuan?) untukku.

***
AKU mengira kotamu masih belantara. Masih banyak binatang buas. Menyeramkan. Penjahat beringas. Kenyataannya, kotamu nyaris sama dengan kota-kota lain di negeri ini yang telah maju. Pembangunan sangat pesat. Di sini ada pula swalayan, supermarket, dan bangunan lainnya yang mencerminkan kota maju.

Orang tuaku, terutama ibuku, sempat ragu dengan keputusanku memilih lokasi PKL di kotamu. Ia khawatir aku akan terlantar di kampung halaman orang. Tak bisa lelap karena risau diganggu binatang buas. Itu juga yang membuatmu agak kecewa. Aku memang pernah berkata, "Kalau kau hanya menunjukkan pembangunan yang pesat di daerahmu, sudah tak asing dan khas lagi." Aku setengah protes, tapi setengahnya lagi aku hendak bertahan.

Bagaimanapun kota kelahiranmu memang mengasyikkan. Aku merasakan warganya selalu akur-akur saja, damai-damai saja. Buktinya di sini tak pernah terjadi kerusuhan yang mencapai genting hingga membahayakan keutuhan.

Benarkah itu? Aku masih belum yakin. Berbagai etnis ada di daerah ini, bagaimana mungkin bisa hidup tanpa pernah terjadi pergesekan? Tetapi, sudahlah, aku tak sedang mempersoalkan sosiologi di kampung kelahiranmu.

Sebelum memulai tugas PKL di Desa Bakung2, kau sempat mengajakku mengunjungi Taman Nasional Bukit Barisan di Bengkunat3 yang menawan. Dan jika dikelola, tentunya bisa mendatangkan devisa bagi pemerintah. Aku sempat ketakutan kala warga Bakung melakukan protes soal tanah ulayat dengan perusahaan pabrik gula. Protes itu berkembang menjadi pertikaian. Ada yang tewas dalam insiden itu. Wajar bila warga Bakung protes, karena ganti rugi tanah ulayat mereka yang digunakan ladang tebu oleh pabrik gula milik keluarga Cendana, sungguh tak wajar. Hanya saja dulu mereka tak berani.

Kasus tanah ulayat Bakung itu menarik. Kau memberi banyak informasi dan data tentang itu. "Kau bisa membuat penelitian tentang kasus tanah di situ. Menarik, sangat menarik." Aku tertarik. Kemudian setiap malam aku banyak mengobrol, diskusi, dan masuk ke dalam denyut napas orang-orang Bakung. Kau selalu setia menemaniku.

Aku suka tinggal di rumah orang tuamu daripada di rumah yang disediakan Pak Camat Ari Zamzari selama masa PKL. Rumah tinggalmu terkesan khas: rumah panggung. Suatu hal baru yang tak kujumpai di tanah Jawa. Seluruh penyangga rumahmu terbuat dari kayu. Kayu dari batang yang kuat dan tahan lama. Katamu sudah hampir 70 tahun. Rumah khas seperti itu kini banyak disukai orang-orang berduit dari kota.

Aku jadi ingin menetap di sini kelak. Setelah kau menyunting aku, tentunya. Tetapi, mungkinkah itu? Menurut adatmu, anak tertua sebagai penyimbang, harus menikah dengan gadis asli daerahmu. Kau menyebutnya muli.4 Dengan begitu kau bisa mendapatkan warisan. Anak-anakmu akan mendapatkan gelar dan diperkenankan cakak pepadun.5

Aku yang bukan gadis asli daerah ini bagaimana mungkin bisa mendampingimu? Aku sempat ragu juga. Meski orang tuamu, keluargamu, tampak baik-baik saja denganku. Keluargamu sangat menerima kehadiranku. Itulah yang membuatku betah selama PKL. Namun, diam-diam aku juga bertanya pada diriku sendiri. Sungguhkah aku ingin menikah denganmu? Jangan-jangan tidak. Jangan-jangan aku salah menafsirkan perasaanku padamu. Dan pikiranmu tentangku selama ini keliru. Entahlah. Aku takut dengan rahasia yang kusimpan sendiri. Aku merasa memiliki cinta untukmu. Tapi seberapakah? Dan berhakkah aku?

***
MALAM di Rawa Jitu, aku sempat gemetar. Tulang-tulang persendianku seperti hendak copot. Benar-benar aku dicekam ketakutan. Waktu itu kau tak menemaniku. Kau mendapat tugas mendampingi klienmu di Menggala, ibu kota Tulangbawang.

Bagaimana aku tidak ketakutan. Bahkan aku nyaris mati berdiri. Sekawanan gajah menyerbu perkampungan. Warga menghidupi puluhan obor, tapi kawanan gajah itu tak juga kembali ke belantara. Bahkan parit dengan kedalaman 1,5 meter yang dibuat warga sebagai benteng, bisa dengan mudah dilewati para gajah itu. Kawanan hewan tambun berbelalai panjang itu menggasak rumah-rumah warga. Memorak-porandakan isi rumah, merusak perkebunan warga. Mencabuti ladang singkong dan tebu.

Kami dicekam ketakutan. Kentongan dari kayu tak henti dipukuli. Biar riuh. Agar gajah-gajah itu masuk kembali ke habitatnya. Sayangnya itu sia-sia. Seorang ibu dan dua anak-anak diremukkan dengan belalainya sebelum dilempar ke semak. Mati. Ya, malam itu tiga warga di situ tewas. Pertempuran tak sebanding. Pikirku. Aku benar-benar takut. Gigil. Tiba-tiba aku teringat pada ibuku di Jawa. Apakah ia merasakan apa yang kualami sekarang? Sebuah rasa ketakutan yang sempurna. Aku menyelamatkan diri ke kampung sebelah. Dievakuasi ke daerah lain. Tak hendak lagi menetap di rumah yang disediakan camat. Aku memilih tinggal di rumahmu, bersamamu. Sampai masa PKL-ku selesai.

"Bukankah ini yang kau inginkan?" kau berbisik. Bulan separuh di langit. Kita duduk di bawah pohon jambu dekat rumahmu. Agak temaram. Aku menikmati tanganmu membelai rambutku. Kau masih seperti waktu di kampus dulu. Amat sayang dan memperhatikan aku.

"Sudah berapa lama kita tak seperti ini, ya?"

Kau memandangku sejenak. Kau tak menjawab. Rasanya memang pertanyaanku itu tak memerlukan jawaban. Memang kau lebih dulu selesai. Kau cerdas. Apalagi kau selalu mengambil kuliah pintas, semester pendek. "Aku ingin segera menyelesaikan kuliah. Kasihan orang tuaku di kampung, aku ingin mengabdi pada mereka," katamu. Kau pun berjanji akan tetap bersamaku, akan selalu mencintaiku. "Aku ingin kau menjadi ibu dari anak-anakku…"

Aku percaya. Itu bukan rayuanmu. Kau pun segera bekerja, sebagai pegawai negeri di instansi Departemen Kehakiman. Kau ditempatkan di kantor kejaksaan di kotamu. Surat-suratmu tetap mengalir kuterima. Tapi aku juga tetap membawa rahasia diriku. Tentang cintaku padamu. Yang aku sendiri tak begitu mengerti. Dan kau tak pernah tahu.

"Aku mengagumi ketegasanmu, kekonsistenanmu," aku memuji. Kau hanya tersenyum. Aku getir. Entah kenapa. Merasa bersalahkah? Atau aku mulai bermain lidah? Membohongimu dengan kata-kataku.

Kalau saja tidak karena urusan kuliah dan aku harus segera ujian akhir, mungkin aku akan berlama-lama lagi menetap di kampung kelahiranmu. Aku sudah telanjur jatuh hati dengan kampungmu, dengan keterbukaan warganya, dan keramahan keluargamu. "Terutama denganmu, sayang…" kataku. Tapi bagaimanapun, aku harus pulang. Kembali ke Jawa. Kembali berpisah denganmu. Dengan sebuah rahasia dalam diriku. Tentang cintaku. Diriku.

***
AKU telah mendapat gelar kesarjanaanku. Kau tak datang saat wisudaku karena pekerjaanmu mengharuskan kau tetap ada di kotamu. Aku maklum. Atau….Entahlah. Aku maklum atau justru tak terlalu peduli. Saat itu, di gedung auditorium kampusku, seorang lelaki lain berdiri di sampingku. Ya. Dialah yang mendampingiku selama acara wisudaku berlangsung. Dan, kau tak tahu itu.

Kini aku masih menganggur. Aku tak secerdas kau. Aku harus mencari pekerjaan dengan sekian peluhku. Tak seperti dirimu yang justru dicari-cari pekerjaan. Banyak perusahaan menunggu dan menawarimu pekerjaan bahkan sebelum kau lulus dari universitas.

Bulan demi bulan berjalan dengan cepat. Surat-suratmu masih menyapaku, meskipun semakin jarang saja. Aku tahu kenapa begitu. Bukan karena kau tak mencintaiku lagi, tapi barangkali kau lelah dan bingung. Kau pernah bilang ingin melamarku, tapi ternyata kau harus berhadapan dengan sebuah dinding yang membuatmu begitu dilematis. Keluarga besarmu memang pernah menerimaku dengan baik saat aku di kotamu.

Ya. Mereka menerimaku sebagai tamu mereka. Temanmu. Tapi sesungguhnya, mereka tetap menginginkan kau kelak menikah dengan gadis satu suku denganmu. Berarti bukan aku. Tapi anehnya, aku tak bersedih karena hal itu. Atau berusaha untuk tidak sedih? Atau tidak berani untuk bersedih? Ah. Jika kuingat siapa aku, aku merasa tak berhak untuk bersedih.

Aku mengingat dirimu. Juga surat-suratmu yang kian tak menemuiku di sini. Sedang apakah kau di sana, sayang? Adakah kau mengira aku tengah menangisi nasib cinta kita yang kemungkinan besar tak bisa bersatu? Ah. Tiba-tiba aku ingin sekali memberitahumu yang sebenarnya terjadi padaku di sini.

Aku mencintaimu. Tapi aku tak pernah bisa meyakini diriku sendiri. Aku, sesungguhnya, tak sebaik yang kau kira. Aku bermain di belakangmu. Dengan semua rahasia tentang cintaku. Diriku. Dan kau tak pernah sekali pun tahu. Mungkin, kau tak pernah benar-benar mengenalku. Ataupun kehidupanku. Keluargaku. Terlebih setelah kau menjadi demikian bisu. Jarang menghubungiku.

Keadaan yang mungkin telah membuatmu luka itu, juga surat-suratmu yang hanya sesekali kau kirimkan padaku, malah menjadi alasan untukku menyelamatkan diri darimu. Dengan semua permainanku selama ini di belakangmu. Aduh, sayang, maafkan aku.

Atau aku malah mensyukuri keadaan yang menimpa cinta kita? Mungkinkah aku memang benar-benar mencintaimu? Hanya aku tak berani (malu?) untuk menempuh hidup bersamamu? Aku memang telah tahu keluargamu. Mereka sangat baik, bahkan padaku. Tapi kau sama sekali tidak tahu siapa keluargaku. Iya, kan?

Dan entah kau sadari atau tidak, aku sengaja tak pernah mengajakmu untuk menemui keluargaku. Mengenal ibuku yang menderita sakit sejak aku kembali dari kotamu. Kau pun tak tahu kalau aku tak mempunyai ayah lagi. Sungguh, kau tak mengenalku. Selama ini aku yang kau lihat bukanlah aku yang sebenarnya.

Maka ada rasa senang ketika kutahu keluargamu menolak rencanamu untuk menikahiku. Aku pun tak memrotesmu ketika kau mulai jarang menyuratiku di sini. Mungkin ini yang terbaik untukmu. Karena kau tak tahu aku. Barangkali, kalau kau tahu siapa aku, kau juga akan langsung meninggalkanku begitu saja. Barangkali tak akan pernah ada rencana pernikahan kita di kepalamu.

Aku duduk di sisi kanan ranjang yang menopang tubuh kurus ibuku, di rumah kami yang sempit. Sudah cukup lama ia sakit. Dan sudah begitu banyak obat yang masuk ke perutnya. Tapi ia tak juga beranjak sembuh. Malah sebaliknya. Dadaku sesak. Memikirkan keadaan keluargaku. Ibuku, dan dua adikku yang masih kecil-kecil. Uang yang kumiliki telah terkuras untuk membeli obat-obatan ibuku. Aku beruntung masih bisa menyelesaikan kuliahku.

Aku ingat pada kekasihku di seberang. Semua kenangan indahku bersamanya di kota kelahirannya, masih kuingat dengan sangat rapi. Kini aku tak pernah lagi mendengar kabarnya. Barangkali dia sudah menikah, pikirku. Entahlah. Aku pun ingin menghilang darinya. Saat ini aku harus memfokuskan diriku untuk keluargaku. Agar adik-adikku tidak terlantar. Seperti selama ini akulah tiang keluarga ini. Dan aku berhasil. Bahkan dapat membiayai kuliahku. Meski, cara yang kupilih ini tidak sesuai dengan hatiku sendiri. Tapi, aku terpaksa melakukannya.

Mataku berkaca-kaca. Kesejukan udara pagi berubah menyakitkan bagiku. Suara embun yang menitik di daun kurasakan seperti jarum-jarum yang menusuki dadaku. Aku berusaha menahan rasa sedihku. Di hadapanku, ibuku menghembuskan napasnya yang terakhir. Dua adikku hanya menangis dan menangis. Aku pusing.

Malam menjemputku. Ini malam ke sepuluh setelah kematian ibuku. Kegelapannya seolah berusaha menutupi semua kesedihan yang terlukis di wajahku. Aku masih menganggur. Tapi aku tak mungkin menunggu lebih lama lagi. Aku dan kedua adikku harus melanjutkan hidup kami. Demi mereka, batinku. Maka….

***
AKU telah berdandan rapi. Seperti yang biasa kulakukan selama aku masih kuliah dulu. Kutinggalkan rumah. Ada rasa jengah pada diri sendiri. Tapi kumusnahkan.

Aku kembali pada pekerjaan lamaku. Menjadikan malam-malamku sebagai ajang pertempuran. Pergumulan. Aku membayangkan sekian lembaran uang kertas di tanganku besok pagi.

Seorang lelaki kini tengah menindih tubuhku yang telanjang. Di sebuah hotel, kamar 105…

***
MUNGKIN kau tak akan pernah tahu, atau sama sekali tak mau peduli, tentangku. Aku pun begitu. Tak pernah mengharap, bahkan untuk selembar kabar darimu. Meski kenangan-kenangan semasa aku di kampung kelahiranmu, tak pernah akan pupus.

"Setiap tamu datang dan meminum air sungai ini ia pasti akan kembali. Air sungai ini seperti menghipnotisnya. Sungai Tulangbawang ini kami yakini bertuah," ujarmu. Di bawah bulan separuh. Langit cemerlang. Sungai tua bernama Tulangbawang6 tengah tenang berombak, di kejauhan tampak samar-samar.

Waktu itu aku tak begitu yakin. Itu hanya dongeng. Legenda. Bisa kita lupakan. Ternyata benar. Aku tak akan pernah kembali ke kampung kelahiranmu. Meski kenangan-kenangan itu masih terang di benakku. Juga tentang dirimu. Cinta kita.

Kubiarkan segala kenangan dan cinta kita tetap ada, betapa pun aku telah berpindah-pindah dari lelaki satu ke lelaki yang lain. Masuk hotel dan keluar hotel. Ditiduri. Kota ini akan menyembunyikan diriku. Tak seorang pun tahu. Seperti malam ini, jam di tanganku sudah menunjukkan pukul 03.15, dengan langkah gontai karena kebanyakan air beralkohol kutinggalkan kamar hotel itu.

Pulang. Ya. Sebelum pagi menjemput. Sebelum bulan separuh di atas kepalaku lesap di peraduannya. Aku masih saja terkenang kampung kelahiranmu yang menyimpan selaksa harapan. Ya, harapan…***

Yogyakarta, Agustus 2003

*) Cerpen ini pemenang kedua pada lomba penulisan cerpen Krakatau Awards ke-2/2003 yang diselenggarakan Dewan Kesenian Lampung (DKL).