Koleksi Cerita Pendek Indonesia

Tentang Cerita Kehidupan, Kisah Cinta & Cerita Remaja

Friday, May 07, 2004

Jangan Main-Main dengan Perempuan!

Cerpen Lan Fang

Malam ini aku sungguh terkejut ketika melihat perempuanku berdiri di depanku. Ia bebas!
"Apa yang kau tulis? Apa kau menulis tentang perempuan lagi?" mendadak saja ia sudah mendelik di depanku.
"Kenapa?" tanyaku acuh tak acuh dengan rasa tidak senang.

Menurutku apa yang akan aku tulis adalah urusanku sendiri. Karena apa yang akan aku tuangkan dalam kata-kata adalah apa yang ada di dalam otak dan kepalaku! Jadi bukan wewenang perempuanku untuk melakukan intervensi terhadap apa yang akan aku tulis.

Jujur saja, aku tidak suka dengan kehadirannya di saat aku menulis. Ia selalu mengusikku dengan segala kenyinyirannya sehingga apa yang aku tulis tidak murni dari jari-jemariku sendiri.

Karena ketidaksukaanku itulah, maka ia kupasung selama lima tahun!
Lima tahun yang lalu, bibirnya yang indah kujahit, gigi geliginya kucabut, dan lidahnya kupotong. Lalu bibirnya yang indah itu, gigi geliginya, dan lidahnya, kusimpan di dalam toples yang berisi air keras. Kuawetkan di dalam toples itu! Tidak hanya itu! Kalau boleh aku meminjam istilah Agatha Christie ketika menggambarkan otak Hercule Poirot adalah "sel-sel kelabu"-nya dan semangatnya kukunci di dalam gudang gelap. Dan rongga matanya yang kerap kali mengeluarkan butir-butir air mata, aku cungkili lalu kubekukan di dalam frezer.

Sehingga dalam lima tahun terakhir ini, perempuanku tidak bisa berkata-kata, tidak mempunyai semangat karena sel-sel kelabu di kepalanya tidak berjalan normal, dan tidak bisa mengeluarkan air mata sama sekali! Ia benar-benar seperti robot. Ia tertawa tetapi tidak bisa menyeringai. Ia menangis tetapi tanpa air mata. Ia tubuh tanpa jiwa. Ia bergerak hanya berdasarkan perintahku ketika aku membutuhkannya untuk menyiapkan segelas kopi untukku. Seluruh roda hidupnya kubuat jalan di tempat.

Setiap hari perempuanku sibuk dengan dirinya sendiri. Ia sibuk mencari mulut yang memuat lidah, bibir, dan giginya, juga memunguti kristal-kristal air matanya di dalam frezer, atau merenda sel-sel kelabu di dalam kepalanya dan menyulam semangatnya yang hilang.

"Apa kau menulis tentang perempuan lagi?" suara perempuanku mengelegar kali ini.
Aku tengadah karena terkejut. Jari-jemariku berhenti menari di atas keyboard tuts-tuts laptopku. Dan aku terperanjat tidak kepalang tanggung ketika aku menyadari perempuanku berdiri di depanku dengan begitu perkasa! Jahitan di bibirnya sudah rentas. Gigi geliginya sudah menjadi taring semua. Dan…lidahnya berapi!

Astaga!
Aku larikan pandanganku ke toples berisi air keras di mana aku mengawetkan organ-organ mulut perempuanku. Semua masih lengkap di dalam toples itu…

"Bah! Kau kira kau bisa memasung mulutku untuk selamanya?" Ia bertanya dengan ketus.
Aku berlari ke gudang gelap di mana aku menyekap sel-sel kelabu otak dan semangatnya. Semua masih ada di tempatnya.

"Kau pikir aku tidak bisa mendapatkan sel-sel kelabu dan semangat baru?" Ia bertanya dengan nada mencemooh.
Aku berlari lagi membuka frezer. Kulihat butir-butir air matanya yang membeku masih menjadi stalagnit dan stalagtit di sana. Tidak ada yang berubah.

"Kau mau aku tidak bisa tertawa dan menangis untuk selamanya kan? Kau kira semudah itu?" Suaranya terdengar sampai di tempat aku berdiri.
"Lalu apa maumu?" kudengar nada suaraku setengah putus asa.

Aku berjalan gontai dengan bahu lesu kembali ke tempat dudukku. Aku merasa seperti ada sebuah bahaya laten yang mengancamku. Naluriku mengatakan bahwa perempuanku sekarang lebih berbahaya dibanding lima tahun lalu.

"Jangan main-main dengan perempuan!!!" jawabnya cepat dan tegas.
"Apa?!"

"Jangan main-main dengan perempuan!!!" Ia mengulangi kalimatnya.
"Aku tidak mengerti apa maksudmu..."

"Baik. Sekarang giliranmu untuk duduk dan mendengarkan kata-kataku. Tutup laptopmu. Karena aku muak dengan semua tulisanmu yang gentayangan di dunia perempuan. Sekarang aku ingin kamu menulis tentang laki-laki!" perintahnya seperti seorang juragan.

Nah…nah…nah…, inilah salah satu alasan kenapa aku memasungnya lima tahun lalu. Ia benar-benar seperti seorang juragan, seorang boss, seorang atasan, seorang direktur, kalau sudah mengeluarkan kata-kata. Ia perempuan yang bisa membuat kebanyakan orang mengiyakan semua kata-katanya.

Tetapi, tidak aku!
Justru aku adalah orang yang membuatnya mati dari kata-kata. Memasungnya mati dari emosi. Membuatnya tidak peduli dengan dunia sekitarnya. Kusibukkan ia dengan mencari mulut, sel-sel kelabu, semangat, dan air matanya.

Perempuanku mengambil posisi duduk di depanku. Ia pandangi aku dengan matanya yang berapi. Lalu mulai bicara lagi dengan lidahnya yang berapi pula.

"Aku ingin kamu menulis tentang laki-laki!" Ia mengulangi kata-katanya.
"Aku tidak bisa..."

"Harus bisa!" potongnya cepat. "Sudah terlalu banyak dan sudah terlalu lama perempuan dipermainkan dari segala segi. Coba kamu lihat semua iklan di televisi, mulai makanan, sabun, elektronik, pakaian dalam, obat datang bulan sampai obat panu kadas dan kurap, semua memakai perempuan," ia mulai nyerocos dengan intonasi suara yang semakin lama semakin tinggi.

"Itu namanya perempuan mempunyai nilai jual karena indah dan menarik."
"Bah! Perempuan mempunyai nilai jual? Apa maksudnya perempuan itu menarik? Lalu dengan alasan menarik itu kalian, kaum laki-laki, dengan seenaknya saja mempelajari dan membedah perempuan bukan saja secara visual tetapi juga secara riil. Dokter-dokter kandungan mengobok-obok perempuan mulai dari labia mayora, labia minora, saluran falopii, uterus, bahkan menjadikannya kelinci percobaan untuk proses inseminasi, bayi tabung, bahkan mungkin program cloning di kemudian hari, dengan alasan kemajuan ilmu kedokteran."

"Itu namanya kodrat. Karena itu perempuan berharga..."
"Apa katamu?" Ia seperti harimau meradang.
Matanya semakin berapi. Lidahnya semakin membara.

"Perempuan berharga?! Kalau perempuan berharga kenapa undang-undang perkawinan hanya mengatur tentang poligami? Kenapa tidak mengatur tentang poliandri? Kenapa kalau perempuan tidak bisa memberikan keturunan bisa menjadikan alasan bagi laki-laki untuk kawin lagi? Bagaimana dengan laki-laki yang impoten, azospermia, ejakulasi dini, atau apa saja namanya..., bisakah dijadikan alasan buat perempuan kawin lagi? Di mana hukum perkawinan kita menempatkan bahwa perempuan itu berharga?"

"Ah…kau lebih baik menjadi aktivis perempuan dan ikut demo di bundaran Hotel Indonesia saja sambil membawa spanduk besar-besar membela hak asasi perempuan," aku mulai kalah omong.

Nah…nah…nah…, wajar kan kalau perempuanku kupasung lima tahun lalu? Memang semua yang dikatakannya benar dan masuk akal. Tetapi juga benar-benar membuat posisi laki-laki berbahaya.

"Kalian, kaum laki-laki, masih belum cukup puas dengan itu. Semua wartawan koran masih saja menulis tentang perempuan yang diperkosa dengan visum et repertum vagina sobek dan selaput dara rusak, lalu dibunuh, dipotong-potong dan dibuang. Kenapa tidak pernah ada berita seperti ini...hm..." Ia kelihatan berpikir sejenak. "Begini...: Telah ditemukan mayat seorang laki-laki di atas tempat tidur dalam keadaan telanjang dengan bagian-bagian tubuh terpotong-potong, kepala lepas dari tubuhnya, dan menggigit penis yang dijahitkan ke mulutnya sendiri. Bagaimana?"

Huek!
Tetapi perempuanku justru tertawa terkekeh-kekeh sampai air matanya meleleh.

Setelah lima tahun, baru kali ini aku melihat matanya mengeluarkan air mata lagi, bibirnya menyeringai tertawa, dan ada nada suara yang keluar dari labirin tenggorokannya.

Aku tidak tahu apa makna tertawanya. Ia sukakah? Gelikah? Getirkah? Atau mungkin aku terlalu lama memasung perempuanku sehingga aku sendiri tidak mengenal makna tertawanya dan tidak bisa membaca arti air matanya? Aku tidak kenal dengan perempuanku sendirikah?

Sehabis tertawanya yang cukup lama, ia menarik nafas panjang. Mengambil sebatang rokokku di atas meja, menyulutnya dengan lidahnya yang berapi. Ia memang tidak memerlukan korek api lagi karena lidahnya sudah berapi.

"Sekarang, kalian yang mengaku penulis, juga beramai-ramai menulis tentang perempuan. Kalian telanjangi perempuan di atas kertas sampai tidak ada ruang untuk sembunyi lagi untuk perempuan. Kalian geluti dan perkosa perempuan beramai-ramai dari visualnya, haknya, organnya, emosinya, air matanya, juga kelaminnya!"

"Ng… karena perempuan menarik. Ia marah menarik, ia tertawa menarik, ia menangis juga menarik, ia telanjang…apalagi. Menarik sekali!"
"Ya, kalian telanjangi perempuan habis-habisan."

"Karena menelanjangi perempuan itu nikmat."
"Kenapa tidak menelanjangi pemikirannya, ide-idenya, semangatnya, kekuatannya, atau telanjangi penderitaan dan rasa sakitnya?" kata-katanya seperti peluru keluar dari moncong senapan.

Sementara itu asap rokoknya mengepul sambung-menyambung seperti asap lokomotif kereta api.

Aku terdiam.
"Atau... karena kalian cuma main-main dengan perempuan..." Ia menutup kata-kata dengan nada sumbang.

Mungkin ya.
Mungkin?

Ya. Mungkin.
Perempuan memang obyek yang menarik untuk dijadikan mainan kata-kata, mainan imajinasi, mainan emosi, juga mainan inspirasi. Tetapi jika ternyata "permainan" dengan perempuan itu akhirnya menimbulkan ketimpangan dan ketidakadilan seperti yang dirasakan oleh perempuanku, aku masih tidak tahu harus meletakkan masalahnya di mana.

Apakah memang perempuan adalah obyek lemah yang mudah dipakai sebagai mainan? Atau memang perempuan justru obyek kuat yang menikmati dirinya ketika dipergunakan sebagai mainan? Apakah perempuan memang begitu menarik dan berharga dari segala segi sehingga menjadi komsumsi pasar, teknologi, sampai kepada para pujangga dan seniman? Atau sebaliknya, perempuan justru sangat rendah sehingga tidak mempunyai persamaan hak di dalam hukum dan seks?

Tetapi bagaimanapun perempuan, apakah ia kuat atau lemah, apakah ia berharga atau rendah, ternyata ia tetap menjadi "obyek". Karena begitu ia ingin mengganti posisinya menjadi "subyek", maka seperti aku, kaum laki-laki akan memasungnya. Karena sebagaimana yang kupikirkan, jika perempuan menjadi "subyek" maka ia akan membahayakan posisi laki-laki.

Karena ia adalah mahluk lemah sekaligus kuat, ia direndahkan tetapi dibutuhkan, ia tidak berarti apa-apa tetapi sangat berharga!
Tengah aku masih sibuk dengan debat kusirku sendiri, perempuanku mendekat dan berkata, "aku ingin bercinta denganmu malam ini…"

Ia hembuskan sebuah udara dari mulutnya yang merupakan campuran dari nafasnya yang wangi dan kepulan asap rokok. Begitu seksi dan menggoda. Tetapi aku lebih merasakan itu sebagai sebuah perintah daripada sebuah permintaan.

Aku gemetar.
"Tidak, aku tidak berani main-main dengan perempuan..." ***

Surabaya, Maret 2004
Inspired by: Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu) karya Djenar Maesa Ayu.

Thursday, May 06, 2004

Rizal dan Mbah Hambali

Cerpen: A. Mustofa Bisri

Sebagai lelaki, sebetulnya umur 37 tahun belum terbilang tua benar. Tapi Rizal tak tahu mengapa kawan-kawannya selalu mengejeknya sebagai bujang lapuk, hanya karena dia belum kawin. Orang tuanya sendiri, terutama ibunya, juga begitu. Seolah-olah bersekongkol dengan kawan-kawannya itu; hampir di setiap kesempatan selalu menanyainya apakah dia sudah mendapatkan calon pendamping atau belum. Rizal selalu menanggapi semua itu hanya dengan senyum-senyum.

Jangan salah sangka! Tampang Rizal tidak jelek. Bahkan dibanding rata-rata kawannya yang sudah lebih dahulu kawin, tampang Rizal terbilang sangat manis. Apalagi bila tersenyum. Sarjana ekonomi dan aktivis LSM. Kurang apa?

"Terus teranglah, Zal. Sebenarnya cewek seperti apa sih yang kau idamkan?" tanya Andik menggoda, saat mereka berkumpul di rumah Pak Aryo yang biasa dijadikan tempat mangkal para aktivis LSM kelompoknya Rizal itu. "Kalau tahu maumu, kita kan bisa membantu, paling tidak memberikan informasi-informasi."

"Iya, Zal," timpal Budi, "kalau kau cari yang cantik, adikku punya kawan cantik sekali. Mau kukenalkan? Jangan banyak pertimbanganlah! Dengar-dengar kiamat sudah dekat lho, Zal."

"Mungkin dia cari cewek yang hafal Quran ya, Zal?!" celetuk Eko sambil ngakak. "Wah kalau iya, kau mesti meminta jasa ustadz kita, Kang Ali ini. Dia pasti mempunyai banyak kenalan santri-santri perempuan, termasuk yang hafizhah."

"Apa ada ustadz yang rela menyerahkan anaknya yang hafizhah kepada bujang lapuk yang nggak bisa ngaji seperti Rizal ini?" tukas Edy mengomentari.

"Tenang saja, Zal!" ujar Kang Ali, "kalau kau sudah berminat, tinggal bilang saja padaku."

"Jangan-jangan kamu impoten ya, Zal?" tiba-tiba Yopi yang baru beberapa bulan kawin ikut meledek. Rizal meninju lengan Yopi, tapi tidak mengatakan apa-apa. Hanya tersenyum kecut.

"Tidak sumbut dengan tampilannmu," celetuk Pak Aryo ikut nimbrung sehabis menyeruput kopinya. "Tampang boleh, sudah punya penghasilan lumayan, sarjana lagi; sama cewek kok takut! Aku carikan bagaimana?"

"Jawab dong, Zal!" kata Bu Aryo yang muncul menghidangkan pisang goreng dan kacang rebus, mencoba menyemangati Rizal yang tak berkutik dikerubut kawan-kawannya.

"Biar saja, Bu," jawab Rizal pendek tanpa nada kesal. "Kalau capek kan berhenti sendiri."

Memang Rizal orangnya baik. Setiap kali diledek dan digoda kawan-kawannya soal kawin begitu, dia tidak pernah marah. Bahkan diam-diam dia bersyukur kawan-kawannya memperhatikan dirinya. Dan bukannya dia tidak pernah berpikir untuk mengakhiri masa lajangnya; takut pun tidak. Dia pernah mendengar sabda Nabi yang menganjurkan agar apabila mempunyai sesuatu hajat yang masih baru rencana jangan disiar-siarkan. Sudah sering --sampai bosan-- Rizal menyatakan keyakinannya bahwa jodoh akan datang sendiri, tidak perlu dicari. Dicari ke mana-mana pun, jika bukan jodoh pasti tidak akan terwujud. Jodoh seperti halnya rezeki. Mengapa orang bersusah-payah memburu rezeki, kalau rezeki itu sudah ditentukan pembagiannya dari Atas. Harta yang sudah di tangan seseorang pun kalau bukan rezekinya akan lepas. Dia pernah membaca dalam buku "Hikam"-nya Syeikh Ibn ’Athaillah As-Sakandarany sebuah ungkapan yang menarik, "Kesungguhanmu dalam memperjuangankan sesuatu yang sudah dijamin untukmu dan kesambalewaanmu dalam hal yang dituntut darimu, membuktikan padamnya mata-hati dari dirimu."

Setiap teringat ungkapan itu, Rizal merasa seolah-olah disindir oleh tokoh sufi dari Iskandariah itu. Diakuinya dirinya selama ini sibuk --kadang-kadang hingga berkelahi dengan kawan-- mengejar rezeki, sesuatu yang sebetulnya sudah dijamin Tuhan untuknya. Sementara dia sambalewa dalam berusaha untuk berlaku lurus menjadi manusia yang baik, sesuatu yang dituntut Tuhan.
"Suatu ketika mereka akan tahu juga," katanya dalam hati.
***
Syahdan, pada suatu hari, ketika kelompok Rizal berkumpul di rumah Pak Aryo seperti biasanya, Kang Ali bercerita panjang lebar tentang seorang "pintar" yang baru saja ia kunjungi. Kang Ali memang mempunyai kesukaan mengunjungi orang-orang yang didengarnya sebagai orang pintar; apakah orang itu itu kiai, tabib, paranormal, dukun, atau yang lain. "Aku ingin tahu," katanya menjelaskan tentang kesukaannya itu, "apakah mereka itu memang mempunyai keahlian seperti yang aku dengar, atau hanya karena pintar-pintar mereka membohongi masyarakat sebagaimana juga terjadi di dunia politik." Karena kesukaannya inilah, oleh kawan-kawannya Kang Ali dijuluki pakar "orang pintar".

"Meskipun belum tua benar, orang-orang memanggilnya mbah. Mbah Hambali. Orangnya nyentrik. Kadang-kadang menemui tamu ote-ote, tanpa memakai baju. Kadang-kadang dines pakai jas segala. Tamunya luar biasa; datang dari segala penjuru tanah air. Mulai dari tukang becak hingga menteri. Bahkan menurut penuturan orang-orang dekatnya, presiden pernah mengundangnya ke istana. Bermacam-macam keperluan para tamu itu; mulai dari orang sakit yang ingin sembuh, pejabat yang ingin naik pangkat, pengusaha pailit yang ingin lepas dari lilitan utang, hingga caleg nomor urut sepatu yang ingin jadi. Dan kata orang-orang yang pernah datang ke Mbah Hambali, doa beliau memang mujarab. Sebagian di antara mereka malah percaya bahwa beliau waskita, tahu sebelum winarah."

Pendek kata, menurut Kang Ali, Mbah Hambali ini memang lain. Dibanding orang-orang "pintar" yang pernah ia kunjungi, mbah yang satu ini termasuk yang paling meyakinkan kemampuannya.

"Nah, kalau kalian berminat," kata Kang Ali akhirnya, "aku siap mengantar."

"Wah, ide bagus ini," sahut Pak Aryo sambil merangkul Rizal. "Kita bisa minta tolong atau minimal minta petunjuk tentang jejaka kasep kita ini. Siapa tahu jodohnya memang melalui Mbah Hambali itu."

"Setujuuu!" sambut kawan-kawan yang lain penuh semangat seperti teriakan para wakil rakyat di gedung parlemen. Hanya Rizal sendiri yang, seperti biasa, hanya diam saja; sambil senyum-senyum kecut. Sama sekali tak ada tanda-tanda dia keberatan. Apakah sikapnya itu karena dia menghargai perhatian kawan-kawannya dan tak mau mengecewakan mereka, atau sebenarnya dia pun setuju tapi malu, atau sebab lain, tentu saja hanya Rizal yang tahu. Tapi ketika mereka memintanya untuk menetapkan waktu, dia tampak tidak ragu-ragu menyebutkan hari dan tanggal; meski seandainya yang lain yang menyebutkannya, semuanya juga akan menyetujuinya, karena hari dan tanggal itu merupakan waktu prei mereka semua.
***
Begitulah. Pagi-pagi pada hari tanggal yang ditentukan, dipimpin Kang Ali, mereka beramai-ramai mengunjungi Mbah Hambali. Ternyata benar seperti cerita Kang Ali, tamu Mbah Hambali memang luar biasa banyaknya. Pekarangan rumahnya yang luas penuh dengan kendaraan. Dari berbagai plat nomor mobil, orang tahu bahwa mereka yang berkunjung datang dari berbagai daerah. Rumahnya yang besar dan kuno hampir seluruh ruangnya merupakan ruang tamu. Berbagai ragam kursi, dari kayu antik hingga sofa model kota, diatur membentuk huruf U, menghadap dipan beralaskan kasur tipis di mana Mbah Hambali duduk menerima tamu-tamunya. Di dipan itu pula konon si mbah tidur. Persis di depannya, ada tiga kursi diduduki mereka yang mendapat giliran matur.

Ternyata juga benar seperti cerita Kang Ali, Mbah Hambali memang nyentrik. Agak deg-degan juga rombongan Rizal cs melihat bagaimana "orang pintar" itu memperlakukan tamu-tamunya. Ada tamu yang baru maju ke depan, langsung dibentak dan diusir. Ada tamu yang disuruh mendekat, seperti hendak dibisiki tapi tiba-tiba "Au!" si tamu digigit telinganya. Ada tamu yang diberi uang tanpa hitungan, tapi ada juga yang dimintai uang dalam jumlah tertentu.

Giliran rombongan Rizal cs diisyarati disuruh menghadap. Kang Ali, Pak Aryo, dan Rizal sendiri yang maju. Belum lagi salah satu dari mereka angkat bicara, tiba-tiba Mbah Hambali bangkit turun dari dipannya, menghampiri Rizal. "Pengumuman! Pengumuman!" teriaknya sambil menepuk-nepuk pundak Rizal yang gemetaran. "Kenalkan ini calon menantu saya! Sarjana ekonomi, tapi nyufi!" Kemudian katanya sambil mengacak-acak rambut Rizal yang disisir rapi, "Sesuai yang tersurat, kata sudah diucapkan, disaksikan malaikat, jin, dan manusia. Apakah kau akan menerima atau menolak takdirmu ini?"

"Ya, Mbah!" jawab Rizal mantap.
"Ya bagaimana? Jadi maksudmu kau menerima anakku sebagai istrimu?"

"Ya, menerima Mbah!" sahut Rizal tegas.
"Ucapkan sekali lagi yang lebih tegas!"

"Saya menerima, Mbah!"
"Alhamdulillah! Sudah, kamu dan rombonganmu boleh pulang. Beritahukan keluargamu besok lusa suruh datang kemari untuk membicarakan kapan akad nikah dan walimahnya!"

Di mobil ketika pulang, Rizal pun dikeroyok kawan-kawannya.
"Lho, kamu ini bagaimana, Zal?" kata Pak Aryo penasaran. "Tadi kamu kok ya ya saja, seperti tidak kau pikir."

"Kau putus asa ya?" timpal Budi. "Atau jengkel diledek terus sebagai bujang lapuk, lalu kau mengambil keputusan asal-asalan begitu?"
"Ya kalau anak Mbah Hambali cantik," komentar Yopi, "kalau pincang atau bopeng, misalnya, bagaimana?"

"Pernyataanmu tadi disaksikan orang banyak lho," kata Eko mengingatkan. "Lagi pula kalau kau ingkar, kau bisa kualat Mbah Hambali nanti!"
"Jangan-jangan kau diguna-gunain Mbah Hambali, Zal!" kata Andik khawatir.

Seperti biasa, Rizal hanya diam sambil senyum-senyum. Kali ini tidak seperti biasa, Kang Ali juga diam saja sambil senyum-senyum penuh arti. ***
Rembang, 2004

Tuesday, May 04, 2004

Orang Bernomor Punggung

Cerpen Azhari

Dua puluh satu kali ia sudah memalingkan wajahnya ke belakang. 21 kali pula ia lihat ada barisan raya yang mengejarnya. Dalam lari, dalam dengus nafas yang memberat ia merasakan barisan raya itu kian merapat, tinggal setombak, lalu sedepa, dengan semena menyentakkan ujung bajunya. Merebahkannya. Meringkusnya.

Ia terus berlari. Lewat lubang telinganya yang menyesak ia dengar raung yang menghasut. Lewat pincing matanya ia lihat puluhan anak panah, bukan puluhan, ratusan anak panah menyongsongnya dari belakang. Juga beliung, kapak, dan tombak. Ia bungkukkan badannya serupa babi menyuruk, ia berlari sambil menyujudkan badannya. Menghindari segala serbuan.

Ia berlari menyibak perdu, melompati sungai, menerabas segala rimba, menjauh dari barisan raya yang tambah menyungkup, tambah mendekat. Ia terus berlari.
* * *
Ia alit. Tapi badannya tegap. Pun hitam legam. Seluruh badannya dipenuhi bintik-bintik bekas terserang sesuatu yang kelak kita menamakannya sebagai cacar.

Ia datang ke kampung itu tiba-tiba. Ia datang seperti wabah yang tak hendak kembali. Ia ditemukan oleh para pencari rotan tersungkur di antara pematang tinggi yang mengapit dua ngarai. Ia sepertinya habis menaiki ngarai yang memang curam itu dengan susah-payah. Orang itu sekarat. Matanya yang tertutup bagai menyerapahi maut kenapa tak segera menghampirinya. Kalau kau sibak sedikit saja kelopak yang tertutup itu kau akan melihat ketakutan yang luar biasa di sana. Seluruh tubuhnya dicabik onak hutan.

Lalu para pencari rotan mengusungnya ke balai kampung. Orang kampung merawatnya. Menyembur seluruh tubuhnya dengan air sirih.

"Ia kepergok Pook," kata sang penyembur sirih. Pook adalah roh pemilik hutan. Para wanita yang menyaksikan kejadian itu menyungkup bayi-bayi mereka di kebusungan dadanya, mengucapkan lafaz penolak-bala agar bayi-bayi mereka tak terkena. Dan mereka meninggalkan tempat di mana orang itu dilentangkan --pada sebuah balai dari bambu-- sambil menggiring kanak-kanak.

Sebelas hari lamanya ia dalam perawatan. Sampai kemudian ia dinyatakan bugar kembali. "Wahai anak muda. Sekarang kau telah bugar. Kami telah menjalankan kewajiban menolong sesama manusia. Nah, sekarang kau boleh pergi," begitu kata tetua kampung setelah kesembuhannya.

Ia tak menjawab. Selama sebelas hari ia memang tak berbicara sepatah kata. Cuma mengangguk. Cuma menggeleng. Ia ketakutan luar biasa.
"Ia bisu!?" seru seseorang di tengah kerumunan. Ihwal sesuatu orang kampung memutuskannya di tempat terbuka dan diketahui khalayak.

"Tidak. Ia tidak bisu. Cuma ketakutan. Ia masih membayangi Pook," kata tetua kampung.

"Baiklah anak muda. Waktumu sebulan. Untuk sementara kau tinggal di rumahku. Setelahnya kau boleh pergi. Terserah. Atau kau mau menetap tinggal di kampung ini. Maksudku, tidak di dalam kampung. Di luar kampung kau boleh bangun rumah jauh dari pemukiman kami. Di batas kampung dengan hutan. Aku harus arif, banyak orang kampung masih gentar dengan kehadiranmu, mereka takut Pook mendatangi kediaman mereka karena mencium bau kau di tengah-tengah kampung. Dan itu tentunya menimbulkan masalah bagi mereka!" kata tetua kampung mengakhiri pertemuan itu.

Begitulah orang itu tidak pergi, tapi memilih membangun rumah di batas kampung dengan hutan. Ia membangun sebuah rumah kecil sendiri, dan menolak dengan halus ketika orang kampung ramai-ramai menawarkan tenaga mereka. Ia mengatakan bahwa selama ini orang kampung telah banyak menolongnya.

Berbilang tahun ia tinggal di gubuk kecil batas antara kampung dan hutan. Ia sudah beristri pula. Ia persunting seorang gadis kampung. Untuk menghidupi keluarganya ia menjadi pembelah kayu. Tiga hari sekali ia akan mengangkut kayu di dalam hutan. Menumpuknya di dekat perigi yang digalinya sendiri. Seminggu lamanya ia akan membelah gelondongan itu menjadi kayu-kayu kecil, disatukannya dalam ikatan-ikatan kecil sepelukan besarnya. Ia tidak membawanya ke pasar. Tapi orang-orang akan datang ke tempatnya untuk membelinya sebagai kayu bakar.

Nah, selagi ia membelah kayu, orang-orang yang datang membeli kayu bakar, tentu dilayani istrinya, dapat melihat tubuhnya yang kekal --ia tak memakai baju-- naik-turun mengikuti irama belahan. Sungguh bukan tubuh kekarnya yang menarik hati. Tapi sebuah rajah yang seperti terpahat di punggungnya --sedikit di bawah kuduk-- yang membuat orang-orang takjub. Rajah itu berbentuk 81. Sedalam setengah senti. Ia akan terkekeh kalau ada orang yang menanyakan perihal rajah itu (tapi sebenarnya ia tak dapat menyembunyikan ketakutan yang terkubur di kedalaman matanya setiap orang menanyakan ihwal itu). Maka dari itulah orang-orang menyebut dia sebagai si Bernomor Punggung. Atau Orang Bernomor Punggung.

Ia seorang yang lata. Keluarga si Bernomor Punggung nyaris tak memiliki persoalan tetek-bengek dengan para tetangga yang memang rumah mereka berjauhan. Bukan pula dia tak terlibat dengan pelbagai kegiatan di kampung. Banyak hal yang telah disumbangkannya kepada kampung. Awalnya orang kampung itu tak mengenal sumur. Karena kebiasaan mereka menciduk air yang melarung dari gunung membentuk batang sungai yang membelah kampung mereka. Jernih nian dan melimpah airnya. Tapi jika musim kemarau tiba batang sungai itu akan kering. Dan orang-orang kampung akan mengangkutnya naik-turun sepikulan bambu dari gunung yang berdepa-depa jauhnya. Diperkenalkannya sumur. Digalinya dalam-dalam tanah tandus itu sehingga air jernih menyembur. Diperkenalkannya pula timba dari pelepah pinang yang kedua sisinya dijahit dengan rotan.

Tak masalah pula jika ada seorang-dua yang tak membayar kayu bakar yang dibelahnya. Ia tak akan mengungkit-cungkilnya. Ia akan mengikhlaskannya. Tak menganggapnya sebagai piutang. Sungguh ia seorang yang lata. Dengan riang si Bernomor Punggung akan mengangkut kembali bergelondongan kayu karunia hutan, membelahnya sehingga menampakkan rajah 81 yang menceruk setengah senti di punggungnya, mengikat-ikatnya sepelukan besarnya.

Kanak-kanak berkarib baik dengannya. Kadang, jika musim buah-buahan hutan ia akan membawa serta beranting-ranting buah bersama gelondongan kayu. Dibagikannya kepada para karib kecilnya. Pun kanak-kanak itu dibuatkannya mainan dari sisa belahan yang terlampau bagus kalau sekadar dijadikan kayu pembakar. Kanak-kanak menyebutnya Pook yang baik. Ada beberapa kanak-kanak yang meminta kesediaannya agar diizinkan membenam jari kecil mereka di kedalaman rajah 81 di punggungnya. Dengan senang hati ia akan membungkukkan badannya dan kanak-kanak itu berbaris dengan tak sabar menunggu giliran. Ketika ada jari kecil yang melayari kedalaman rajah di punggungnya ia akan menggeliatkan badannya. Terbahak. Merasakan kegelian yang tak terperikan.

Dan orang-orang kampung masih saja tetap menganggap si Bernomor Punggung sebagai sesuatu yang didatangkan dengan tiba-tiba. Semacam Pook yang baik yang diturunkan khusus untuk membuatkan mereka perigi dan menyenangkan hati kanak-kanak mereka.

Tak jadi persoalan bagi si Bernomor Punggung orang-orang kampung ingin menganggapnya sebagai apa. Bukankah hidupnya sungguh bahagia? Apalagi tatkala ia mengetahui istrinya tengah mengandung. Aha, si Bernomor Punggung akan beroleh keturunan. Membuat si Bernomor Punggung semakin giat bekerja.

Hingga pada suatu masa. Beberapa orang kampung tersungkur. Bukan beberapa tapi semua orang kampung. Kecuali si Bernomor Punggung. Berhari-hari dalam panas dan gatal tak terperikan. Badan mereka dipenuhi bilur-bilur yang menggelembung. Meletup --menyembur cairan. Bilur-bilur yang tak terpulihkan dengan semburan sirih. Mereka terkena sejenis wabah yang kelak kita menamakannya cacar. Bukan wabah yang mengerikan memang. Si Bernomor Punggung tak mempan. Entah mengapa tak ada yang dapat menjelaskannya, juga si Bernomor Punggung. Orang-orang kampung takjub sekaligus kagum melihat si Bernomor Punggung tak apa-apa.

"Terang saja punggungnya berjimat."
"Ia Pook!"

"Siapkan pembakaran. Ia titisan wabah," perintah tetua kampung.
"Ia harus dibakar," seru yang lainnya.

Orang kampung bersegera menyiapkan upacara tolak bala. Si Bernomor Punggung harus dibakar hidup-hidup. Juga rumah dan isinya. Berat memang bagi orang kampung mengingat kebaikan hati si Bernomor Punggung, tapi adat harus dijalankan. Dengan itulah mereka berharap kampung dapat diselamatkan dari wabah.

Dan sungguh si Bernomor Punggung menerimanya dengan ikhlas. Ia tak mengerti kenapa ia harus dibakar. Sama seperti orang kampung tak mengerti kenapa ia tak terkena wabah, dan berajah 81. Dengan kapak di tangan, si Bernomor Punggung duduk di ruang tamu menunggu api yang berjilat-jilat membakar tubuhnya. Perihal rajah si Bernomor Punggung membawanya sampai ajal. Sampai daging tubuhnya berderik, tulang-tulangnya mengertap dipanggang api.

Prosesi banal itu dijalankan hampir malam. Masing-masing orang kampung memegang satu suluh, suluh dari buluh yang ujungnya disumpal dengan daun kelapa kering. Melingkar mengepung rumah. Sebuah suluh dilemparkan ke atap rumah pada pusingan pertama. Sebuah lagi pada pusingan kedua. Atap memerah. Diikuti dinding. Suluh-suluh dilemparkan pada pusingan berikutnya. Api mengerucut. Menderitkan kayu-kayu sanggaan yang patah. Orang-orang memberai dari lingkaran. Menanap dari jauh. Bayang api menari-nari di permukaan pipi setiap orang. Terdengar sayup isak istri si Bernomor Punggung dengan suluh di tangan yang urung dilemparkan. Seorang bocah memegang erat sebelah tangannya yang lain. Seorang bocah dengan manik mata memerah menyaksikan tumpukan api. Pun kanak-kanak lain dengan manik mata memerah menyaksikan liuk api.

21 kali ia dengar sayup isakan itu. Dalam api, dalam dengus yang memberat ia merasakan panas kian mendekat. Menyengat segala bulu dan kulit. Ia masih merasakan harum dagingnya yang terbakar. Ia merasakan ketakutan itu kembali. Ketakutan saat diburu barisan raya yang mengejarnya. Mengejar buron kerajaan dengan nomor punggung 81. Panas tambah menyungkup. Tambah merapat. ***

Azhari. Lahir 5 Oktober 1981 di pinggir Banda Aceh. Menulis esai dan cerita yang terhimpun di dalam lebih sepuluh antologi bersama, dan di koran-koran lokal dan nasional. Mengeditori beberapa buku. Cerpenis terbaik nasional 2003 (versi Depdiknas dan CWI). Mengurus Komunitas Tikar Pandan Banda Aceh, sebuah kantong budaya yang di dalamnya terdiri atas: kelompok diskusi (Metamorfosa Institut), ruang pertunjukan alternatif (Rumah Seni Titik Tolak), dan jurnal seni (Titik Tolak). Saat ini sedang menyelesaikan bab kedua novelnya: Pemberontakan Tujuh.

Monday, May 03, 2004

Bukan (Anak) yang Pertama

Cerpen Tarti Khusnul Khotimah

Malam, lewat pukul sembilan. Di kamar, Zahra dan suaminya, Ali, baru saja selesai menidurkan kedua anak mereka --Hasan, lima tahun, dan Laila, dua setengah tahun.

"Ayah, sudah 30 hari lebih kok belum nongol-nongol juga ya… bulannya? Padahal, biasanya hanya selang 27 atau 28 hari. Apakah…?" sambil menerawang, Zahra tak meneruskan kalimatnya.

Hening. Diliriknya suaminya yang berbaring di sampingnya. Tak bereaksi --seperti biasanya, tenang-- entah sedang mencari-cari kata jawaban yang pas atau memang menurutnya tak perlu berkomentar.

Kesunyian menguasai mereka berdua, semuanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Hanya, tak lama kemudian Ali beringsut dan dengan penuh kasih sayang dikecupnya kening Zahra dan dielus-elusnya perut istrinya yang sangat dicintainya itu.

"Kurasa tidak adil...," keluh Zahra, memecah kesunyian, "mengapa kehadiran apa pun, jika ia bukan yang pertama, dianggap tidak istimewa dan biasa-biasa saja? Mengapa ia tak disambut sebagaimana mestinya?" lanjutnya setengah sewot.

Lagi-lagi, tak sepatah kata pun keluar dari mulut suaminya. Tak jelas apa yang sedang berkecamuk di hati suaminya itu.

Entah mengapa, Zahra akhir-akhir ini sering memendam perasaan khawatir akan masa depan yang harus dilaluinya. Hingga kini, mereka yang telah dikaruniai dua anak itu, masih menumpang hidup di rumah orang tua Ali. Padahal orang tua Ali sendiri masih harus menanggung beban lima anak yang lain --adik-adik Ali-- yang kesemuanya masih membutuhkan biaya kuliah atau sekolah.

Sekitar enam tahun yang lalu Zahra dan Ali menikah. Waktu itu mereka berdua masih sama-sama kuliah tingkat akhir, tinggal skripsi. Sebenarnya Zahra ingin menyelesaikan dulu kuliahnya yang hampir terbengkelai untuk kemudian bekerja dan baru akan menikah. Tetapi, rupanya sang calon suami berkehendak lain. Ali inginnya segera cepat menikah.

"Kita saling mencintai. Usia kita juga sudah matang, 25 tahun. Apa lagi? Penghasilan…? Sedikit-sedikit dari hasil nulis di koran juga sudah lumayan. Anugerah Tuhan tidak boleh disia-siakan," begitu kilah Ali.

Ali memang tipe orang yang sangat optimistis menghadapi masa depan, meski terkadang terasa kurang rasional, menurut Zahra. Dengan modal semangat idealistik, layaknya seorang pejuang, ia berhasil membujuk dan meyakinkan kedua orang tuanya untuk meminang Zahra, kekasihnya. Akan halnya Zahra, yang semula bersikeras tidak akan menikah sebelum bekerja, akhirnya luluh juga. Zahra tak kuasa menolak tali kasih cinta Ali yang hendak diwujudkan ke dalam bentuk pernikahan suci.

"Apa kata ibu nanti... ?" kembali desah Zahra. Nadanya terdengar pesimis. Ia sudah membayangkan bagaimana reaksi ibu mertuanya. Wajah dan kata-katanya tentu sangat tidak mengenakkan hati.

Terbayang kembali di hadapan Zahra bagaimana kejadian tiga setengah tahun yang lalu, saat ia hamil yang kedua kalinya. Belum sempat ia memberitahu ibu mertuanya tentang kehamilannya ini, beliau telah terlebih dahulu menegur mengapa anaknya yang pertama keburu disapih padahal belum genap umur dua tahun. Ia pun mengatakan keadaan yang sesungguhnya. Tidak disangka, ibu mertuanya menyesalkan terjadinya kehamilan itu. Dikatakannya bahwa mereka sembrono, tidak hati-hati.

"Bikin anak itu enak, gampang. Tapi ngurusnya yang susah. Apalagi ini… kamu… anak yang pertama saja masih kecil, baru satu setengah tahun. Ngurus satu saja masih kewalahan...," cerocos ibu mertuanya mengingatkan, walau sebenarnya sia-sia saja karena semuanya telah terlanjur.

"Kalian sudah dewasa…sekolah kalian tinggi... Sekarang zaman sudah maju, peralatan sudah lengkap, tinggal pilih... Mengapa kalian tidak bisa merencanakan dengan baik jarak kelahiran anak kalian?" gerutu ibu mertuanya lagi, masih menyesali keadaan.

Zahra mencoba membela diri. Dia menjelaskan kepada ibu mertuanya bahwa dia memilih tidak memakai alat kontrasepsi lebih disebabkan oleh keinginannya untuk tidak menyalahi kodrat Ilahi. Selain itu, ada kecenderungan pada diri Zahra untuk membayangkan hal-hal buruk akibat efek samping dari pemakaian alat kontrasepsi sebagaimana yang ia dengar dari beberapa pengalaman orang-orang yang pernah memakainya. Suaminya juga membebaskannya dalam mengambil keputusan. Maka, Zahra pun memilih jalan yang dipandangnya paling aman: memasrahkan semuanya kepada Tuhan. Bila dikehendaki untuk hamil akan diterima dengan senang hati, bila tidak itu berarti belum waktunya.

Namun, sang ibu rupanya tidak bisa memahami jalan pikirannya. Zahra menjadi resah dan gelisah. Perasaan itu begitu menekan di dalam dada. Kegelisahan oleh keinginan untuk terbebas dari bayang-bayang ibu mertuanya. Kegelisahan menghadapi masa depan yang belum jelas. Kegelisahan menghadapi kecemasan-kecemasan.

"Kalau...," tiba-tiba suaminya angkat bicara. Masih dengan nada ragu-ragu, "Kalau digugurkan saja... bagaimana...? Ini kan baru berumur... kurang lebih satu bulan...?"

Tersentak Zahra mendengarnya. Ditatap lekat-lekat wajah suaminya. Sungguh suatu hal yang sulit dipercaya. Tidak disangkanya gagasan seperti itu terucap dari mulut suaminya sendiri. Zahra tahu persis Ali adalah orang yang mengerti agama.

"Tidak! Seumur hidup takkan pernah kumaafkan diriku sendiri jika hal itu dilakukan. Apa pun yang terjadi…jika Tuhan memang menghendaki, maka janin ini akan tetap kupertahankan!" tegas Zahra penuh emosional. Bergidik ia tak sanggup membayangkan bagaimana janin yang terlindung aman di dalam rahimnya diambil paksa oleh tangan-tangan jahil dan tak berperasaan. Belum lagi rasa sakit yang harus ditanggungnya, juga rasa berdosa yang akan terus menderanya. Bahkan tidak hanya itu, nyawanya pun akan turut pula dipertaruhkan.

Perdebatan tidak berlanjut. Baik Ali maupun Zahra sama-sama memilih diam.

Lama mereka mendiamkan soal itu. Kira-kira sebulan sesudah perdebatan malam itu, tiba-tiba Ali menawari istrinya untuk berjalan-jalan sekeluarga. Kepada kedua anaknya dia berjanji akan membelikan mainan.

"Bagaimana Bu... nanti sore bisakah?" Ali meminta persetujuan istrinya.

"Jangan bicara sembarangan, Yah, nanti kalau anak-anak merengek betul gimana? Untuk membeli susu saja kadang nggak kesampaian, eh… kok malah menjanjikan membeli mainan?" Zahra mengingatkan, menyangsikan ajakan suaminya.

Namun, dengan wajah cerah dan tersenyum lebar Ali menunjukkan beberapa lembar uang seratus ribuan kepada istrinya. "Kalau tidak mau... ya, sudah...," dengan entengnya Ali berkata seraya menggoda.

Dan acara jalan-jalan pun menjadi kenyataan. Bahkan sejak itu menjadi kebiasaan. Rezeki sepertinya selalu datang setiap diundang. Susu untuk anak-anak tak pernah kehabisan. Bermacam-macam mainan selalu dapat Ali belikan. Belanja kebutuhan untuk Zahra juga tak ketinggalan. Susu khusus untuk ibu hamil selalu terbeli. Segala perlengkapan bayi sudah dapat dipersiapkan jauh-jauh hari. Sang suami tampak bangga dan bahagia melihat anak dan istrinya sehat dan gembira penuh suka cita.

Terbersit juga rasa penasaran dalam pikiran Zahra, dari mana Ali beroleh rezeki yang sepertinya selalu datang mengalir itu? Sempat diputuskannya untuk bertanya, tetapi diurungkan kembali niatnya, khawatir akan menyinggung perasaan suaminya.

Akhirnya, Zahra tidak terlalu banyak bertanya karena ia tetap yakin bahwa rezeki yang Ali dapatkan adalah halal jua. Siapa tahu Ali memang sedang beroleh order khusus yang berkaitan dengan profesinya sebagai penulis. Itu saja yang bisa Zahra tebak.

Atau, barangkali inikah hikmah dari kehamilan? Puji syukur dalam hati Zahra. Benarlah kiranya bahwa anak membawa rezeki masing-masing.

Roda waktu seakan diputar dengan cepat. Hari demi hari berlalu, bulan demi bulan berganti. Tak terasa bayi dalam kandungan Zahra sudah genap usia, sembilan bulan. Dengan hati gembira disambutnya hari-hari menjelang kelahiran anaknya yang ketiga. Hari-hari yang dinanti penuh debar kebahagiaan.

Tepat dua per tiga malam Zahra terbangun. Rupanya anak yang ada di dalam kandungannya sudah meronta ingin segera melihat dunia.

"Ayah…Yah...," dengan hati-hati Zahra segera membangunkan suaminya, "sepertinya sudah waktunya...," lanjut Zahra sambil merintih menahan sakit akibat konstraksi di dalam perutnya.

Tanpa banyak bertanya Ali segera mempersiapkan diri, dan mereka pun bergegas berangkat ke klinik bersalin dengan terlebih dulu pamit kepada ibu sambil berpesan agar mengurus kedua cucunya jika mereka bangun nanti.

Baru sampai setengah perjalanan, Zahra merasa keheranan, menepuk pundak Ali.

"Lho, Yah... kenapa lewat sini? Kita ke klinik Bu Aisyah, seperti biasanya, kan?" tanya Zahra, mengingatkan.

"Tidak... Kali ini kita ke klinik lain, klinik Bu Ami. Di sana lebih bagus," jelas Ali menentramkan.

"Memangnya Ayah sudah pernah ke sana…?" selidik Zahra, masih penasaran.

"Sudahlah, kita lihat saja nanti," kata Ali memutus pembicaraan, tanpa menghiraukan keheranan istrinya.

Zahra akhirnya memilih untuk diam saja, mencoba percaya pada kata-kata suaminya, walau di hatinya masih tersimpan seribu tanda tanya. Di sisi lain dia sendiri juga disibukkan oleh rasa sakit yang melilit.

Sesampai di tempat, Zahra segera dibawa masuk kamar bersalin. Persalinan dilakukan oleh seorang bidan dibantu seorang perawat. Proses persalinan berjalan lancar dan cepat.

Tidak seperti biasanya, setelah tubuhnya dibersihkan dan pindah dari kamar bersalin, bayinya tidak diperlihatkan untuk dipeluk dan diajar menyusu dalam hangatnya dekapan kasih sayang seorang ibu. Hati Zahra bertanya-tanya apa gerangan yang terjadi. Pikirannya mulai berkecamuk. Otaknya dipengaruhi oleh prasangka-prasangka buruk.

Akhirnya, karena rasa penasaran yang tak tertahankan lagi, ia menanyakan di mana bayinya. Ali memandang istrinya sebentar, lalu menunduk. Lama mereka terdiam, sampai akhirnya Ali menjawab dengan pelan.

"Sudah... diambil yang berhak...."

Dug. Jantung Zahra berdegup kencang. Panik. Ditatapnya mata Ali dalam-dalam, mencari kebenaran. Dinantinya kata-kata Ali lebih lanjut, walau ternyata sia-sia. Akhirnya, dengan terbata dan berurai air mata, Zahra hendak menegaskan, "Maksud Ayah... meninggal...?"

Tenggorokan Ali serasa tersekat. Hatinya pedih tersayat-sayat, tak tahan menyaksikan isak tangis dan duka-lara istrinya. Dipeluknya Zahra. Menetes airmata.

Tak sampai hati ia mengatakan peristiwa yang sesungguhnya, bahwa bayi tersebut telah dia jual, bahkan sejak masih dalam kandungan istrinya! ***

Sunday, May 02, 2004

Nokturno

Cerpen Aris Kurniawan

Setelah menghunjamkan belati ke jantung laki-laki itu menatap dengan mata kosong saat dia mengerjat meregang nyawa, perempuan itu menyeret dan membuang mayatnya begitu saja ke dalam semak-semak belakang rumah. Beberapa saat ia menatap tubuh kaku itu tersungkur memeluk belukar. Tubuh yang semalam lalu masih memberinya kehangatan. Perempuan itu kemudian buru-buru melucuti seluruh pakaiannya setelah mengepel ceceran darah di lantai, lantas mandi merendam tubuhnya dengan air hangat dalam bathtub. Hujan masih rintik-rintik menimpa genting dan daun-daun, suaranya terdengar bagai orkes malam yang menggores perasaan. Ia menikmatinya sambil meresapi sensasi kehangatan yang menjalari saraf-saraf sekujur tubuhnya sampai merem melek.

Kini ia telah berpakaian rapi. Bibir mungilnya dipoles lipstik warna merah jambu.Warna yang cocok untuk menyembunyikan kegugupan sekaligus kebuasan. Ia tersenyum sendiri di depan cermin, berusaha meyakinkan diri bahwa perasaannya tetap tenang. Di luar malam begitu hitam pekat. Angin basah berkesiur menggebrak jendela. Perempuan itu seperti tidak juga merasa yakin bahwa perasaannya tetap tenang. Di cermin ia menatap wajahnya yang pucat perlahan menegang, kerut merut kulit wajahnya makin mengeras. Wajah yang memperlihatkan bermacam keinginan yang tak pernah tuntas. Ia seperti melihat penggalan-penggalan peristiwa dengan banyak cerita yang kadang terlalu sulit dimengerti. Perempuan itu lantas menghembuskan nafas dengan berat, seakan ingin menghempaskan semua yang telah dilakukannya. Apakah sebenarnya yang aku inginkan dari semua yang sedang terjadi?

Wajah yang menyeringai menahan kesakitan luar biasa itu beberapa lama bagai nempel di pelupuk matanya. Ketika ia menatap wajahnya di cermin yang nampak adalah wajah kesakitan itu. Tapi perempuan itu terus menatapnya dan mencari-cari wajahnya sendiri di balik wajah yang menyeringai itu. Ia terbiasa untuk selalu berpikir rasional. Ia sudah terlatih untuk tidak sentimentil. Ia sudah piawai bagaimana menekan perasaan-perasaan kewanitaannya.

Apa saja yang sudah kulakukan untuk hidup yang runyam ini? Tiba-tiba pertanyaan itu memercik dalam kepalanyanya. Percikan yang semakin lama terasa semakin besar dan membuat kepalanya berdenyut nyeri. Ya, hidup macam apa yang tengah kujalanai ini? Apakah ada artinya untuk hidup itu sendiri? Perempuan itu menatap langit seperti mencari jawaban di sana. Tetapi langit masih saja kelam dan hampir tak menyisakan harapan. Ia mendesah. Masih mengiang ucapan laki-laki itu entah beberapa malam yang silam.

"Dasar pelacur. Pergilah sesukamu dan jangan pernah kembali?"
Ia merasa heran kenapa laki-laki itu merasa punya hak untuk mengatur hidupnya hanya karena dia telah menikahinya. Pernikahan yang dulu disangkanya akan dapat memberikan perlindungan bagi kebebasannya justru telah menjeratnya dalam sangkar yang penuh aturan. Untuk apa lembaga pernikahan itu? Apakah ia diciptakan memang untuk mengekang kebebasan seseorang?

"Siapakah yang salah?" batin perempuan itu mendesah. Ia menaikkan krah sweaternya lebih tinggi. Rambutnya yang keriting panjang dan sedikit pirang dia ikat ke belakang. Lantas menyalakan rokok, menyedot dan menghembuskan asapnya kuat-kuat. Betapa enaknya hidup ini bila kesulitan dapat dihembuskan semudah menghembuskan asap rokok, lamunnya.

Dulu sebelum laki-laki itu menikahinya dia sudah mengajukan beberapa persyaratan. Laki-laki itu sepakat. Kata suaminya pernikahan bukan untuk menyatukan dua pribadi yang memang tak pernah sama.

"Pernikahan adalah cuma sebuah sarana di mana orang harus punya komitmen untuk saling memahami, saling mengerti, saling menghargai. Tidak ada yang lebih berkuasa dan dikuasai di antara dua orang yang terikat dalam pernikahan. Kedua belah pihak memiliki hak yang sama dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama."

Di luar angin tak bersuara. Ia seperti bergerak mengendap dan berjingkat hendak meninggalkan malam yang bimbang. Perempuan itu bangkit dan menutup tirai jendela. Jam menunjuk angka dua. Sama sekali ia tidak mengantuk. Tiap malam ia hampir selalu begadang, membaca, menggunting tulisan-tulisan koran untuk dokumentasi, menulis novel, puisi, diskusi, cekikikan bersama teman-temannya yang juga sebenarnya teman-teman suaminya. Begitulah cara ia memberi makna pada hidup. Sebuah cara yang membuatnya bergairah memandang kehidupan yang terentang di hadapannya.

Apakah selama ini aku telah salah memaknai hidup? Benar dan salah, di manakah batasnya? Betapa ruwetnya hidup ini bila harus selalu dibatasi dengan benar dan salah. Astaga, sialan betul hidup kalau begitu.

Dua malam lalu dia baru saja menyelesaikan sebuah novelnya. Mengundang beberapa temannya untuk mendiskusikan di sebuah kafe. Menelepon pers untuk meliputnya. Acara itu berlangsung cukup meriah. Dia merasa bahagia. Merasa hidupnya tidak sia-sia. Sebaliknya laki-laki itu menganggapnya keterlaluan. Semaunya sendiri. Dan menuduhnya telah mengabaikan tugasnya sebagai perempuan, sebagai istri.

"Kamu telah melanggar hakku sebagai suami," kata suaminya.
"Dan kamu tidak melanggar hakku sebagai perempuan?!" balasnya sengit. Aku memang perempuan tapi aku juga punya hak menentukan pilihan hidupku, pikirnya. Kenapa hanya karena perkawinan seorang perempuan harus membatasi diri? Tidakkah itu penindasan terhadap hak asasi? Apa yang membedakan perempuan dan laki-laki sehingga mereka harus dibeda-bedakan berdasarkan jenis kelamin dalam pekerjaan, peran sosial, dan norma-norma yang tidak jelas hubungannya itu. Apa memang harus begitu? Siapa yang mengharuskan?

Dari dulu sebenarnya dia bertekad untuk tidak menikah. Baginya menikah sama saja dengan menyerahkan kebebasannya pada aturan-aturan yang tidak rasional dan diskriminatif. Dia sudah banyak menulis cerpen, esai, maupun novel untuk menuangkan gagasan-gagasannya. Dia ingin setia dengan tulisan-tulisannya. Dia membenci sebagian teman-temannya yang cuma bisa menulis sementara dalam kehidupan sehari-hari mereka menyerah dan hampir tidak ada usaha apa pun untuk merombak keadaan yang dikecamnya sendiri. Di matanya mereka tak lebih dari pembual-pembual nomor satu. Tidak punya komitmen dan cuma menjual kebohongan-kebohongan untuk menunjang hidupnya. Ya, dia melihat satu per satu teman-temannya menikah dan meninggalkannya.

"Ya menikah dan berbahagialah kalian bersama keluarga."
Dia tidak percaya bahwa pernikahan sebagai satu-satunya cara menjalani kehidupan untuk bahagia. Namun begitulah, dia juga tidak percaya kenapa kemudian dirinya harus menikah. Semuanya seperti begitu saja berlangsung. Begitu cepat, begitu tak terkendali. Sampai tiba-tiba dia mendapati dirinya sebagai ibu rumah tangga yang harus tunduk pada sejumah aturan. Harus bangun pagi-pagi, menyiapkan sarapan untuk suami, meracik kopi, mencuci, belanja ke pasar, tawar-menawar dengan penjual sayuran, menyapu halaman mengepel lantai, menyiram tanaman, bila malam melayani suami di ranjang. Wejangan-wejangan, nasihat-nasihat?

"Perempuan itu harus pintar masak. Harus pandai dandan, menjaga badan. Tidak boleh bangun, kesiangan, tidak boleh pergi sendirian, tidak boleh urakan, tidak boleh melawan tidak boleh?"

Untuk beberapa bulan ia berusaha mengikuti kebiasaan yang sudah berjalan. Belajar menikmati perannya sebagai perempuan setia meskipun dalam benaknya tak pernah percaya dengan ide semacam itu. Menganggapnya lucu. Akhirnya ia memang tidak tahan menahan-nahan kemelut dalam benaknya sendiri.

Perempuan itu menghempaskan tubuhnya ke sofa, memandang langit-langit. Di sana ia seakan mencari jalan hidup mana yang harus ditempuhnya. Tapi semuanya seakan menggelap dan sukar ditebak. Ia bangkit lagi. Malam kian larut melantunkan kesunyian yang akut. Hujan sudah selesai. Suara katak yang berirama di luar terdengar sangat merdu bagai datang masa lalu.

Perempuan itu tiba-tiba tersenyum, ada semacam kecemasan menggelikan yang tiba-tiba menyergapnya. Hidup memang penuh jebakan, batinnya. Siapakah yang telah memasang jebakan-jebakan itu? Tidakkah manusia merasa dijebak? Perempuan itu bangkit, lalu berjalan hilir mudik di tengah ruangan yang seakan bungkam dan tak mau komentar apa-apa. Biasanya ruangan ini selalu melontarkan komentar-komentar tentang penghuninya. Benda-benda pun kadang memperhatikan dan mengomentari tindakan manusia. Cara mereka merespons itulah yang tidak setiap orang merasakannya.

Pada masa remaja ia pernah pacaran dengan beberapa laki-laki. Ia heran, setiap laki-laki selalu menuntut kesetiaan. Sementara ia merasa setiap orang tidak harus setia pada seseorang. Setiap orang tidak punya hak menuntut orang lain untuk setia pada seseorang. Setiap orang lahir untuk meraih kemerdekaanya masing-masing.

"Apa hakmu memintaku setia? Aku ini orang merdeka." Begitu selalu kredonya.
Terdengar ayam jantan berkokok. Nampaknya hari menjelang subuh. Perempuan itu seperti baru tersadar dari tidur, dia tergeragap dan melangkah cepat-cepat masuk kamar. Ia telah menyiapkan tas besar dan memasukkan beberapa potong pakaian, buku-buku serta peralatan kecantikan. Lantas dengan sigap mengenakan sepatu ketsnya yang berwarna putih.

"Aku harus pergi," ucapnya pada diri sendiri.
Dia bersiap meninggalkan rumah itu tepat ketika azan Subuh melengking dari sebuah musala tua satu-satunya di kompleks perumahan itu. Namun hatinya kembali goyah. Ia memandang rumah itu dengan perasaan kosong yang sulit dijelaskan seperti apa. Diam-diam penyesalan dan rasa salah menyelinap di benaknya. Makin lama makin membesar. Perasaan yang baru kali itu dialaminya. Lantas ragu harus pergi ke mana. Lantas ia merasa semuanya tak berguna. Lantas meraih belati yang tadi digunakan untuk membunuh suaminya, menggegamnya erat-erat dengan kedua belah tangannya, lantas diangkatnya tinggi-tinggi dan diayunkannya dengan mantap ke dadanya? ***
Tangerang, 2004